Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Dalang Penculikkan Laura


__ADS_3

♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️


🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sebastian dan David mencari Samudra ditempat pesta, ternyata mereka terlambat. Samudra sudah tidak ada disana, mungkin saja dia telah pergi sebelum Sebastian dan David kembali setelah dari ruang CCTV demi mencari bukti, pikir mereka.


"Kita terlambat, dik! Sepertimya Samudra sudah meninggalkan tempat ini setelah lampu menyala dan Laura menghilang." Ujar Sebastian dengan kecewa.


"Iya, sepertinya begitu kak." Sahut David ikut kecewa.


"Kak.. bagaimana kalau kakak hubungi Calista, siapa tahu saja dia tahu dimana Laura diculik." Sambung David memberi usul.


"Hiss.. apa kamu sudah tidak waras, dik? Calista dan Samudra 'kan sama-sama membenci keluarga kita, mana mungkin dia akan memberitahu kita."


"He.. he.. he.. iya juga ya, kak! Kenapa aku tidak berpikir kearah sana? Bisa-bisanya memberi usul yang buruk." Kekeh David menyadari kebodohannya.


"Iya, sudah kita pikirkan nanti saja. Yang terpenting saat ini kita harus temui Papa dan Mama, kakak khawatir mereka berpikir keras dengan kejadian ini."


"Baiklah, kak. Ayo, kita segera temui mereka."


Sebastian dan Davidpun akhirnya memutuskan untuk menemui mereka. Mitha dan Jenifer nampak resah, karena Laura masih belum juga ditemukan.


"Sayang, kalian kenapa lama sekali? Kemana Laura menantu Mama?" Teresia yang cemas menanyakan keberadaan sang menantu, yang baru saja resmi tadi pagi.


"Eeh.. iya, Mah. Tadi ada sedikit masalah, tapi Mama jangan khawatir dan jangan berpikir yang berat-berat. Kalau Sebastian boleh bicara sama Mama bertiga sama Papa dikamar Hotel, maukah Mah, Pah?"


"Mau bicara apa? Kenapa tidak disini saja? Lagi pula mereka 'kan adik-adik kamu, Mithapun akan menjadi calon adik ipar kamu, sayang."


"Bukan seperti itu, Mah. Lagi pula, para tamupun hanya tinggal beberapa orang saja. Mereka sudah banyak yang meninggalkan pesta, setelah lampu tadi menyala. Nanti biar dik David yang mengurusi para tamu." Ujar Sebastian dengan gamblang.


"Iya, Mah! Benar kata kak Sebastian, biar aku yang mewakili para tamu yang masih ada bersama Mitha dan dik Jenifer." Tutur David ikut menimpali.


"Eemm.. tapi.." Ucap Theresia terhenti.


"Sudahlah, Mah. Ikuti saja kemauan anak-anak kita." Ucap Sofyan memotong kata-kata sang istri.


Akhirnya Theresiapun berhenti bicara, diapun mengangguk kecil dan menyetujui usulan sang anak untuk segera meninggalkan pesta menuju kamar Hotel yang memang sudah disewa oleh keluarga Sofyan Maha Putra lengkap dengan pesta Pernikahan Sebastian dan Laura yang megah dan mewah namun berakhir dengan berantakan.


Sesampainya Sebastian bersama Theresia dan Sofyan didalam kamar Hotel, maka Sebastianpun mulai berbicara santai dan perlahan-lahan memberi pengertian kepada sang Mama. Sebastian takut, sang Mama akan shock dan pingsan, maka akan semakin lama mencari keberadaan Laura nantinya.


"Tapi, Mama janji ya jangan terkejut atau apapun itu. Jika Sebastian mengatakan dimana Laura kini berada."


"Iya, sayang. Mama janji, Mama akan siap mendengarkan semua yang akan kamu katakan."


"Sebenarnya, padam lampu tadi itu sabotase oleh seseorang yang bekerja sama untuk menculik Laura, Mah, Pah. Sekarang Laura diculik dan dibawa kemanapun, Sebastian dan David tidak tahu. Tapi, kami punya satu tersangka yang mungkin memiliki andil besar dalam kasus ini."

__ADS_1


"Haaa..? Diculik? Menantu Mama, Laura Casandra diculik? Siapa tersangkanya, sayang?" Teresia begitu tercekat atas penuturan Sebastian, namun dirinya sudah mempersiapkan diri sebelumnya, agar jantungnya aman tidak tiba-tiba terkejut. Begitu juga dengan Sofyan ikut terkejut, tapi hanya ekspresi wajahnya saja tanpa berbicara.


"Iya, mah, Pah. Menurut kalian, siapa dalang penculikan istriku?"


"Siapa, sayang? Apa jangan-jangan Samudra Casandra? Tapi, dia kok bisa tega jika melakukan hal itu kepada keponakkannya sendiri."


"Bisa iya, bisa juga tidak Mah. Tapi, musuh paling dekat saat ini hanya Samudra, bukan? Mereka masih tidak terima, kita memutuskan sepihak hubungan perjodohan itu dan memutus kerja sama bisnis kita juga."


"Iya.. sudah, secepatnya kamu lapor Polisi dan datangi rumah Samudra, nak." Usul Sofyan menanggapi.


"Iya, sayang. Benar kata Papamu."


"Tidak semudah itu, Mah, Pah! Lapor Polisi itu harus menunggu satu kali dua puluh empat jam, baru bisa dinyatakan hilang atau diculik. Lagi pula kami tidak cukup banyak bukti untuk menuduh Samudra dalang dari semua ini.


"Kalau begitu, kamu dan adikmu segera selidiki Samudra secepatnya. Kegiatan apa saja yang dilakukannya, kamu kerahkan anak buah Papa atas perintah Papa."


"Baik, Pah! Terima kasih, mohon doanya Pah, Mah."


"Iya.. sayang."


Sebastianpun sudah sedikit tenang, kemudian dia menemui David, Mitha dan Jenifer untuk mulai menjalankan misi mereka.


*******


Samudra membuka matanya dengan begitu berat, seakan tubuhnya terasa letih tak bertenaga. Kegiatan semalam yang begitu panas bersama Angel, menguras tenaganya yang harus menyalurkan hasrat kejantanannya yang begitu berbeda dari biasanya.


Samudra yang biasanya bermain satu babak saja bersama sang istri yang sudah tidak muda lagi, semalam harus tiga sampai empat babak permainannya. Angel yang masih muda dan bugar dengan permainan yang begitu bergairah, membuat Samudra lagi dan lagi harus menyeimbangi permainan lawannya yang begitu lincah.


"Drrt.. kriing.. drtt.. kriing... drrt.." Ponsel Samudra bergetar dan berbunyi memekik keras yang tergeletak diatas nakas.


Samudra bangkit dan berdiri dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun, kemudian meraih benda pipih tersebut demi menjawab panggilan ponselnya yang bergetar.


"What..! Vidio Call?" Ucap Samudra sesaat melihat layar ponselnya.


Samudrapun mencari baju dan celana yang dia kenakan semalam, nampak berserakan dilantai yang dia buang kesegala arah, akibat pergulatan panas semalam yang dia lakukan bersama gadis muda itu yang bernama Angel.


"His.. berisik sekali ponselmu, Tuan." Dengus Angel yang terganggu tidurnya.


"Maaf, nona! Istriku menelpon."


"Matikan saja ponselnya, Tuan. Dari pada mengganggu." Gerutu Angel, lalu meraih ponsel tersebut.


"Jangan, nona! Istriku bisa marah besar jika telponnya dimatikan." Cegah Samudra merebut benda pipih tersebut dari tangan Angel.


"Kalau begitu tunggu apalagi, angkat dong, Tuan." Ucap Angel ketus dan sedikit emosi.


"Iya, ini juga mau diangkat, setelah aku pakai baju dan celanaku."

__ADS_1


"Huem.. aku mandi dulu, Tuan. Apa Tuan mau ikut mandi bersama denganku?"


"Iya, tunggu sebentar, aku terima telpon istriku dahulu, baru kita mandi bersama."


"Huem.. engga pake lama." Ancam Angel, berjalan dengan santai tanpa sehelai benangpun didepan Samudra.


Samudrapun mengangkat ponsel dari sang istri dengan melakukan Vidio Call.


"Hii.. Pih, kamu sekarang dimana? Kamu benar-benar tidak pulang, hah?"


"Iya, aku tidak pulang. Aku menginap di Apartement."


"Apartement siapa Pih, sepertinya itu bukan kamar Apartement milik kita. Itu pakaian siapa Pih, tergeletak dilantai?"


"Waah.. mati aku, Maya melihat pakaian Angel." Bathin Samudra mengumpat.


Sontak saja Samudra mengalihkan ponselnya kearah lain, sengaja dia putar menghadap kedinding.


"Pakaian apa, Mih? Engga ada pakaian kok."


Kaki Samudra menendang pakaian Angel kebawah tempat tidur untuk menghilangkan jejaknya.


"Itu tadi dilantai, coba kamu arahkan ponselnya kebawah, jangan keatas."


"Tidak ada, Mih. Tuh.. coba lihat, engga ada, bukan?"


"Kok engga ada, ya! Padahal jelas-jelas Mami lihat, tadi."


"Aah.. Mami salah lihat kali. Sudah ya, Mih. Nanti Papi sebentar lagi pulang."


"Iya, Pih. Mami sudah tidak marah lagi, secepatnya pulang yah."


"Huem.."


*******


"Hei.. makan!" Ucap Pria berperawakan tinggi besar itu.


Laura hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak bernapsu untuk makan. Dia hanya menginginkan pulang, kembali kepada suaminya.


"Aku tidak mau makan, aku mau pulang. Kamu siapa? Kenapa kamu menyekapku disini? Apa salahku, hah?"


"Sudahlah.. biarkan saja, kalau dia tidak mau makan, mungkin dia ingin secepatnya menemukan ajalnya."


"Lucky.." Lirih Laura membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2