
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
David bergeming, merasakan api cemburu yang begitu besar. Tapi, apalah daya dia hanya berstatus sahabat Mitha. Rasa ingin meluapkan emosi, tidak mungkin dia lakukan. Diapun harus bersikap wajar, layaknya seorang sahabat.
Mitha tersenyum canggung kearah David, lalu menghampirinya.
"Kamu belum pulang juga, Vid? Kenapa kamu kesini? Katanya kamu hanya ingin menunggu dimobil saja." Tanya Mitha heran.
"A-aku ingin ikut gabung saja, diluar dingin soalnya." Sahut David terbata.
"Ooh.. ayo duduk disini, Vid. Maaf ya, kamu tadi lihat pemandangan yang kurang mengenakkan. Aku malu sebenarnya, tapi sudah terlanjur kepergok sama kamu, mau bagaimana lagi. Maaf ya, Vid." Ujar Mitha merasa tidak nyaman. Lalu menarik lengan David untuk mengikutinya.
"It's okey, Tha. Kenapa harus minta maaf? Kalian 'kan sepasang kekasih, tidak ada hak untuk aku marah, bukan? Kamu bilang 'kan kita hanya sahabat, tidak lebih." Tutur David, menutupi rasa cemburu dalam hatinya yang sedang gelisah tak tentu arah.
"Heum.. tapi, tetap saja aku merasa kurang nyaman, Vid." Ucap Mitha lirih dengan tatapan dalam.
"Ha.. ha.. ha.." David hanya tertawa menanggapi ucapan Mitha. Sedangkan hatinya menjerit sedih.
"Duduk, Vid." Tawar Mitha, agar David duduk di kursi panjang yang terbuat dari anyaman rotan yang begitu cantik, menghadap pemandangan yang tersaji didepannya, dengan beraneka bunga anggrek dan mawar.
Namun David ragu untuk duduk, melihat Mitha dan Lucky yang duduk berdua disampingnya. Meski kursi panjang itu bisa muat untuk lima sampai enam orang, tetap saja dia merasa risih jika harus duduk berdekatan.
"Hai.. Vid, apa khabar? Kita sangat jarang berjumpa ya." Sapa Lucky ramah.
"Khabar baik, heem.." Jawab David singkat.
"Silahkan duduk Vid, pacarku 'kan tadi sudah memintamu duduk, kenapa kamu belum duduk juga?" Tanya Lucky merasa aneh.
"Ooh.. iya." Ucap David singkat, terpaksa duduk disamping mereka dengan senyum terpaksa.
David merasa gerah, duduk didekat mereka saat ini, hatinya sedang merasa sakit namun tidak berdarah.
__ADS_1
David merasa dirinya bagai obat nyamuk, mendengar suara-suara manja Lucky yang terus saja menggoda Mitha disampingnya.
"Mas.. sudah iich, memangnya kamu tidak malu apa, sama David? Risih tahu, kamu gelayutan begini." Mitha terus menggerutu, merasa tidak enak bermesraan didepan David sahabatnya, pikirnya.
"Biarkan saja, sayang. Aku sedang kangen sama kamu, aku terlalu sibuk hingga jarang bermanja-manja seperti ini."
"Ck.. tapi, lihat-lihat keadaan juga, Mas." Decak Mitha mengurai lengan Lucky agar terlepas dari tubuhnya. Kemudian dia berdiri menjauh dari mereka. Mitha teramat kesal sama Lucky, yang tidak menghormati David saat berada ditengah-tengah dirinya dan Lucky.
"Aiish.. sayang, mau kemana?" Tanya Lucky, merasa kesal saat pacarnya itu tidak berada dipelukkannya lagi.
"Aku mau pulang Mas, jika kamu tidak mau mendengarkan ucapanku." Ujar Mitha merajuk.
"Ayo Tha, kalau kamu ingin pulang." Ucap David lalu berdiri menghampirinya.
"Kamu apa-apaan sih sayang, katanya kamu ingin bercerita banyak kepadaku? Tapi, kenapa sekarang malah ingin pulang, heum?" Tanya Lucky tidak terima, jika Mitha yang sudah mengganggu kesenangannya tadi saat bersama Calista. Dengan mudahnya dia akan pergi, hanya karena tidak enak dengan David yang sedang bersamanya.
Luckypun menghampiri Mitha, hingga David sedikit bergeser dari tempatnya, karena Lucky yang menyerobot dan meraih lengan Mitha.
"Awalnya aku ingin bercerita banyak tentang Laura sahabatku dan calon suaminya, tapi sepertinya tidak untuk sekarang, Mas. Aku ingin pulang saja, kalau kamu tidak menghormati keberadaan David sahabatku." Ujar Mitha beralasan.
"Heemm.." David hanya bergumam pelan dsn tersenyum terpaksa.
"Iya sudah, baiklah aku akan cerita semuanya." Ucap Mitha, seraya berjalan kearah kursi tadi yang mereka duduki.
Lucky dan Davidpun menyusul Mitha dan duduk disampingnya.
Mitha mulai bercerita tentang Laura dan Sebastian, yang merupakan kakak kandung David dan sekaligus orang yang sudah memperkosa Laura.
Lucky hanya mengangguk dan mendengarkan dengan baik tanpa berkomentar, karena dirinya memang sudah tahu cerita itu dari Calista saat bersamanya tadi.
Mitha bercerita panjang lebar, dengan serius. Hingga wajahnya begitu terlihat bahagia, karena Laura akan segera menikah dengan Sebastian.
Tante Teresiapun sudah setuju, untuk menikahkan Laura dan Sebastian. Setelah Sebastian menceritakan semuanya, saat dirumah sakit tadi siang.
Tante Teresiapun akan meyakinkan suaminya Sofyan, agar mau menerima Laura menjadi istri dari anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Kalau Laura menikah dengan Sebastian, bagaimana dengan Calista dan keluarganya? Apa mereka akan menerimanya? Sepertinya sangat sulit, jika mereka menerima pembatalan pernikahan yang sudah disiapkan dan tinggal menghitung hari. Undangan sudah disebar, pasti mereka tidak mau menanggung malu, bukan?" Ujar Lucky membela keluarga Calista.
"Biarkan saja, itu urusan mereka. Bukan begitu, Vid?" Ucap Mitha dan meminta pendapat David.
"Iya, Tha." Sahut David singkat dengan senyum begitu menawan yang ditunjukkan untuk Mitha.
"Heeem.. " Lucky hanya bergumam pelan, menanggapi ucapan kekasihnya yang meminta dukungan David.
"Ooh.. iya, aku tadi bertemu dengan Calista di depan area parkir rumahmu, Lucky. Kata Calista, dia habis bertemu denganmu. Namun, dia ingin pulang karena tidak mau mengganggu kalian." Ujar David teringat soal Calista tadi.
"Deg.. deg.. deg.." Jantung Lucky mendadak terkejut, dirinya takut hubungan Calista dengan dirinya terendus oleh Mitha dan David.
"What? Calista, sepupunya Laura yang sedang kita bicarakan sekarang, Vid?" Tanya Mitha memastikan.
"Heum.." Sahut David dengan gumaman.
"Tapi, aku tidak melihat Calista, Vid. Saat aku masuk kedalam rumah Mas Lucky, tidak ada Calista disini. Bagaimana ceritanya, Calista bisa tahu ada aku disini bersama Mas Lucky? Benarkan, Mas Lucky!" Seru Mitha meminta pembenaran ucapannya kepada Lucky pacarnya.
"A-anu.. i-itu.. a-aku tidak tahu, s-sayang. M-mungkin Calista ada perlu denganku soal pekerjaan, karena melihat kita ada disini berdua, diapun langsung pergi dan tidak jadi menemui kita." Ucap Lucky terbata, lidahnya terasa sulit untuk berbicara. Tapi, sedetik kemudian dia pandai mencari alasan.
"Tidak mungkin, Lucky. Mobilnya sudah terlebih dahulu datang, dibanding mobilku. Dia terlihat panik saat mobilku menghalangi mobilnya yang tidak bisa keluar." Bantah David dengan kenyataan yang memang dia alami tadi.
Mitha nampak menimbang-nimbang pernyataan David, diapun mencari kebenaran dimata Lucky.
Sedangkan Lucky jadi salah tingkah, saat dirinya terpojok tidak bisa berkelit dan menyangkal ucapan David.
"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Mas Lucky?" Tanya Mitha nampak aneh, dengan mata Lucky yang tidak berani menatapnya.
Selama Mitha mencari kebenaran dimata Lucky, dia nampak gelisah dan menghindari tatapan mata Mitha.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1