
PENGUMUMAN
Untuk even hadiah bulan ini saya akan memberikan reward secara adil yah. Yang bisa mendapatkan juara 1 sampai 3 dan harapan 1 sampai 3 yaitu berlaku yang sudah mengisi memberlish di grup WA dan
Berlaku untuk novel on going dan novel tamat yah kak.
Syarat untuk menang tidak dilihat dari rengking bulanan (×) tapi like dan komentar terbaik tiap Babnya juga durasi bacaannya yah kak.
Juara 1 : 150 k
Juara 2 : 100 k
Juara 3 : 50 k
Harapan 1 : 100 k
Harapan 2 : 75 k
Harapan 3 : 50 k
Terima kasih untuk kesediaan kakak-kakak mengikuti even ini. Saya mohon tidak ada yang iri atau kecewa jika tidak terpilih jadi juara yah. TERIMA KASIH.
Note : Novel Tamat untuk hadiah (harapan 1 sampai 3) Sedangkan Novel on going untuk (juara 1 sampai 3) Semua boleh ikut untuk Novel tamat dan on goingnya yah. Kalau disini ada yang mau ikut boleh inbok di ig saya tinatina3627. Terima kasih.
...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...
Sebastianpun ikut terkejut saat jari tangan Laura yang lentik, menyentuh punggung tangannya yang lebar dan besar.
Namun, Sebastian mampu menutupi rasa keterkejutannya kepada Laura. Dirinya hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak minta digaruk, saat Laura menarik jari tangan lentiknya kembali dari sentuhan punggung tangan Sebastian.
"M- maaf... nona Laura." Ucap Sebastian lirih dan gugup.
"A- aku juga minta maaf, kak." Ucap Laurapun sama gugupnya.
Mitha dan David yang memperhatikan mereka salah tingkah hanya perkara kecil, membuatnya tersenyum bahagia.
Sebagai sahabat yang baik, memang harus selalu mendukung dan saling menjaga kehormatan sahabatnya. Susah dan senang harus dijalani bersama.
Apa lagi Mitha sudah menganggap Laura sebagai saudaranya sendiri, yang memang Mitha juga selalu bersama Laura sejak Sekolah menengah pertama.
Suka dan duka mereka jalani berdua, saling menguatkan dan melindungi. Bahkan kedua orang tua Mithapun sudah menganggap Laura seperti anaknya sendiri, dengan mengijinkan Laura tinggal bersama mereka selama ini.
Namun semenjak Mitha dan Laura bekerja di restoran milik Sebastian, mereka memutuskan untuk tinggal berdua dikontrakkan dengan alasan perjalanan lebih dekat, bisa menghemat waktu dan biaya transfort.
__ADS_1
"Iish.. kak Sebastian dan kamu Ra, masih saja grogi dan salah tingkah." David berdecak heran.
"His.. biarin saja kali Vid, kenapa juga kamu yang gemas?" Dengus Mitha membela.
"Ha.. ha.. ha.. mereka saja diam! Kenapa kamu membela mereka?"
"Mereka pasangan yang serasi, Vid. Entah kenapa, aku seketika melupakan kak Sebastian yang sudah... " Ucap Mitha terhenti, dirinya tidak ingin mengungkit masalah yang sudah menimpa Laura, hingga menyisakan rasa trauma.
Ketiga orang tersebut sedang menunggu ucapan Mitha, yang sudah nampak tegang karena pembahasan yang menyebut nama kak Sebastian.
"Ha.. ha.. ha.. " Mitha langsung saja tertawa melihat ketiga wajah tegang mereka.
Sontak saja ketiganyapun merasa lega, karena Mitha menghetikan ucapannya yang mereka pikir akan membahas soal Laura dan Sebastian. Ketiganyapun seketika terkekeh dan nampak canggung.
Agus yang merasa heran dengan kedua teman kerjanya Laura dan Mitha, hanya bisa mengerutkan dahinya saja. Agus tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas dia melihat dua pria tampan yang nampak akrab dengan Mitha dan Laura, pikirnya.
"M- maaf.. apa Tuan-tuan dan kalian mau pesan makanan sekarang juga, atau nanti?" Tanya Agus kikuk, hingga menghentikan tawa mereka.
Sontak saja mereka menatap kearah Agus bersamaan, dengan wajah yang terlihat tidak enak hati karena melupakan keberadaannya.
"Sekarang dong, Mas." Ucap Sebastian dengan membuka buku yang berisi berbagai menu makanan lezat yang ada direstoran miliknya.
"Kenapa kak Sebastian membaca buku menu makanannya? Bukankah kakak sudah hapal, menu makanan apa saja yang sudah tersedia disini?" Tanya David heran, dengan ucapannya yang sedikit kencang.
"Iya kak, aku sengaja. Untuk apa kakak tutup-tutupi status kakak selama ini? He.. he.. he.." Ujar David terkekeh.
Agus semakin penasaran dengan pembicaraan dua pria dihadapannya, yang terlihat menutup-nutupi sesuatu. Sedangkan Mitha dan Laura hanya terdiam dan menyaksikan dua bersaudara adik kakak yang sedang bersungut.
Sebastian tersenyum kecut lalu menggelengkan kepala heran dengan adik tampannya yang satu itu. Sebastianpun menutup buku menu tersebut lalu memberikannya kepada Agus, pelayan restoran tersebut.
"Anda mau pesan apa, nona Laura dan nona Mitha?" Tanya Sebastian dengan wajah begitu teduh dan suara yang begitu lembut.
"Eem.. saya cumi asam pedas, kak." Sahut Mitha cepat.
Sedangkan Laura melirik Mitha dengan tersenyum canggung, grogi untuk menjawab.
"Ayo Ra, kamu pesan apa? Biasanya kepiting saus Padang." Desak Mitha, dengan memberi masukkan.
"Ooh.. nona Laura suka kepiting juga? Sama dong kalau begitu." Ucap Sebastian senang dengan tersenyum merekah.
Laurapun hanya mengangguk kecil, saat Sebastian mengatakan hal yang sama dengan menyukai kepiting.
"Kalau aku sama kayak Mitha kak, cumi asam pedas." Kata David ikut memesan.
__ADS_1
"Mas sudah dengar, bukan? Jadi kami pesan cumi asam pedas dua dan kepiting saus Padang dua." Ucap Sebastian kepada pegawai restorannya.
"Iya Tuan, tapi minumnya apa, ya Tuan?" Tanya Agus kemudian.
"Jus lemon tea." Ucap Mitha dan David bersamaan.
"Jus jeruk." Ucap Sebastian, lalu Laurapun mengikuti.
"Bailah.. sudah saya tulis pesanannya mohon ditunggu ya." Ucap Agus santun lalu meninggalkan mereka kebelakang.
*******
Setelah tiga puluh menit menunggu, makanan merekapun sudah datang dan sudah disiapkan.
Tanpa ragu, merekapun menikmati makan siang mereka dengan membuka obrolan-obrolan ringan mengenai pribadi Sebastian dan sifat yang dia miliki.
Mitha begitu terkagum-kagum dengan kepribadian Sebastian, yang tidak ingin diketahui banyak orang. Begitu juga dengan Laura, dirinyapun ikut mengaguminya juga.
"Masa iya, kak Sebastian selama kuliah di London, belum pernah mencintai gadis disana? Sedangkan kakak, begitu mudahnya mencintai gadis seperti Laura? Bukankah itu tidak masuk akal?" Tanya Mitha terheran-heran.
"Cinta itu datang dan pergi begitu saja, tanpa ada yang tahu. Kebetulan saja, hati saya terpaut dengan Laura, gadis sederhana yang berparas cantik nan ayu, yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Hanya saya yang jahat, sudah.." Ucapan Sebastian terhenti saat Laura memotong ucapannya.
"Cukup kak! S-saya tidak ingin kakak meneruskan ucapannya, hikkz.. hikkzz.. hikkzz.." Sela Laura dengan bibir dan tubuh bergetar, dengan air mata yang langsung tumpah dari sudut matanya.
Dengan gerak cepat, Mitha langsung merengkuh tubuh bergetar Laura dengan erat dan mengusap punggung Laura dengan lembut.
"Sudah Ra.. sabar, kamu hanya masih belum bisa melupakan sepenuhnya apa yang sudah menimpa kamu waktu itu. Kamu harus bisa melupakan kejadian itu dan berdamai dengan semua keadaan ini." Ucap Mitha lirih untuk menenangkan sahabatnya.
Sebastian dan Davidpun seketika gamang dan serba salah. Sebastian menyesali ucapannya, yang sudah memancing emosi Laura datang kembali.
Seusai tangisan Laura mulai reda, karena Mitha yang sudah menenangkannya. Tangan Sebastian mulai mendekat kearah Laura, untuk menyentuh bahunya perlahan. Namun, dia urungkan.
"S-saya minta maaf, Nona Laura. Apakah nona Laura sudah lebih baik?" Tanya Sebastian gugup.
"Heeem.." Laura hanya bergumam pelan.
"SEBASTIAN MAHA PUTRA... !" Panggil seorang wanita dari arah belakang Sebastian dan David, yang baru saja datang dari pintu masuk.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1