
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...
Seusai menangis bersama, Mitha masih berusaha untuk meyakinkan lagi Laura, agar mau membatalkan tuntutannya.
Dengan mengurai pelukkan Laura, kemudian Mitha menghapus jejak air mata yang masih tersisa dipipinya. Begitupun dengan Laura, melakukan yang sama kepada Mitha.
"Ha.. ha.. ha.." Keduanyapun tertawa lega, seusai menangis. Sungguh mereka adalah dua sahabat yang benar-benar sejati.
Setelah dirasa keduanya mulai tenang, suasana sedikit lebih baik untuk Mitha berbicara kepada Laura.
"Ra.. kali ini, aku mau ngomong serius sama kamu. Please.. benar-benar serius, jadi kamu engga boleh potong dan bantah ucapan aku dulu, ok!"
"Kamu mau ngomong apa, Tha? Apa ini menyangkut pria itu?"
"Heemm.. makanya kamu dengerin dulu kata-kataku, Ra!"
"Baiklah.. kali ini, aku akan dengerin kata-kata kamu, Tha. Tapi, kalau aku masih kekeh sama pendirianku, kamu harus tetap terima keputusanku, oke?"
"Baiklah, deal!" Ucap Mitha lalu menautkan jari kelingking tangannya dengan tangan Laura seraya mengulum senyum.
"Deal.. !" Laurapun ikut mengucapkannya.
Mithapun dengan lirih dan perlahan menceritakan bagaimana nasibnya kelak, jika apa yang dilakukan Laura bisa berakibat fatal.
Nama baik Laura dan Sebastian dipertaruhkan, Laura dan Sebastian akan menjadi santapan semua media masa dan Televisi.
Masalahnyapun bisa terendus sampai kampus, Laura pasti akan dikeluarkan secara tidak terhormat. Belum lagi kedua orang tua Sebastian pasti tidak akan tinggal diam untuk mengeluarkan Sebastian dari penjara.
Keluarga Sebastian cukup mudah, tidak terlalu sulit untuk mengeluarkan anaknya. Bagaimanapun, faktanya kekuasaan dan materi masih diatas segalanya.
Apa lagi Mitha memberikan peringatan terpahitnya. Jika Laura masih ngotot untuk menuntut Sebastian masuk penjara, keluarganya pasti akan membenci Laura dan mempersempit ruang geraknya.
__ADS_1
Sebastian bukan orang dari keluarga sembarangan, jika ada sedikit saja maaf dari Laura untuk Sebastian, sudah dipastikan Sebastian akan langsung menikahi Laura.
Mitha tidak ingin, Laura mengalami kesulitan nantinya, apa lagi kalau sampai sahabatnya itu hamil. Laurapun seketika mengernyitkan dahinya masih menimbang-nimbang ucapan Mitha sahabatnya.
"Memangnya pria itu bersungguh-sungguh ingin menikahiku atas tanggung jawab kesalahannya padaku, Tha?" Tanya Laura sedikit bingung.
"Sungguh Ra, kak Sebastian memang ingin menikahi kamu dari awal sebelum dia melakukan itu. Dia ingin menghindari pernikahan, yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita yang dia sebut sebagai ular betina itu."
"Ular betina? Maksudnya?" Tanya Laura masih heran.
"Ular betina, julukan yang diberikan oleh Jenifer, saat bercerita semalam, Ra. Kamu juga 'kan mendengar sendiri, bukan?"
"Heeemm.. iya sih, kalau tidak salah dengar, Jenifer menyebut-nyebut nama ular betina." Ucap Laura mangut-mangut mengingatnya.
"Apa kamu tidak takut, jika kamu hamil nanti, kak Sebastian sudah menikah dengan ular betina itu? Aku yakin jika kak Sebastian dipenjara karena tuntutan kamu, paling lama dua kali dua puluh empat jam sudah bisa keluar. Lalu diapun takan pernah menemui kamu lagi dan terbebas dari tanggung jawab untuk menikahimu, karena kamu yang sudah menolaknya."
"Deg.." Kata-kata Mitha seakan menusuk kedalam hatinya.
Bagaimana tidak kalutnya pikiran Laura, semuanya seakan berputar dipikirannya. Semua ucapan Mitha ada benarnya, hingga diapun memikirkan ulang niatnya itu.
"Seandainya aku tidak jadi menuntut pria itu, apa aku harus menikah dengannya? Aku tidak mencintainya, bahkan tidak mengenalnya sama sekali, Tha."
"Mengapa kamu bisa seyakin itu, Tha?" Sorot mata Laura menatap tajam manik Mitha sahabatnya, mencari jawaban yang akan membuat dirinyapun yakin dengan ucapan Mitha.
"Aku yakin Ra, karena kak Sebastian menangis didepanku dengan sepenuh hati mengungkapkan rasa cinta yang dia pendam selama ini kepadamu. Diapun tahu, kamu tidak pernah berpacaran dengan pria manapun, hal itu yang membuat dirinya ragu untuk menyatakan cintanya padamu. Lalu diapun memilih mengagumimu dalam diam." Ungkap Mitha dengan gamblang.
"Deg.." Lagi-lagi Laura jantungnya terus berdebar-debar, antara takut dan cemas jadi satu, namun ada rasa terenyuh saat tahu pria itu mengagumi sosoknya.
"Heeemm..." Hanya itu yang Laura gumamkan, menutupi rasa berdebar dalam hatinya.
"Ra.. apa kamu sudah berubah pikiran, heum..? Kamu tahu sendiri David sahabat kita selama ini, bukan? Apa kurangnya dia coba, sudah baik sama kita berteman cukup lama hampir tiga tahun kita bersama. Adiknya Jeniferpun begitu terlihat baik, sepertinya diapun akan menyayangimu, kelak."
"Tapi, Ra.. kalau orang tuanya tidak setuju, bagaimana? Aku 'kan tidak sederajat dengan keluarga David."
"Itu urusan kak Sebastian, yang akan menyelesaikannya. Kak Sebastian lebih tahu untuk mengatakan kebenaran kepada keluarganya. Sebenarnya kuncinya ada pada kamu, Ra. Jika kamu mau menikah dengan kak Sebastian, maka kak Sebastian akan langsung menikahimu tanpa menunggu lagi."
__ADS_1
"Tapi, kalau aku tidak hamil, Ra? Aku sudah terlanjur menikah dengannya. Apakah aku boleh meninggalkannya?"
"Kalau kamu tidak hamil, kalian 'kan bisa membuatnya jika menginginkannya."
"Aissh.. bukan itu, Tha. Maksud aku, kalau aku tidak hamil, aku rugi dong, Tha. Tidak bisa membuat pria itu masuk penjara dan malah menikmati kebebasan hidupnya."
"Ha.. ha.. ha.. seiring berjalannya waktu, aku yakin kamu akan membalas cinta kak Sebastian. Aku berani taruhan, atau bersumpah, Ra."
"Ha.. ha.. ha.. kamu terlalu yakin dan percaya diri sekali, kawan!" Seru Laura menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sahabatnya, bisa mengatakan seenteng itu.
"Andai aku belum punya Mas Lucky, Ra. Aku sudah pasti langsung jatuh hati, untuk pertama kalinya melihat kak Sebastian, Ra. Wajahnya yang tampan sungguh pesona yang begitu menarik, impian semua gadis diluar sana."
"Apa kamu sudah tidak waras, Tha? Hanya gara-gara pesona wajah tampan pria itu?"
"Heemm.. dari tadi kamu tidak pernah memanggil namanya kak Sebastian, selalu memanggil pria itu dan pria itu terus. Memangnya kamu begitu sulit untuk menyebut nama kak Sebastian, heum..?"
"Memangnya harus menyebut namanya, Ra?" Tanya Laura heran.
"Harus dong, itung-itung latihan kalau nanti kamu sudah menikah dengannya."
"Aiish.. kamu itu benar-benar ya, Tha! Eeem.. andai aku tidak bisa mencintainya, malah rasa benciku semakin besar kepadanya, bagaimana, Tha?"
"Bercerailah dengan kak Sebastian, kalau kamu memang kelak tidak bisa mencintainya, meski sudah menikah dengannya."
"Lalu, aku akan menjadi janda dalam usiaku yang masih muda ini, hah..?" Tanya Laura kesal.
"Tapi 'kan statusmu jelas, meski bercerai dan menyandang status janda nantinya. Dari pada sekarang, jika ada yang tahu kamu sudah diperkosa. Sudah dipastika kamu akan dibuli habis-habisan, sebagai cap gadis bukan perawan, he.. he.. he.."
"Aiish.. jahat banget mulut sahabatku ini, jika sudah berbicara menyayat hati bagaikan belati."
"Makanya, mau ya menerima tawaran menikah dengan kak Sebastian? Kalau mau, aku akan hubungi David saat ini juga untuk meminta kak Sebastian datang kepadamu.
Dengan bibir dan tubuh yang bergetar, sedikit terbata Laurapun mengucapkan kata. "E.. eemm.. iya."
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--