
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...
Saking senangnya Mitha, karena Laura yang setuju atas semua saran dan nasehatnya. Mithapun bergegas untuk menghubungi David.
Setelah Mitha selesai menghubungi David, tidak berselang lama hanya sekitar satu jam saja, David datang bersama Sebastian.
David sengaja membawa Sebastian untuk mengetahui lagi bagaimana reaksi Laura kini, jika mereka bisa berbicara berdua.
Sesampainya mereka dirumah sakit, Sebastian hanya menunggu di dalam mobilnya. Kali ini David menumpang didalam mobil BMW mewah Sebastian keluaran terbaru tahun ini, yang harganya sedikit menjerit bagi orang-orang dikalangan biasa.
David berjalan menuju ruangan UGD dengan semangat empat lima, betapa bahagianya David hingga tidak sabar untuk bertemu mereka, sahabat yang sudah terjalin selama tiga tahun itu.
Mitha dan Laura tengah terlihat bersiap-siap untuk segera keluar dari ruangan UGD. Davidpun langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu, karena pintu ruangan UGD yang sudah terbuka lebar.
"Pagi Laura.. pagi Mitha..." Salam sapa David, dengan senyuman merekah.
"Pagi David.." Mitha dan Laura menjawab salam sapa David yang terlihat ceria.
"Kamu datang sendirian saja, Vid? Katanya tadi pas ditelpon, mau mengajak kak Sebastian?" Tanya Mitha yang celingak-celinguk mencari sosok Sebastian.
Begitu juga dengan Laura, entah mengapa dirinya ingin sekali bertemu dengan pria itu, meski hatinya masih belum sepenuhnya bisa memaafkan kesalahannya.
David yang mendengar pertanyaa Mitha dan melihat Laura juga yang hanya terdiam tapi seperti mencari sosok kakak kandungnya itu, seketika saja langsung tertawa puas. "Ha.. ha.. ha.. kalian merindukan kakakku ya? Memang wajah kakakku itu selalu bisa membuat para gadis merindukannya, apalagi kalau sudah tersenyum, para gadis bisa klepek-klepek dibuatnya." Ujar David memuji kakaknya.
"Ck.. David.. David, kenapa kalau ngomong suka benar sih? Ha.. ha.. ha.." Decak Mitha ikut menimpali dengan tawanya.
Sedangkan Laura hanya tersenyum canggung, menghadapi kedua sahabatnya yang selalu bisa mencairkan suasana.
"Ha.. ha.. ha.. habis sih kalian mencari pria yang tidak ada, padahal sudah ada pria tampan yang berdiri dihadapan kalian. Apa kalian tidak ingin menyambutku dengan pelukkan gitu?" David tertawa menanggapi candaan Mitha, dengan menyombongkan dirinya yang merasa tampan, lalu merentangkan kedua tangannya yang minta dipeluk.
Mitha dan Laurapun seketika saja langsung memeluk David dengan perasaan rindu, sahabat yang sellalu menguatkan satu sama lainnya.
__ADS_1
"Selamanya kita akan selalu bersahabat, tanpa melepaskan dan tanpa ada saling cinta selain persahabatan diantara kita, okay!" Ucap Mitha dengan tegas dan lantang, masih dalam mereka berpelukkan.
"Okay.. !" Sahut Laura dengan lantang pula, seraya mengurai pelukkannya.
"Okay.. !" Sahut David lirih sedikit tidak bersemangat, seakan tidak ingin melepas pelukkan Mitha saat ini.
Mitha yang menyadari sahabatnya David tidak begitu bersemangat saat mengucapkan kata okay, diapun menatap lekat kedua manik sahabatnya itu yang berwarna hazel dengan tatapan lembut.
"Vid..." Panggil Mitha lirih, lalu kedua tangannya menangkup kedua pipi David dengan pelan.
"Iya.. Tha." David menyahut, lalu saling menatap dalam mata mereka.
Warna mata Mitha yang hitam dan sedikit sipit, terlihat begitu indah dan cantik oleh David kini.
"Ada apa dengan kamu, heum? Kenapa kamu tidak begitu bersemangat, seperti Laura? Biasanya kalian berdua berteriak paling kencang, jika aku memekik kata Okay, heum..?" Tanya Mitha yang sedikit aneh dengan sikap David yang tidak seperti biasanya.
David menggelengkan kepalanya pelan, dirinya tidak mungkin mengatakan ada perasaan lain yang tumbuh begitu saja saat ini. Dirinya memilih bungkam, karena tidak ingin mengganggu hubungan Mitha dengan pacarnya Lucky, pikirnya.
"Okay.. !" Dengan cepat David langsung berteriak kata itu.
"Ha.. ha.. ha.. begitu dong, Vid! Ini baru David sahabatku yang aku kenal." Mitha tertawa kencang dan Laurapun ikut tertawa juga.
"Kalian sudah siap-siap pulang, bukan? Tunggu sebentar aku yang bayar admininstrasinya saja." Ujarnya meninggalkan ruangan UGD menuju tempat pembayaran administrasi rawat dan inap.
Mitha dan Laura mengangguk kecil tanda mengiyakan ucapan David.
Selesai melakukan pembayaran, David menemui mereka yang masih menunggu di ruang tunggu lobby rumah sakit.
"Apa kalian sudah siap?" Tanya David ramah.
"Sudah dong, Vid. Terima kasih ya, sudah bayarin biaya rumah sakit Laura." Ucap Mitha senang.
"Iya Vid, terima kasih ya sudah bayarin biaya rumah sakit aku." Ucap Laura kemudian.
"Sudah kewajiban aku sama kak Sebastian, Tha, Ra.. untuk membayar biaya rumah sakit ini. Kalian tidak usah berterima kasih dan sungkan kepadaku, kayak sama siapa saja. Kalian anggap aku apa, kalau segitu saja kalian mengucapkan terima kasih." Ujar David merengut, kedua sahabatnya seakan sungkan menerima bantuannya.
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha.. iya Vid.. iya, jangan manyun gitu dong, jelek tahu!" Mitha tertawa melihat David yang mengerucutkan bibirnya kesal, seraya menjawil dagu David pelan.
Sedangkan Laura hanya mengulum senyum, melihat David yang merengut.
"Biarin.. manyun juga, nanti aku cium bibir kamu yang ranum itu, heumm... biar kamu engga menertawakan aku lagi, he.. he.. he.." Kekeh David menyembunyikan hatinya yang berdebar-debar.
Sontak saja Mitha langsung terdiam, saat David melontarkan kata ciuman kepadanya. Laurapun sedikit tersetak, dengan apa yang baru saja didengarnya keluar dari mulut David.
Melihat reaksi wajah kedua sahabatnya yang berubah, terlebih keshock. Davidpun langsung buru-buru mencairkan situasi yang sedang dilanda galau.
"Bercanda kali.. wajah kalian serius sekali he.. he.. he.." Ucapnya terkekeh menutupi rasa canggungnya.
"He.. he.. he.. engga ko Vid, biasa saja kali!" Ucap Mitha pada akhirnya. Laurapun merasa lega, karena David hanya bercanda.
"Apakah kita langsung pulang, atau cari makan dulu di restoran dekat sini?" Tanya David saat mereka hendak berjalan kearah area parkir mobil.
"Terserah kamu, Vid. Sebanarnya sih lapar, he.. he.. he.." Ujar Mitha terkekeh.
"Kalau kamu Laura, apa mau cari makan juga sama kayak Mitha?" Tanya David kemudian.
"Boleh Vid, aku rasa aku juga mulai lapar, sudah waktunya jam makan siang." Jawab Laura ikut setuju.
"Iya sudah, nanti aku bilang kak Sebastian mampir ke restoran dekat sini." Kata David santai.
"Deg.." Jantung Laura berdebar begitu kencang, saat dirinya mendengar David mengatakan nama Sebastian.
"Ooh.. aku kira kak Sebastian tidak jadi datang, kenapa kamu meninggalkan kak Sebabtian sendirian, Vid?" Tanya Mitha heran.
"Kak Sebastian masih takut, kalau-kalau Laura tidak jadi mau menemuinya dan takut histeris lagi saat bertemu kembali nantinya." Tutur David jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Menurut kamu bagaimana Laura, kata David kak Sebastian masih takut sama kamu, takut kamu berubah pikiran untuk menemuinya." Ujar Mitha menanggapi apa yang dikatakan David.
Laura seakan gugup saat pertanyaan Mitha begitu menyentuhnya. Akhirnya diapun memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya. "A.. aku sudah siap untuk menemui kak Sebastian."
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--