
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Papa Sofyan menyambut baik kedatangan Laura, dengan tangan terbuka dan penuh kehangatan.
Seketika Laura tampak menangis bahagia, saat dirinya diperlakukan dengan begitu baik oleh keluarga Sebastian.
Laura tidak menyangka, dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu dan hanya berasal dari kalangan orang rendah dan tidak memiliki apa-apa, bisa diterima oleh seorang kaya raya pemilik beberapa restoran yang tersebar luas di Jakarta bahkan diluar kota seperti Papa Sofyan.
"Sebastian, ajak sini calon istrimu yang cantik itu duduk disamping kami." Pinta Papa Sofyan dengan melambaikan tangannya.
Sebastianpun menggandeng tangan Laura untuk menghampiri kedua orangtuanya tersebut.
"Sini sayang, duduk disini jangan sungkan." Ucap Mama Teresia dengan begitu lembut.
"Iya, Tante." Ucap Laura dengan tersipu malu.
"Mulai sekarang, kamu panggil kami Papa dan Mama, okey!" Seru Teresia dengan tersenyum merekah.
"I-iya, Tan.. Eeh, Mama." Ucap Laura masih gugup.
"Jangan gugup, sayang. Rileks saja, okey!" Bisik Teresia gemas melihat calon menantunya yang masih saja gugup dan malu.
"I-iya, Mama." Ucap Laura sedikit masih gugup.
"Hi.. hi.. hi.. biarkanlah, wajar masih gugup, nanti kalau sudah terbiasa juga pasti akan hilang rasa gugupnya." Teresia tertawa kecil, karena calon menantunya itu masih saja gugup saat berbicara dengannya.
David dan Mithapun berjalan kearah mereka berempat, dengan tersenyum hangat lalu menyapa mereka.
"Selamat malam, Tante Teresia dan Om Sofyan." Sapa Mitha ramah, lalu mencium punggung tangan mereka dengan hormat.
"Selamat malam juga, Nak Mitha cantik." Balas sapa Teresia dengan ramah mengulurkan tangannya, lalu diikuti pula oleh Sofyan.
Setelah itu Mitha dan David, duduk disofa yang tidak berada jauh dari mereka.
Sedangkan Jenifer langsung berjalan menuju kamarnya, setelah menyapa kedua orang tuanya dan berpamitan kepada Laura dan Mitha.
"Vid.. celana kamu belum ganti loh, terus baju kamu emangnya betah ya, pakai baju casualku." Bisik Mitha yang teringat bahwa David masih memakai celana kemarin malam.
__ADS_1
"Iya, sayang! Kamu mau ikut kekamarku, tidak? Temani aku yuk, biarkan mereka berempat bicara santai dan agar lebih nyaman." Bisik David menggoda dengan beribu alasan.
"Hiss.. enak saja, apa kata mereka nanti? Dasar mesum!" Umpat Mitha berbisik tak terima ajakan David, namun wajahnya bersemu merah.
"Ha.. ha.. ha.. ya sudah, aku kekamarku dulu ya, jangan kangen nanti." Tawa David puas, melihat wajah Mitha yang menggemaskan dengan pipi yang mendadak merona.
"Hu'em.. iya, sana." Mitha mendorong bahu David yang masih saja duduk disampingnya, begitu berat untuk bangkit.
Akhirnya Davidpun bangkit dari tempat duduknya, lalu berpamitan kepada mereka berempat.
Laura mulai berbincang dengan Sofyan dan Teresia dengan begitu akrab, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Sofyan. Ada seutas senyum terus terukir dari bibir Sofyan, takkala Laura menjawab pertanyaannya dengan begitu detil.
"Jadi, sampai detik ini, jenasah kedua orang tua Nak Laura belum ditemukan?" Tanya Sofyan merasa ada yang janggal.
"Iya, Pah. Setelah pencarian dua bulan itu, team SAR memutuskan untuk menutup kasus pencarian Momie dan Papie saya. Setelah kasus pencarian mereka ditutup, saya akhirnya pasrah dan menerima jika kedua orang tua saya telah tiada karena kecelakaan pesawat naas itu." Ungkap Laura dengan gamblang.
"Selama ini, apakah Nak Laura pernah bermimpi dan berdoa, agar bisa bertemu dengan kedua orang tua, Nak Laura?" Tanya Teresia menanggapi.
"Belum pernah Mah, nanti aku coba berdoa untuk mereka agar bisa dipertemukan didalam mimpi, hikkz.. hikkz.. hikkz.." Tutur Laura dengan air mata yang sudah meluncur bebas dipipinya.
"Iya, sayang. Anggaplah kami juga seperti orang tuamu, yang akan selalu menyayangi kamu." Tutur Teresia dengan penuh kasih sayang.
"Sudah, sayang jangan menangis lagi. Mulai detik ini, kami adalah orang tua kamu juga. Jangan pernah lupa itu, okey!" Seru Teresia bersemangat.
Sebastian dan Mitha yang melihat Teresia dan Sofyan begitu menyayangi Laura, merekapun ikut bahagia dan terharu. Mithapun ikut menangis bahagia melihat Laura sahabatnya dikelilingi oleh keluarga yang begitu hangat dan penyayang.
"Kalian pasti belum makan malam, bukan? Ayo, kita makan malam bersama, sayang." Ajak Teresia menggandeng lengan Laura menuju ruang makan.
"Iya, Mah." Ucap Laura cepat, dengan tersenyum bahagia.
Teresiapun tidak lupa mengajak Mitha. "Ayo, Nak Mitha, kita makan malam bersama."
"Iya, Tante." Sahut Mitha cepat dengan melemparkan seutas senyuman.
Merekapun sudah menempati bangku kosongnya masing-masing, para ART keluarga Sofyanpun langsung menyiapkan berbagai menu masakan yang sudah diminta oleh Teresia dari siang tadi, untuk menyambut kedatangan calon menantunya.
"Bi Jujun tolong panggilkan Jenifer dan David untuk segera makan malam." Titah Teresia ramah.
"Baik, Nyonya." Ucap Bi Jujun cepat.
"Terima kasih, Bi Jujun." Ucap Teresia.
__ADS_1
"Sama-sama, Nyonya." Bi Jujun langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan tersebut.
"Bi Mimin dan Bi Darmi, terima kasih sudah menyiapkan semua ini dengan begitu banyak menu masakan." Ucap Teresia ramah, lalu Laura dan Mithapun mengikutinya.
Sedangkan Sebastian dan Sofyan hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Iya... sama-sama, Nyonya, Tuan dan Nona." Ucap Bi Mimin dan Bi Darmi, kemudian kembali kedapur.
Tidak berselang lama, Jenifer dan Davidpun datang menghampiri mereka yang akan segera makan malam bersama.
David nampak segar dengan rambut basahnya, sehabis mandi tadi dikamarnya. Dia memakai baju santai dengan celana pendek sedengkul.
Begitu pula Jenifer, nampak segar dengan balutan baju tidurnya yang berwarna pink, terlihat cantik dan sweet.
"Kalian lama sekali dikamar, apa yang kalian lakukan?" Tanya Teresia kesal dengan anak-anaknya yang tidak keluar sedari tadi.
"Aku habis mandi, Mah" Sahut David dan Jenifer bersamaan.
"Iya.. sudah, kalian duduk, ayo kita mulai makannya." Titah Teresia pada akhirnya.
David duduk disamping Mitha, sedangkan Jenifer disamping Sebastian.
"Laura sayang, makan yang banyak jangan malu-malu dan sungkan disini, anggap saja seperti dirumah sendiri. Nak Mitha juga, ayo dimakan jangan sungkan juga." Ujar Teresia ramah.
"Iya, Mah." Ucap Laura cepat dengan mengukir senyum.
"Iya, Tante." Mithapun menjawab dengan cepat.
Merekapun menghabiskan makan malam dengan berbincang-bincang dengan penuh keakraban, sesekali dengan penuh candaan dari bibir David yang senang sekali menggoda Mitha.
"Hari minggu besok, jadi yang menikah dengan anak Mama, Sebastian yaitu Laura Casandra. Besok siang Mama yang akan mengantar Sebastian dan juga Laura ke KUA untuk mendaftarkan nama kalian yang akan menikah secara Agama dan Negara."
"Okey, Mah." Ucap Sebastian cepat, lalu menggenggam tangan Laura dengan lembut.
Laurapun tersenyum dan tersipu malu, saat Teresia mengungkapkan apa yang akan dilakukan besok untuk persiapan pernikahan dirinya dengan Sebastian, yang seharusnya menjadi pernikahan Calista sepupunya.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1