
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...
Betapa David dan Mitha begitu terkejutnya, dengan Laura yang menyatakan dirinya mau menemui Sebastian saat ini.
"Benarkah Laura? Apa aku tidak salah mendengarnya?" Tanya Mitha dengan tersenyum mengembang.
"Heeum.. Tha." Laura bergumam pelan dengan mengulum senyum. Laura ingin mencoba menegarkan hatinya, dia ingin mengenal dulu siapa Sebastian dan seperti apa pria yang sudah mengaguminya diam-diam.
"Syukurlah, Ra. Aku ikut bahagia." Ucap David ikut menimpali, dengan senyuman lebarnya.
"Heeum.. Vid." Laurapun bergumam pelan dengan ucapan David. Laura berpikir sejenak, apa mungkin kelak dia akan menjadi kakak iparnya David yang tidak pernah terpikirkan olehnya sama sekali.
"Ayo kita langsung cus saja." Ajak David menyambar tangan Mitha tanpa disadarinya. Lagi-lagi Mitha terperangah dengan cara dan sikap David kepadanya, namun David seakan lupa melihat ekspresi wajah Mitha saat ini.
"Vid.." Panggil Mitha pelan.
"Heum.. Tha." Sahutnya.
"Lepasin dong tanganku, kenapa tanganku saja yang kamu pegang? Tangan Laura kenapa dibiarkan menganggur?" Tanya Mitha sedikit ngegas.
"He.. he.. he.. lupa, Tha. Ayo Laura, yang sebentar lagi jadi calon kakak iparku. Mulai sekarang aku harus biasain panggil kakak ipar berarti, Ra.!" Seru David dengan terkekeh atas ketidakberdayaan hatinya yang entah mengapa selalu diluar kendali, pikirnya.
Davidpun langsung meraih jemari Laura, lalu mereka berjalan bertiga dengan David ditengah-tengah kedua gadis cantik itu, saling bertautan jari jemari mereka dengan rasa sahabat yang begitu kuat.
Sesampainya diarea parkir mobil milik Sebastian, Laura terlihat nampak baik-baik saja, meski hatinya tidak ada yang tahu. Laura yang melihat Sebastian sedang berdiri tegap membelakangi mereka disamping mobil mewahnya itu, hatinya sedikit merasakan perasaan yang limbung, mendadak demam panggung dan tidak yakin.
Sosok tubuh tinggi besar ideal yang sebelas dua belas dengan David, namun Sebastian lebih tinggi sedikit mungkin dua sampai tiga cm diatasnya.
"Eehemm... kak Sebastian." Deheman David mampu membalikkan tubuh tegap Sebastian seketika.
__ADS_1
Dengan wajah yang teramat tampan dan mempesona, Sebastian bak pangeran berkuda yang hendak menghampiri sang putri untuk menaiki kuda besinya.
Penampilan Sebastian mampu membuat kedua gadis itu ternganga. Terbukti dengan mata kedua gadis itu, yang tidak berkedip sedari tadi.
Sebastian tersenyum, dengan manik matanya yang berwarna hazel, nampak begitu membuat Laura dan Mitha terdiam dan terhipnotis.
"Hei.. hei.." David memekik didepan kedua sahabatnya itu, dengan menjentikkan jari tangannya didepan mata mereka.
David tidak habis pikir, mengapa kedua sahabatnya itu seperti belum pernah bertemu dengan pria tampan saja. Padahal dirinyapun sebelas dua belas dengan kakaknya Sebastian. Mungkin saja karena efek baju dan dasi yang dikenakan Sebastian yang nampak berbeda.
Memang Sebastian dimanapun dan kapanpun selalu berpenampilan rapi dan wangi. Laurapun seketika teringat dengan wangi tubuh Sebastian, yang saat malam itu menyeruwak kedalam indra penciumannya.
"W- wangi itu..." Ucap Laura terbata yang hampir saja membuatnya limbung saat sudah berdekatan dengan Sebastian, yang wangi tubuhnya dia hirup dalam-dalam.
Laura memegangi kepalanya yang sedikit pusing, karena wangi tubuh Sebastian yang seketika saja dia mengingatnya.
Sontak saja David dan Mitha yang berada lebih dekat dengan Laura, cepat-cepat menangkap tubuh Laura yang hampir terjatuh kebawah.
"Ra.. apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mitha dan David bergantian dengan begitu panik.
"I- iya aku baik-baik saja, Tha, Vid." Ucap Laura sedikit gugup. Jantungnya sungguh berdebar-debar, entah mengapa jantungnya begitu cepat memompa, hingga dirinyapun merasa canggung dihadapan pria yang teramat dibencinya saat itu.
Laura mengernyitkan dahinya, ketika melihat ketiga orang didepannya menatap resah dan panik kepadanya.
"K- kalian kenapa? Aku baik-baik saja ko! Aku siap berbicara dengan kak Sebastian sekarang juga." Ujar Laura mencoba bersikap tenang.
"What? Apa benar yang dikatakan Laura? Aku tidak sedang bermimpi bukan, dik? Coba cubit lenganku, dik" Tanya Sebastian merasa shock dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Laura, wanitanya.
Dengan senang hati dan tersenyum devil, Davidpun tanpa ragu lagi langsung mencubit lengan Sebastian dengan gemasnya, hingga menyisakan warna merah dikulit lengannya itu.
"Aawww.. sakit!" Pekik Sebastian meringis kesakitan.
"Ha.. ha.. ha.. katanya minta dicubit? Ya aku cubit dong, kak!" Seru David tertawa puas melihat ekspresi Sebastian yang meringis kesakitan.
__ADS_1
"Tapi kamu terlalu kencang nyubitnya, dik! Sepertinya memang kamu sengaja ya?" Sinis Sebastian kesal dengan adiknya, yang membuat dirinya benar-benar merasakan pedas dikulitnya.
Laura dan Mithapun terlihat tersenyum melihat kelakuan kedua kakak beradik itu, yang sedang meributkan hal sepele.
"Vid.. kamu benar-benar, lengan kak Sebastian itu sampai merah." Ujar Mitha yang memang melihat lengan Sebastian begitu merah dilengannya yang putih dan kekar.
"Hais.. kamu sangat perhatian sekali sama kak Sebastian, Tha. Coba kalau aku yang kayak gitu, kamu mana pernah perhatian sama aku." Ucap David mendadak cemburu kepada kakaknya Sebastian.
"Ish.. ish.. issh.. kamu kenapa, Vid? Apa kamu cemburu sama kak Sebastian? Memangnya kamu siapa aku? Lucky pacarku saja jarang cemburu." Tanya Mitha spontan keluar dari bibirnya tanpa melihat keseriusan diwajah David sama sekali.
Mitha selalu berpikir, David itu bercanda kepadanya. Hingga ucapan David tidak pernah Mitha anggap serius sama sekali.
Laura tersenyum canggung dan Sebastian membalas dengan senyuman begitu dalam, hingga dirinya menggaruk tengkuknya yang tidak minta digaruk padahal. Hati Laura dan Sebastian sama-sama sedang berdebar-debar, andai saja mereka saling mengetahuinya.
"Ha.. ha.. ha.. sudah kalian bertengkarnya, kita jadi pulang, bukan?" Ujar Sebastian tertawa menyembunyikan hatinya yang masih berdebar-debar menahan gejolak asmara kepada Laura.
"Kita mau cari makan siang dulu, kak. Nanti kakak cari restoran terdekat dari sini." Kata David.
"Ooh.. iya sudah baiklah kalau begitu, ayo masuk mobil. Siapa yang mau temani saya didepan?"
"Laura saja, kak!" Seru Mitha semangat dengan senyuman menawannya.
Laura menatap sengit Mitha, yang membuatnya salah tingkah karenanya.
"Iya.. Ra, belajar dari sekarang. Biar nanti kalau sudah menikah, engga canggung lagi." Kata David ikut mendukung ucapan Mitha.
Tanpa kata, Laurapun mengikuti ucapan dua sahabat konyolnya yang sudah membuatnya tidak bisa berkutik.
Sebastian dengan pelan membuka pintu mobilnya, untuk Laura masuk kedalamnya. "Silahkan masuk, nona Laura yang cantik." Ucap Sebastian dengan suara yang begitu maskulin terdengar.
Uuuh.. meleleh seketika hati Laura. "T- terima kasih, kak." Ucapnya dengan senyuman canggungnya.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--