
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
"M-mama..!" Seru Sebastian dan David bersamaan, saat mereka melihat wajah Mama Teresia yang datang bersama Calista dengan tatapan membunuh.
Sebastian lantas bangkit dari posisi duduknya, menarik bangku yang kosong dan mempersilahkan Teresia menempati bangku tersebut.
Sedangkan Laura dan Mitha hanya tersenyum canggung dan bergeming, shock saat mendengar Sebastian dan David menyebut kata Mama kepada wanita yang baru saja datang dengan wajah garang dan murka.
Teresia duduk dibangku tersebut dengan anggunnya, lalu mengomel kepada Sebastian yang tidak peka terhadap Calista.
"Sebastian.. kenapa kamu membiarkan calon istrimu terus berdiri? Apa kamu tidak punya rasa iba kepadanya, heuh?" Tanya Teresia ketus kepada anaknya yang tidak peka pikirnya. Karena Calista hanya berdiri saja disampingnya.
"Calista 'kan bisa menarik bangkunya sendiri, Mah. Dia punya tangan sendiri, bukan?" Ujar Sebastian menolak.
"Iish.. kamu itu, bisa saja membantah! Dia itu calon istrimu, memangnya apa salahnya kalau kamu bersikap manis kepadanya, heum?" Omel Teresia menatap Sebastian kesal.
"Eemh.. tidak apa-apa Tante, saya bisa narik bangku sendiri." Ucap Calista cepat, saat sorot mata Sebastian menghunus tajam matanya.
Sebastianpun tersenyum miring, karena Calista mengerti dengan tatapan mematikannya.
Calista menggerutu sendiri, saat dirinya sudah duduk tepat disamping Teresia.
David hanya tersenyum kecut, dengan calon istri terpaksa kakaknya itu.
"Apa yang kalian lakukan disini? Kamu David, kenapa tidak kuliah? Lalu kamu Sebastian, kenapa ponsel kamu tidak diangkat-angkat saat Mama hubungi kamu?" Tanya Teresia geram, menunjuk kedua anak laki-lakinya, dengan telunjuk tangan kanannya bergantian.
Sedangkan Calista hanya menatap Sebastian lapar, ingin rasanya dia menarik Sebastian dari tempat duduknya sekarang juga. Namun, dirinya tetap bersikap selayaknya gadis terhormat dan berkelas di hadapan calon mertuanya.
"Aku sedang ada urusan, Mah." Kilah David beralasan.
"A-aku tidak sedang membawa ponsel, Mah. Ponselku tertinggal di rumah sepertinya." Sahut Sebastian jujur, karena saat dia diajak oleh David untuk menemui Laura, dirinya tergesah-gesah hingga melupakan ponselnya.
"Lalu siapa mereka? Apa yang sedang mereka lakukan disini?" Tanya Teresia dengan nada kurang menyenangkan.
"Mereka teman kampusku, Mah. Kenalin Mah, ini Laura dan ini Mitha." Sahut David mengenalkan mereka dengan senang hati.
"Ooh.. begitu! Jadi mereka teman kampus kamu, David." Ujar Teresia sedikit ramah, saat dirinya tahu, mereka adalah teman kampusnya David.
__ADS_1
Laura dan Mithapun akhirnya menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Salam kenal Tante, saya Mitha dan saya Laura teman satu kampus David. Senang bisa berkenalan dengan Tante." Ucap Mitha dan Laura bergantian dengan tersenyum manis.
"Tante juga senang, berkenalan dengan gadis cantik seperti kalian." Ucapnya ramah menerima uluran tangan mereka.
"Terima kasih, Tante! Tante juga sangat cantik dan anggun." Ucap Mitha memuji dan Laurapun mengatakan yang sama seperti Mitha memuji Teresia.
"Aduh.. kalian bisa saja, saya jadi melayang dipuji kalian." Ucapnya tersipu malu dengan wajah memerah.
Calista yang melihat Laura dan Mitha seakan sedang bersikap manis kepada Teresia, diapun mengumpat kesal. "Ssiit.. menyebalkan!"
Sedangkan David dan Sebastian mengulum senyum, saat Mitha dan Laura bisa mengambil hati Mamanya dengan mudah.
"David.. dimana Berliana? Kenapa dia tidak ikut bersamamu juga? Bukankah kalian satu kampus?"
"Deg.." Jantung David berdebar, saat Teresia menyebut nama mantan pacarnya.
Laura dan Mithapun ikut dag dig dug, saat David harus menjawab kenyataan pahit tentang kandasnya cinta David dan Berliana.
"Aku sudah putus dengannya, Mah." Jawab David pelan.
"Kenapa? Sejak kapan kalian putus? Bukankah, kemarin minggu kalian masih bersama?" Tanya Teresia tidak percaya.
"Aiish.. Berliana! Cantik-cantik selingkuhin anak tampan Mama." Decak Teresia menggerutu.
"Sudahlah Mah, tidak usah dibahas engga penting." Ucap David, agar melupakan masalahnya.
"Heem.. tapi, kamu baik-baik saja, bukan?" Tanya Teresia menelisik anaknya dengan jelas.
"Iya Mah, anak laki-laki tidak boleh cengeng, bukan begitu kak Sebastian?" Sahutnya seraya meminta pembenaran kakaknya.
"Betul, dik!" Serunya Sebastian dengan mengangguk kecil.
"Iya.. iya, kalian memang harus seperti itu, jika salah satu pasangan kita berselingkuh. Ini baru namanya anak Mama!" Seru Teresia bangga.
"Ha.. ha.. ha.." Tawa David dan Sebastian puas dengan melihat ekspresi wajah Teresia.
Mitha dan Laurapun ikut tersenyum, melihat kedua pria tampan itu tertawa begitu bahagia, meski sebenarnya hatinya tidak ada yang tahu.
Sedangkan Calista tersenyum masam, dirinya merasa tersindir karena membahas pacar David yang berselingkuh. Diapun merasa was-was, jika hubungannya dengan beberapa pria akan terbongkar oleh Sebastian.
__ADS_1
"Mama mau pesan makanan, tidak?" Tawar Sebastian.
"Tidak! Mama mau ajak kamu bersama Calista, membeli beberapa perhiasan untuk mas kawin pernikahan kalian." Ujar Teresia dengan gamblang.
"Deg.." Jantung keempat orang itu seketika berdetak lebih kencang.
Mitha dan Laura begitu terkejut, sedangkan Sebastian dan David merasa kasihan dan tidak enak hati kepada Laura.
Sebastian takut, Laura akan pergi meninggalkannya dan tidak ingin menemuinya lagi. Sebastian takut hal itu terjadi, mengingat Mama Teresia mengatakan hal pernikahannya dengan Calista yang sedang bersamanya.
"Ooh.. mama hampir lupa, belum mengenalkan calon menantu Mama yang cantik ini." Ucap Teresia.
"Ayo Calista sayang, berkenalan dengan teman kampus David." Ujar Teresia dengan begitu sayang.
"Iya.. Tante." Ucapnya.
Lalu, Calistapun mengulurkan tangannya kearah Mitha dan Laura dengan terpaksa.
"Perkenalkan aku calon istrinya kak Sebastian, nama aku Calista Casandra." Ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa..? Casandra!" Tanya Laura dengan wajah penasaran.
"Iya.. aku Calista Casandra anak tunggal dari Samudra Casandra dan Maya Frisila." Ucapnya bangga.
Seketika saja Laura shock membulatkan matanya dan membekap mulutnya, dengan kedua tangannya. Laura hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Calista merasa aneh dengan wanita yang diajaknya berkenalan, diapun mengerutkan dahinya heran.
Begitu juga dengan David dan Mitha, ikut terkejut dengan nama orang tua yang baru disebutkan oleh Calista.
David dan Mitha mengetahui nama Samudra Casandra, adalah nama paman Laura yang sudah mengusir Laura saat dia masih berusia tiga belas tahun saat itu.
Sebastian dan Teresia hanya terdiam, mereka tidak mengerti dengan raut wajah ketiga orang yang ada dihadapannya, terlihat shock.
"Apa? Kamu anak dari Samudra Casandra, hah..? Orang yang begitu keji dan kejamnya sudah mengusir Laura dari rumahnya sendiri." Tanya David dengan merutuki Papi Calista itu.
"Haah.. ? Apa yang kau katakan, David? Jangan sembarangan kau memfitnah Papiku!" Tanya Calista tidak terima dengan tuduhan David kepada Papinya.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--