Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Cemas Dan Khawatir


__ADS_3

...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...


...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sebastianpun akhirnya memutuskan, untuk membawa Teresia kerumah sakit terdekat. Calistapun ingin ikut bersama mobil mereka, namun dicegah oleh Sebastian.


"Tidak usah ikut dengan kami, lebih baik kamu tinggalkan kami sekarang." Bentak Sebastian dengan mengusirnya.


"T-tapi Sebastiam.." Calista memohon.


"Tidak ada kata tapi! Sudahlah, kami tidak butuh kamu. Awas kamu minggir, kami mau lewat, kamu sudah menghalangi jalan kami." Tolak Sebastian tanpa iba dan meminta Calista untuk menyingkir dari hadapannya.


Dengan terpaksa, Calistapun menyingkir dari hadapan Sebastian, yang sedang membawa Teresia dalam gendongannya.


Supir Pribadi Teresiapun dengan sigap membukakan pintu mobil penumpang, agar Sebastian dan Teresia masuk dengan mudah.


"Kita mau kemana, Tuan muda?" Tanya Pak supir.


"Kerumah sakit yang dekat dari sini saja, Pak."


"Baiklah."


Pak supirpun menancapkan gas mobilnya, langsung menuju rumah sakit terdekat.


*******


Sesampainya David mengantar Laura dan Mitha ke kontrakkannya, David mampir untuk beristirahat sejenak.


Davidpun menonton TV, untuk melihat berita-berita teraktual. Lalu dia duduk bersandar pada kursi panjang yang sederhana.


"Kamu tidak pulang, Vid?" Tanya Mitha berjalan kearahnya, dengan membawa segelas air putih.


"Aku pingin disini sebentar, Tha. Apa Laura baik-baik saja?"


"Iya.. dia baik-baik saja. Dia 'kan sahabatku yang paling tegar dan kuat."


"Sahabat kita, Tha. Kamu melupakanku."


"Iya.. iya, sahabat kita."


"Sekarang, dia sedang apa dibelakang?"


"Sedang mandi, katanya gerah pingin menyegarkan tubuh dan perasaannya yang sedang panas, hi.. hi.. hi.." Ujar Mitha tertawa kecil.


"Ck.. kamu bisa saja meledek sahabatnya sendiri." Decak David menggelengkan kepalanya pelan.


"Bercanda, Vid."


"Apa kamu tidak kepingin duduk, heum.. ? Berdiri saja disitu."


"Cape, Vid. Aku dari tadi duduk terus." Jelas Mitha seraya meneguk segeras air yang ada ditangannya, namun masih menyisakan setengahnya.


David menelan salivanya dengan begitu sulit, jakunnyapun naik turun seketika kerongkongannya terasa haus. Diapun ikut berdiri menghampiri Mitha, yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya.


"Aku juga haus, Tha. Apa boleh aku meminta minumannya?"


"Ooh.. maaf, aku melupakannya. Sebentar ya, aku ambilkan air minumnya." Ujar Mitha merasa bersalah.


"Tidak usah, Tha. Ini saja, air minum bekas kamu tadi. Boleh 'kan aku habiskan?" David langsung mengambil gelas yang ada ditangan Mitha, lalu menghabiskan air minumnya yang sisa setengah itu.


"Iish.. itu jorok dong, bekas aku." Mitha menggelengkan kepalanya heran.


"Tidak apa, Tha. Aku tidak merasa jorok lagi, aku malahan suka bekas air minum digelas yang kamu pakai." Ujarnya tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Iish.. Vid, sejak kapan kamu mau minum bekas gelasku? Selama kita sahabatan, belum pernah kamu minum bekas gelasku." Ujar Mitha merasa ada yang aneh.


"Sejak sekarang dan seterusnya dong. Kamu tidak keberatan, bukan?"


"Keberatan ach, jorok itu namanya. Kecuali kamu pacar aku atau suami aku, baru tidak apa-apa."


"Memangnya kamu mau jadi pacar aku, Tha? Atau mau jadi istri aku?"


"Vid.. jangan bercanda! Tidak lucu, heum..! Kita itu sahabat, selamanya akan menjadi sahabat. Aku sudah punya Mas Lucky, kamu tidak sedang hilang ingatan, bukan? Aku akan menikah dengan dia, setelah aku lulus nanti dan bekerja ditempat yang menjanjikan. Mas Lucky sudah mengatakan hal itu, aku sungguh tidak sabar, Vid."


"Heem..." David hanya bergumam pelan, dirinya seakan tidak rela mendengar ungkapan Mitha.


"Sini gelasnya, Vid. Aku akan ambilkan lagi air minumnya." Mitha menadahkan tangannya, untuk menerima gelasnya.


"Yup.." David memberikan gelas itu ketangan Mitha dengan tersenyum miris.


Mithapun kembali kedapur, untuk mengambil air yang baru.


"Drrt.. drrt.. drtt.." Bunyi Ponsel David bergetar.


David mengambil ponselnya, dari saku celananya dan melihat siapa yang menelponnya. "Mama.. !" David bergumam pelan, saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


Dengan cepat, diapun mengangkat panggilan telpon Mama Teresia.


"Hallo Mah.."


"Hallo.. ini kak Sebastian dik, bukan Mama."


"Ooh.. dikira Mama, kak. Hallo kak Sebastian, ada apa?"


"Hallo Dik.. apa kamu sudah kembali dari kontrakkan Laura?"


"Belum kak, aku masih disini. Ada apa kak? Mama Baik-baik saja, bukan?"


"Baik-baik saja dik, tapi tadi Mama sempat pingsan dan kakak larikan ke rumah sakit terdekat."


"Sudah siuman dan boleh pulang. Kata Dokter, jangan cape-cape dan jangan dibuat kaget saja. Jantung Mama baik-baik saja, namun tadi pingsan hanya sedikit shock."


"Syukurlah, apa yang menyebabkan Mama bisa pingsan, kak?"


"Calista dan kakak tadi berdebat, dia ingin ikut satu mobil dengan kakak. Tapi, kakak melarangnya dan Mama selalu membelanya. Jadi, kakak bilang saja kakak akan menikahi Laura, gadis yang kakak cintai. Setelah itu, Mama pingsan, lalu kakak bawa kerumah sakit."


"Menyebalkan Calista itu, kak!"


"Iya.. dasar gadis tidak tahu malu!"


"Sekarang kakak masih dirumah sakit?"


"Masih, dik."


"Apa aku masih bisa menjenguknya, kak?"


"Bisa, dik."


"Boleh aku ajak Mitha dan Laura kesana, kak?"


"Boleh."


"Papa sudah tahu atau belum, soal kondisi Mama?"


"Belum, kakak sengaja tidsk kasih kabar sama Papa."


"Iya sudah, aku kesana ya, kak. Tapi, nanti Mama akan marah tidak sama Laura?"


"Kakak jamin tidak, dik. Soalnya kakak tadi sudah meyakinkan Mama. Makanya kakak telpon kamu, untuk ajak Laura ikut kesini."

__ADS_1


"Bagaimana kalau dirumah saja kak, kita bertemunya?"


"Boleh dik, ya sudah kita bertemu dirumah saja kalau begitu."


"Oke, kak."


"Tuut..." Mereka menutup saluran telponnya bersamaan.


"Ini minumnya yang baru, Vid."


"Terima kasih, Tha." David menerima sodoran gelas yang berisi air minum itu dari Mitha.


"Heem.. Vid. Oh iya, tadi siapa yang telpon?"


"Itu kak Sebastian, Tha. Katanya Mama masuk rumah sakit, gara-gara pingsan."


"Apa? Masuk rumah sakit? Terus, kenapa kamu masih disini? Ayo kita jenguk Mama kamu, vid." Ujar Mitha dengan wajah cemas dan begitu khawatir.


"Iya, Tha. Kenapa kamu begitu cemas, Tha? Kayak khawatir, sama calon mertua saja? He.. he.. he.." Ujarnya terkekeh geli.


"Iishh.. Mama kamu 'kan calon mertuanya Laura, jika kak Sebastian nanti menikah dengan Laura. Sudah otomatis dong, mertuanya Laura aku anggap seperti mertuaku juga. Secara aku dan Laura 'kan seperti saudara kandung." Tuturnya dengan gamblang.


"Heeem..." David tidak ingin berdebat dengan Mitha yang tidak pernah peka dengan perasaannya.


"Sebentar Vid, aku panggil Laura dulu untuk mengajaknya."


"Iya, Tha."


Mithapun menghampiri Laura, yang baru saja keluar dari kamar mandi yang sudah berpakaian rapi dan cantik.


"Segar sekali kamu, Ra. Aku jadi pingin mandi juga."


"Iya sudah dong, kamu mandi juga, Tha."


"Okey.. habis mandi kita akan menjenguk tante Tere kerumah sakit, Ra."


"Rumah sakit? Memangnya Tante Tere kenapa, Tha?" Tanya Laura penasaran.


"Katanya David, Tante Tere pingsan." Jelasnya, kemudian Mitha masuk kedalam kamar mandi.


"Ya Tuhan.. pingsan? Iya sudah Tha, aku ikut."


"Iya." Ucap Mitha dari balik kamar mandi, karena dirinya sudah melakukan aktivitas mandinya dengan cepat.


*******


"Mah.. apa Mama sudah bisa pulang sekarang?" Tanya Sebastian lirih.


"Memangnya sudah boleh, sayang?"


"Sudah, Mah. Nanti dirumah, kita akan kedatangan calon istri Sebastian, Mah."


"Laura?"


"Iya, Mah."


"Memangnya kamu yakin, Papa kamu akan menerima Laura untuk menjadi calon menantunya?"


"Tidak yakin sih, Mah. Tapi, jika Mama membantu Sebastian, siapa tahu saja bisa."


"Iya sudah, kita lihat saja nanti."


"Terima kasih, Mah. Mama memang terbaik!"


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2