
♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️
🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sebastian dan David mulai menemukan titik terang soal siapa yang sudah menculik Laura, lalu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Ayo.. dik, sepertinya kita harus segera menemui Tuan Samudra bersama istrinya. Mereka masih ada di sini, sebaiknya kita harus bergerak cepat."
"Tapi, kak! Kita tidak punya bukti untuk menuduhnya. Bagaimana jika bukan dia yang melakukannya? Kita bisa dituntut balik oleh Tuan Samudra, dengan kasus pencemaran nama baik." Ujar David ragu.
"Benar juga apa kata kamu, dik! Tapi, siapa lagi tersangka utama yang tidak terima dengan pernikahanku bersama Laura kalau bukan keluarga Samudra. Mereka tidak diundang kepesta pernikahanku saja, tapi mereka datang dengan menghina istriku tadi saat naik kepelaminan, dik."
"Mungkin iya, memang dia tersangkanya, kak. Tapi, kita tidak cukup punya bukti untuk menuduhnya. Tuan Samudra begitu licik dan culas, dia pintar dalam memainkan strategi dan cuci tangan dengan cara anak buahnya yang bekerja. Lebih baik kita ikuti permainannya saja, kak."
"Apa yang akan kita lakukan, dik? Bagaimana cara kita mengikuti permainannya?"
"Kita sadap ponselnya, kak. Dengan begitu, kita akan tahu apa yang dia lakukan lewat ponselnya, bukan?"
"Bagus, dik! Kamu memang adikku yang genius, pandai dalam segala hal."
"Ha.. ha.. ha.. kakak juga pintar, hanya saja saat ini kakak sedang cemas dan panik, jadi sulit untuk berpikir jernih. Pikiran kakak tertuju kepada istri kakak terus, Laura Casandra yang sangat kakak Sebastian cintai." Ledek David tersenyum menggoda.
"Hiss.. kamu tuh, dik. Bisa saja kalau sudah meledek kakak. Memang sampai segitunya yah, kamu menilai kakak?"
"Ha.. ha.. ha.. kak Sebastian terlihat sangat bucin, kalau menyangkut Laura Casandra."
"Huem.. iya.. iya, memang kakak akui, jika kakak bucin akut sama kakak iparmu, Laura Casandra yang begitu sangat kakak cintai."
"Ha.. ha.. ha.. tidak apa-apa kak, namanya berarti kakak pria baik yang mencintai wanitanya dengan tulus."
"iya, dik! Terima kasih, atas pujiannya. He.. he.. he.., sekarang ayo kita jalankan misi kita, dik."
"Ayo, kita harus bisa mengambil ponselnya terlebih dahulu, pasti Tuan Samudra akan menghubungi anak buahnya bukan, untuk memberi perintah?"
"Benar, dik." Ucap Sebastian mengerti.
Keduanyapun meninggalkan ruang monitor CCTV, untuk segera menjalankan aksi mereka yang sudah direncanakan.
*******
Perasaan Maya sudah tidak enak, pasalnya tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan gedung Hotel pesta pernikahan tersebut. Namun, Samudra tetap kekeh masih ingin melihat betapa paniknya, jika keluarga Sofyan Maha Putra itu kehilangan sang menantu saat pesta yang megah itu sedang berlangsung.
"Pih, kalau papi masih mau disini, lebih baik Mami pulang sendiri saja. Mami tidak mau menunggu lama lagi, Mami sudah cape dan mengantuk." Ujar Maya dengan mengeluh.
"Iya.. sudah, kalau Mami memang mau pulang terlebih dahulu. Papi tidak akan pulang kerumah malam ini, terserah Papi mau pergi kemana saja. Mami tidak usah menunggu ataupun mencari Papi." Ancam Samudra dengan peringatan keras.
"Ooh.. Papi mengancam Mami! Okey, kalau memang Papi tidak pulang ataupun pergi kemana saja, silahkan! Mami sudah tidak mau perduli lagi, toh Mami hanyalah wanita bodoh dimata Papi, bukan?" Maya semakin tersulut emosi, dengan cepat diapun bangkit dan meninggalkan Samudra yang masih stay di tempat duduknya.
"Tunggu, Mih!" Panggil Samudra, saat sang istri sudah menghilang cukup jauh dari tempatnya semula.
Dengan setengah berlari, Samudrapun mencari keberadaan sang istri. Namun, dirinya malah bertabrakan dengan seorang wanita muda, yang berpenampilan sexy dan berwajah cukup cantik.
"Bruuk.." Wanita itupun terjatuh kelantai.
__ADS_1
"Maaf, nona!" Ucap Samudra, lalu membantu wanita muda itu untuk berdiri.
"Aaawh.." Ringis wanita tersebut mengaduh dengan memegangi kakinya.
Samudrapun repleks, membantu wanita tersebut untuk melihat apa yang sedang dirasakan sakitnya.
"Kakiku." Ucap wanita itu mengeluh kakinya yang terasa sakit.
Samudrapun mengerti, diapun mencopot sepatu high heels milik wanita tersebut dari kakinya yang begitu bersih, putih dan mulus. Samudra seakan kesulitan saat menelan salivanya. Jiwa lelakinya tiba-tiba saja meronta-ronta, melupakan rasa kesal yang ditimbulkan oleh sang istri tadi.
"Mari saya bantu untuk berjalan." Tawar Samudra dengan lembut.
"Sepertinya aku kesulitan untuk berjalan, Tuan. Bagaimana kalau Tuan antar saya pulang kerumah saja." Usul wanita itu sedikit memelas.
"T-tapi, saya harus me.." Ucapnya terhenti saat wanita itu menyelanya.
"Apakah Tuan akan lepas tanggung jawab?" Tanya wanita itu yang membuat Samudra jadi serba salah.
"Baiklah." Ucap Samudra pada akhirnya.
Samudrapun menggendong wanita muda itu ala bridal style, karena wanita itu mengaku tidak bisa berjalan. Samudra mengantarkan wanita tersebut ketempat tinggalnya, yang merupakan sebuah Apartement yang cukup mewah dan berkelas.
"Ini alamat rumahmu, nona?" Tanya Samudra heran.
"Huem.. " Wanita itu hanya bergumam pelan lalu tersenyum.
"Saya pikir, nona masih tinggal bersama orang tuanya?"
"Tidak, Tuan! Orang tua saya sudah lama meninggal, saya hanya tinggal sendiri."
"Huem.."
"Ayo, saya bantu untuk masuk ke Apartementmu, nona."
"Iya, Tuan! Terima kasih ya, Tuan."
"Ini sudah tanggung jawab saya, nona."
Samudrapun kembali menggendong wanita tersebut ala bridal style, menuju kamar Apartementnya. Disepanjang jalan menuju Apartement, perasaan Samudra semakin berdebar-debar, kala wanita muda itu terus menatap kearah Samudra dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Ting.." Bunyi pintu lift terbuka.
"Kamu tekan nomor lantainya, nona." Ucap Samudra.
"Iya, Tuan."
Wanita itupun menekan nomor yang akan menuju kamar Apartementnya, lalu matanya lagi-lagi menatap kearahnya dengan tersenyum sedikit menggoda.
"Sudah, Tuan." Ucap wanita itu lirih.
"Lantai lima belas, nona?"
"Iya, Tuan. Kenapa?"
"Ooh.. tidak, saya hanya sedikit pegal." Samudra mengatakan dengan jujur, tangannya memang sedikit pegal. Apa lagi harus menaiki lift dengan lantai lima belas yang cukup memakan waktu.
__ADS_1
"Eeeh.. maaf, Tuan. Saya terlalu berat ya, Tuan?"
"Tidak, nona tidak berat! Hanya saja, jika terlalu lama mengangkat seperti ini, saya lumayan pegal. Saya 'kan sudah tidak muda lagi."
"Masa sih, Tuan? Tapi, Tuan seperti masih muda dimata saya." Ucap wanita itu, lagi-lagi membuat hati Samudra berdebar-debar.
"Ting.." Bunyi Liftpun terbuka.
Mereka keluar dari lift tersebut, menuju kamar Apartemetnya. Wanita itu menunjukkan pintu Apartementnya yang hampir sama dengan yang lainnya. Hanya nomornya saja yang membedakannya.
"543×××" Wanita itu menekan nomor pintu Apartementnya, kemudian pintu itupun terbuka lebar.
"Ssrrrrt.."
Samudra menutup pintu Apartement tersebut menggunakan kakinya, lalu pintupun tertutup dan terkunci otomatis.
"Dimana kamarnya?" Tanya Samudra kemudian.
"Disana, Tuan." Wanita itu menunjukkan jari telunjuk kanannya kearah kamarnya yang tidak begitu jauh dengan posisi mereka saat ini.
Sampai dikamarnya, Samudrapun menjatuhkan bobot tubuh wanita ramping dengan pakaian sexy yang menunjukkan lekuk tubuhnya itu diatas kasur bigsizenya dengan perlahan.
"Bruuk."
"Tuan.. terima kasih ya, Tuan sangat baik dan tampan." Ucap wanita itu, saat sudah berbaring dikasurnya.
"Sama-sama, nona." Ucap Samudra lirih.
"Tuan."
""Huem.."
"Nama saya Angela, nama Tuan siapa?"
"Nama saya, Samudra Casandra."
"Nama Tuan bagus, cocok dengan wajah Tuan yang tampan."
"Deg.. deg.. deg.."
Pujian wanita itu, lagi-lagi membuat Samudra melambung tinggi dan berdebar.
"Eem.. apakah kamu benar-benar melihatku seperti itu, nona?"
"Huemm, Tuan! Apa Tuan mau menginap malam ini disini?"
"Apa? Menginap?" Tanya Samudra terperangah.
"Huem.. temani saya, mau 'kah Tuan?"
Samudrapun tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil dan mengulum senyum.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--