Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Mencari Cela


__ADS_3

♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️


🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Lucky menghampiri Laura yang masih tercekat, karena dirinya begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.


"Kenapa? Kamu shock, Laura Casandra? Apa kamu berpikir ini mimpi, hah? Ha.. ha.. ha.." Lucky tertawa jahat saat melihat wajah Laura yang tercekat dengan wajah ketakutan.


"L-lucky..! Kenapa kamu melakukan ini? Kanapa kamu menyekapku ditempat ini? Apa salahku kepadamu, Lucky? Apa kamu membenciku, karena hubungan kamu yang kandas dengan Mitha?"


"Ha.. ha.. ha.. aku tidak membencimu sama sekali, Ra." Tawa Lucky mendekatkan wajahnya dihadapan Laura.


"Singkirkan wajahmu, Lucky! Aku tidak habis pikir, kamu tega merusak kebahagiaanku, sahabat kekasihmu dulu. Apa yang kamu inginkan dariku, Lucky?" Ujar Laura dengan tatapan benci dan sebal kepada Lucky.


"Aku tidak menginginkan apa-apa, Ra. Aku sungguh kasihan sama nasib kamu, nasib yang selalu membuat kamu terpuruk dan hancur dengan menyedihkan." Ungkap Lucky dengan gamblang.


Laura menatap Lucky tak percaya, dia sungguh tak mengira jika Lucky bisa berkata seperti itu. "Kalau memang kamu kasihan sama aku, kenapa kamu melakukan semua ini, hah? Sekarang lepaskan aku, agar aku bisa memaafkan kamu, Lucky. Aku janji tidak akan mengatakan apapun soal semua ini kepada siapapun, termasuk suamiku sendiri."


"Tidak bisa, Ra! Kamu itu sandraan Tuan Samudra, om kamu sendiri. Aku hanya bekerja untuknya, untuk menjalankan tugasku sebagai anak buahnya."


"Kamu kejam, Lucky! Dimana hati dan perasaan yang tulus dan baik selama ini, yang kamu berikan untuk Mitha dan juga aku sahabatmu?"


"Cukup, Ra! Aku tidak ingin mendengar ocehanmu itu."


"Ha.. ha.. ha.. dasar kamu pengecut, Lucky! Kamu itu sama seperti pesuruh yang tidak punya harga diri, hati nurani dan..." Ucapan Laura terhenti, saat Lucky membentaknya dengan keras.


"CUKUP, LAURA!" Sela Lucky memotong ocehan Laura.


"Apa kamu sudah siap menemui ajalmu, sekarang juga, hah? Kalau kamu masih sayang nyawamu, bisakah kamu tetap diam dan ikuti kemauan kami. Kamu harus makan itu sekarang juga. Kalau tidak, jangan salahkan kami berbuat yang tidak-tidak kepadamu." Sambung Lucky menghardik Laura dengan mengancamnya.


"Hikks.. hiks.. hikks.." Tanpa terasa wajah Laura, sudah dibanjiri oleh air mata yang begitu tak tertahankan lagi. Air mata yang begitu menyedihkan takkala mengetahui fakta dibalik penyekapan yang sedang dialaminya saat ini.


"Dasar cengeng!" Umpat Lucky meninggalkan Laura yang menangis. Hati Lucky sebenarnya tidak tega melihat Laura menangis dihadapannya. Bagaimanapun, dia pernah mengenal Laura sebagai sahabat mantan kekasihnya, Mitha yang dekat dengannya.


"Lucky.. Lucky, jangan pergi... jangan tinggalkan aku. Lucky.. aku mohon lepaskan aku!" Lirih Laura seakan tidak bertenaga lagi, saking shocknya dirinya saat memikirkan kata-kata Lucky tadi.

__ADS_1


"Om Samudra, kenapa kamu tega kepadaku? Hikks.. hiks.. hikks.. Om sudah mengusirku dari rumahku sendiri, tanpa rasa belas kasih dan iba. Sekarang, kenapa om juga menyekapku?" Gumam Laura begitu sedih mengingat semua perlakuan jahat sang paman.


Pria yang bertubuh tinggi besar dan berwajah dingin itupun, ikut meninggalkan Laura kembali seorang diri.


"Heii.. kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut sendirian dalam keadaan gelap." Teriak Laura dengan sisa tenaga yang masih ada.


"Aku akan menemanimu, jika kamu mau makan sekarang." Ujar pria dingin itu, tanpa membalikkan tubuhnya yang memunggunginya.


"Iya, baiklah, aku akan segera makan, bukakan ikatan tanganku dulu." Ucap Laura menuruti perintah pria tersebut dengan terpaksa.


Pria dingin itupun, akhirnya membalikkan tubuhnya demi melihat Laura memakan makanannya yang sudah disiapkannya tadi.


"Nah, begitu kek dari tadi! Kamu harus makan dan tetap sehat, Nona." Ujar pria dingin itu tersenyum menyeringai kearah Laura, kemudian membukakan tali ikatan tangan Laura.


Laurapun hanya diam kemudian menikmati makanan tersebut, meski hatinya ingin segera melarikan diri dari tempat tersebut.


Beberapa saat kemudian, Laurapun sudah menghabiskan makanan dan minumannya tersebut. Tubuhnya sudah tidak lagi lemah, dan tenaganya cukup kuat untuk rencana melarikan diri dari tempat tersebut.


"Om.. atau Pak.. atau apalah, saya ingin buang air kecil. Apakah boleh?" Tanya Laura dengan wajah meyakinkan.


"Silahkan saja, tapi awas jangan lama-lama!" Ujar pria dingin tersebut.


"Mari, ikuti saya."


Laurapun mengikuti langkah kaki pria tersebut, hingga tibalah dia didepan toilet. Mata Laura mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dengan meneliti situasi.


Ada dua orang penjaga didepan pintu keluar, sedang berdiri begitu gagahnya. Laura masih mencari cela, bagaimana cara dia meloloskan diri dan keluar dari tempat tersebut. Mamun harapannya begitu tipis, karena ketatnya penjagaan rumah tersebut.


"Ayo, cepat masuk, Nona!' Teriak pria itu dengan lantang, karena Laura tidak langsung masuk kedalam toilet.


"Eeh.. iya, Om. Galak banget sih, om, hi.. hi.. hi..." Kikuk Laura terkikik.


"Awas ya, Nona! Jangan macam-macam, apa lagi ada pikiran ingin kabur dari tempat ini." Ancam pria dingin itu dengan wajah begitu menakutkan.


"Iya, Om! Mana berani saya kabur. Tapi, Om harus temani saya terus. Saya takut dikamar sendiri, saya takut kegelapan." Terang Laura.


"Heeem.. nanti saya temani."

__ADS_1


Laurapun masuk kedalam toilet, diapun memang ingin buang air kecil, setelah itu dia menghubungi nomor Mitha yang memang dia hanya mengingat nomornya.


Laura mengirimi pesan lewat aplikasi hijau, lalu mensharelock alamat dirinya disandra saat ini. Setelah selesai, Laura segera menghapus pesan tersebut untuk meninggalkan jejak, karena ponsel yang dipakainya adalah milik pria dingin tersebut yang diam-diam Laura ambil saat pria dingin itu lengah.


Laurapun tidak ingin berlama-lama didalam toilet, karena dirinya takut pria itu curiga dan menyadari ponselnya kini sedang tidak bersamanya.


*******


Mitha, David dan Sebastian, baru saja kembali kerumah kediaman Sofyan Maha Putra. Mereka sedang bersiap-siap mendatangi rumah Samudra, untuk menanyakan langsung Laura yang semalam menghilang.


"Ding.." Bunyi pesan masuk.


["Mitha, tolong aku. Aku disekap oleh Lucky dan Om Samudra. Aku akan kirim sharelock alamatnya."]


[Sharelock alamat tempat Laura disandra.]


Mitha begitu tercekat, saat membaca pesan yang masuk dari nomor tidak dikenal. Dia berpikir, itu pesan dari Laura dari nomor ponsel orang lain. Tapi, Mitha masih ragu, kalau memang Laura disekap, bagaimana caranya dia bisa mengirim pesan dan sharelock alamat tersebut.


"Tunggu, Vid, kak Sebastian." Panggil Mitha yang menghentikan langkah kaki Sebastian dan David seketika.


"Kenapa, sayang?" Tanya David dan Sebastianpun ikut bertanya.


"Iya, ada apa, Nona Mitha?"


"Ada pesan masuk dalam ponsel aku, tapi tidak ada namanya."


"Apa isinya, sayang?"


"Iya, Nona Mitha, apa isinya?" Tanya mereka berdua bergantian.


"Ini, silahkan dibaca oleh kamu, Vid dan kak Sebastian."


"Haaah..? Lucky dan Tuan Samudra? Benarkan feelingku! Jika Tuan Samudra adalah dalang penculikkan istriku."


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2