Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Mimpi


__ADS_3

♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️


🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Kedatangan Laura dan Mitha kekediaman Tuan Sofyan, bukan semata-mata hanya diminta berkunjung saja. Namun, Laura akan melakukan prosesi luluran dan siraman untuk acara adat setempat.


Sebagaimana yang dilakukan oleh para pengantin lainnya, satu hari sebelum acara pernikahan pastinya akan ada ritual acara prosesi tersebut yang harus dijalani oleh kedua calon mempelai.


Berhubung Laura anak yatim piatu, Teresia meminta Laura untuk melakukan ritual tersebut bersama Sebastian dirumahnya. Lalu meminta Mitha juga untuk menemani Laura, agar tidak merasa canggung dan risih.


Setelah acara ritual luluran dan siraman, Laura dan Sebastian dipisahkan untuk tidak bertemu sebelum esok pagi acara pernikahan.


Sebastian dikamar ditemani oleh David dan Papa Sofyan, sedangkan Laura detemani oleh Mitha, Jenifer dan Mama Teresia.


"Bagaimana rasanya sayang, setelah menjalani serangkaian acara siraman tadi?" Tanya Teresia yang baru saja datang, membawa segelas ramuan rempah untuk Laura.


"Lumayan gugup, Mah." Laura hanya menjawab seperlunya tanpa banyak berucap, dirinya baru mengalami dimanjakan dan diperlakukan layaknya ratu.


"Kamu harus minum ramuan ini, sayang. Ramuan yang bagus dan berkhasiat, calon suami kamu juga minum ini," Ujar Teresia menyodorkan satu gelas minuman ramuan yang berasal dari rempah-rempah tradisional, yang sedikit terasa pahit dan hangat.


"Ini ramuan apa, Mah? Kenapa warnanya begitu pekat dan baunya menyeruak sekali?" Tanya Laura aneh, baru pertama kali melihat dan mencium bau minuman seperti itu.


"Ini ramuan dari zaman Mama dan Papa dulu sebelum menikah, sayang. Ramuan ini bisa menyegarkan dan memberikan stamina, untuk kamu menjalani serangkaian acara pernikahan besok." Ungkap Teresia dengan gamblang.


"Ooh.. begitu Mah, berarti minuman ini sangat berkhasiat ya Mah?"


"iya, sayang. Ayo, jangan ragu-ragu langsung diminum dan dihabiskan. Rasanya sedikit pahit tapi ada sensasi hangatnya, nanti setelah minum ini, kamu minum air jahe ini untuk hilangkan rasa pahitnya."


"Baik, Mah." Ucap Laura menurut, diapun meminum ramuan itu dengan sekali teguk, lalu setelah itu meminum air jahe untuk menghilangkan rasa pahitnya.


"Bagaimana rasanya, sayang?"


"Lumayan pahit Mah, tapi langsung hilang setelah minum air jahe ini."


"Iya itu memang penawarnya, sayang. Iya sudah, kalian lekas tidur. Jangan begadang, sekarang Mama akan matikan lampu kamarnya."


"Okey, Mah." Sahut Laura, Mitha dan Jenifer bersamaan.


Merekapun akhirnya tidur bersama dalam satu kamar dengan kasur berukuran besar tersebut.


Laura begitu merasa bahagia malam ini, bisa tidur bersama Teresia sang calon mertuanya. Rasa rindu kepada momie Alisa Maurin dan Dadie Samuel Casandra begitu besar, saat-saat seperti ini.


Hati Laura begitu perih, jika mengingat sepintas masa-masa indah bersama kedua orang tuanya dulu. Dirinya begitu bahagia saat kedua orang tuanya masih ada, namun perjalanan hidupnya begitu berat tanpa mereka.

__ADS_1


"Momie, Dadie, malam ini adalah malam paling membahagiakan untuk Laura. Hikkz.. hikkzz.. malam yang mengingatkan Laura kepada Momie dan Dadie. Tolong hadir dalam mimpi Laura, Momie dan Dadie." Lirihnya Laura bergumam pelan, saat matanya hendak terpejam. Namun, butiran air bening keluar dari kedua sudut mata indahnya.


*******


Meninggalkan kamar Laura yang sudah berseluncur dalam mimpinya, Sebastian dan David, malah sulit sekali memejamkan matanya.


"Kak, kenapa aku tidak bisa tidur ya? Tidak seperti Papa yang mudah sekali tidur tuh."


"Sama dik, aku juga masih belum bisa tidur. Apa Laurapun seperti aku ya, dik?"


"Entahlah, kak!"


"Kalau menurut kamu dik, apa kakak telpon dia atau tidak?"


"Jangan kak, nanti ada Mama. Bukankah kakak sedang tidak boleh bertemu dengan kakak ipar? Besok baru boleh, kak. Sudah rindu berat kayaknya, he.. he.. he.."


"Ck.. ck.. kayak tidak tahu saja kamu, dik. Yang namanya rindu ya rindu, biarkan baru tadi siang bertemu."


"Aiish.. iya.. iya, kakakku lagi bucin akut, he.. he.. he.."


"Ha.. ha.. ha.. sudahlah aku coba menghayalkan dia saja, siapa tahu saja bisa tidur dan bermimpi bertemu dengannya malam ini."


"Huem.. iya, kak. Good night, sweet dream"


"Terima kasih, dik. Good night too."


*******


"Ini untukku, Momie?" Tanya gadis kecil itu.


"Iya, sayang. Ini kado dari Momie dan Dadie untuk gadis kecil Momie dan Dadie yang cantik nan pintar."


"Sungguh 'kah, Momie.. Dadie?"


"Iya, sayang. Kenapa? Kamu sepertinya tidak menyukainya?"


"Suka, Momie.. Dadie. Apakah tahun depan, aku akan mendapatkan kado seperti ini lagi?"


"Tentu saja, sayang. Seandainya kamu tidak mendapatkan kado yang seperti ini lagi, kamu bisa cari Momie dan Dadie dipantai ini. Kamu pasti akan bertemu Momie dan Dadie kembali, sayang."


"Kenapa seperti itu, Momie.. Dadie?"


"Karena pantai ini, yang menyebabkan kamu tidak mendapatkan kado seperti ini lagi."


"Baiklah, Momie.. Dadie. Aku akan menagih janji kalian, jika kalian tidak memberiku kado ulang tahunku tahun depan."

__ADS_1


"Iya.. sayang, sekarang kami pergi dulu. Jangan lupa pesan Momie dan Dadie ya, sayang."


"Momie dan Dadiie, mau kemana? Kenapa kalian pergi? Jangan tinggalkan aku, Momie.. Dadie."


"Moooomiieee... !"


"Daaaadiiiieee...!"


Seketika saja Mitha, Teresia dan Jenifer terbangun saat mendengar Laura berteriak menyebut Momie dan Dadienya.


"Ra... Laura... Laura... bangun, Ra... !" Seru Mitha membangunkan Laura dengan mengguncangkan tubuh Laura, yang masih mengigau menyebut nama Momie dan Dadienya.


"Iya, sayang. Bangun, sayang.. !" Tambah Teresia yang begitu khawatir dengan calan menantunya dengan tubuh bergetar dalam tidurnya, memanggil kedua orang tuanya. Nampak peluh mengucur diseluruh wajahnya, padahal AC dikamarnya begitu dingin dengan suhu delapan belas derajat celcius.


Jenifer hanya termangu melihat calon kakak iparnya yang seperti sedang mimpi buruk, pikirnya.


"Aaahhh..." Teriak Laura tersadar dari tidurnya, saat tubuhnya merasakan guncangan.


"Hikkzz... hikzz.. hikzz... Mama.. Mitha, hikkz.. hikkzz.." Lirih Laura menangis dipelukkan mereka.


"Apa yang terjadi, sayang? Kenapa tubuh kamu sampai bergetar seperti ini? Apakah kamu sedang mimpi buruk? Mengapa kamu menyebut nama Momie dan Dadie kamu, sayang?"


"A-aku mimpi bertemu Momie dan Dadie, Mama. Hikkzz.. hikkz..."


"Apa yang dikatakan oleh mereka, Ra?" Tambah Mitha menyambung pertanyaan Teresia.


"A-aku harus menemui mereka dipantai, tempat terakhir kali aku dan mereka merayakan ulang tahunku, Tha."


"Jangan-jangan itu pertanda, jika kedua orang tuamu berpesan dalam mimpimu, bahwa mereka masih hidup."


"Waah.. bisa jadi, sayang. Apa yang dikatakan nak Mitha, bisa saja benar, sayang."


"A-apa? Jadi, kedua orang tuaku masih hidup, Tha.. Mama?"


"Huem.. bisa jadi."


"K-kalau memang seperti itu, setelah acara pernikahan selesai, izinkan aku untuk pergi kesana ya, Mama." Ucap Laura masih saja bergetar.


"Iya, sayang. Mari kita kesana, sekalian pergi merayakan bulan madu kalian disana."


"Terima kasih, Mah." Ucap Laura memeluk Teresia dan Mitha, lalu Jeniferpun ikut memeluknya.


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2