Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Izin Sakit


__ADS_3

♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️


🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sebastian mengantar Laura kekampus sepulangnya dari KUA, waktu kelas makulnya masih ada waktu.


Teresia menunggu didalam mobil, saat Sebastian turun membukakan pintu mobil untuk Laura.


Setelah Laura turun dengan dibantu oleh Sebastian, diapun mengangguk kecil dan tersenyum mengembang kepada Teresia. "Mama, hati-hati dijalan ya, sampai jumpa lagi." Ucap Laura tulus.


"Iya, sayang. Kamu juga hati-hati ya, dikampus. Titip salam juga buat Mitha ya, sayang." Sahut Teresia dari dalam mobil.


"Iya, Mama." Sahut Laura dengan anggukkan kecil.


"Nanti pulang kakak jemput ya, sayang?" Ujar Sebastian.


"Iya, kak."


"By.. by.." Ucap Sebastian melambaikan tangannya , saat dia hendak naik kedalam mobilnya.


"Hati-hati dijalan ya, kak."


"Iya, sayang."


Sebastianpun pergi membawa mobilnya, setelah Laura berjalan menjauh masuk kedalam gerbang kampus.


Terlukis senyuman manis yang begitu indah dari bibir Sebastian, selama perjalanan pulang kerumahnya mengantar sang Mama.


"Duh.. senangnya liat wajah kamu yang bahagia selalu, sayang." Selorohnya Teresia menggoda.


"He.. he.. he.. Mama tahu saja kalau Sebastian sedang bahagia."


"Tahulah, selama ini 'kan Mama tidak pernah melihat kamu bahagia."


"Wiih.. Mama sok tahu iih, kapan coba Mama lihat aku tidak pernah bahagia?"


"Setiap hari kamu tidak pernah bahagia, selalu ketus dan dingin kepada wanita yang Mama kenalkan kepada kamu."


"Kalau aku ketus dan dingin kepada semua wanita yang Mama kenalkan kepadaku, bukan berarti aku tidak bahagia. Memang aku tidak tertarik kepada semua wanita yang sudah Mama jodohkan untukku, karena aku sudah menambatkan hatiku kepada Laura, Mah."


"Kalau memang kamu dari dulu sudah menyukai Laura, kenapa kamu tidak mengatakannya kepada Mama dan Papa?"


"Aku belum siap dan takut Laura akan menolakku, Mama."

__ADS_1


"Iya sudah, mungkin semua ini harus kita lewati, semua butuh proses menuju pendewasaan." Ucop bijak Teresia.


"Iya, Mama. Terima kasih Mama sudah mendukung dan merestui kami."


"Iya, sayang. Mama pasti akan mendukung kamu untuk kebaikan kamu. Mama takut kamu itu tidak menyukai seorang wanita, makanya Mama dan Papa bersih keras ingin mencarikan jodoh yang terbaik untuk kamu."


"Iya, Mah. He.. he.. he.."


*******


Laura langsung memasuki ruangan kelasnya, yang sudah penuh dengan teman-temannya. Pemandangan yang tidak biasapun Laura melihatnya kini.


"David.. tolong minggir ya, ini tempat dudukku." Pinta Laura mengusir David yang sudah menempati tempat duduknya.


"Aduh.. calan kakak ipar, tolong deh kamu didepan kami duduknya, tempat biasa aku duduk tuh."


Sontak saja, teman-teman kelas mereka riuh dan tercekat, saat mendengar David memanggil Laura dengan sebutan calon kakak ipar.


"Apa, Vid? Laura calon kakak ipar kamu? Apa aku tidak salah dengar? Baru saja kita tercekat dengan kamu yang sekarang pacaran sama Mitha, sekarang Laura calon kakak iparmu. Woow.. amazing." Tanya Jani antusias.


"Iya tuh, Vid. Benarkah?" Timpal yang lainnya mengikuti.


"Iya, benar." Sahut David jujur, dengan melemparkan senyuman terbaiknya.


"Haaaah..." Riuh semua teman-teman sekelasnya.


"Iya, kapan tuh diresmiinnya?" Timpal yang lain ikut berkomentar.


"Diundang pastinya, hari minggu ini ya. Jangan lupa datang kerumahku. Nanti alamat rumahku dishare lewat grup chat, okey!"


"Okey..!" Seru semua teman-teman satu kelasnya.


"Woow.. dua hari lagi dong? Kenapa Laura masih masuk kuliah? Memangnya tidak melakukan persiapan menjelang pernikahan?" Tanya Jani kembali.


"Iya, benar tuh apa kata jani." Timpal yang lainnya.


"Itu sih soal gampang, semua sudah beres. Mungkin besok calon kakak iparku dan kami mulai mengambil surat izin."


"Laura yang mau menikah, kenapa kalian juga ikutan mengambil izin?" Tanya Jani memyindir.


"Kami akan ikut membantu dan menemani Laura dong."


"Ooh.. iya lupa, Laura 'kan anak yatim piatu. Sudah pasti tidak ada yang akan membantunya, kecuali kalian. Up's maaf, keceplosan!" Sindir Jani dengan tersenyum puas, lalu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


Seketika saja, suasana mendadak hening saat Jani mengungkap status Laura yang merupakan anak yatim piatu.

__ADS_1


Jani adalah teman semasa SMP Laura dan Mitha, sedari dulu dia tidak pernah menyukai mereka. Jani tidak menyukai persahabatan mereka yang begitu dekat hingga kini.


"Memangnya kenapa kalau Laura anak yatim piatu, hah? Memangnya Laura merugikan situ? Laura juga tidak minta makan dan biaya hidup sama situ, kenapa situ yang usil?" Hardik Mitha dengan pertanyaan yang memojokkan Jani.


Sontak saja Jani bungkam, tidak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Mitha benar-benar membuat teman-teman sekelasnyapun setuju dengan Mitha.


"Betul tuh apa kata Mitha, Jani. Laura tidak merugikan kita dan tidak pernah membebani kita. Apa salahnya jika Laura anak yatim piatu?" Seloroh salah satu teman kelasnya, yang kemudian diangguki oleh yang lainnya.


David dan Laurapun hanya tersenyum kecil, saat mendengar Mitha begitu membelanya. David bangga dengan sahabat dan sekaligus kekasihnya itu. Laurapun merasa beruntung memiliki sahabat yang begitu baik dan seperti saudara baginya.


"Selamat siang semuanya, mohon untuk duduk ditempatnya masing-masing." Salam Ibu Dosen Rika.


Sontak saja, mereka membubarkan diri saat berkerumun ditempat duduk Mitha dan David. Merekapun kembali ketempat duduknya masing-masing, begitu pula dengan Laura yang terpaksa harus duduk dibangku David.


"Selamat siang juga, Ibu Dosen...." Jawab semua Mahasiswa yang mendengar suara Dosen mereka memberi salam.


Dosen Rikapun kemudian duduk di bangkunya, lalu tersenyum kecut kepada Mitha dan David.


"Mitha dan David, kemana saja kalian, sampai dua hari tidak masuk kelas?" Tanya Dosen Rika menatap tajam.


"I-itu Bu Dosen, kemarin kami keluar kota." Sahut Mitha gugup.


"Keluar kota? Kalau kalian keluar kota, kenapa tidak mengabari pihak sekolah, hah?"


"Maaf bu Dosen, soalnya mendadak ada saudara yang sedang sakit." Selorohnya David sekenanya.


Mitha dan Laurapun seketika menatap David yang sedang berdusta kepada Dosen Rika.


"Saudara yang sakit? Sakit apa?"


"Sakit hati, Bu Dosen. Up's. bukan Bu... eeh... " Celetuk David keceplosan, lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Seketika teman-teman sekelasnya, langsung riuh saat mendengar jawaban David. "Sakit hati.. !"


"Apa kamu bilang, David? Sakit hati? Siapa yang sakit hati, hah?" Tanya Ibu Dosen Rika penasaran.


"Tidak ada yang sakit hati, Bu Dosen. Saya tadi hanya salah bicara saja." Sahut David santai.


"Iya sudah, lain kali jika kalian ada keperluan mendadak dan harus keluar kota, tolong memberi kabar pihak kampus. Apa kalian mengerti?"


"Iya, Bu Dosen. Kami minta maaf. Besok kami akan ambil izin lagi, untuk membantu persiapan pernikahan kakak kandung saya dengan Laura Casandra, Bu Dosen."


"Haah..? Baru izin dua hari kemarin, sekarang sudah mau izin lagi?"


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2