
Bagaikan disambar petir, mendengar Alina koma! Semuanya tak menyangka hal ini bisa terjadi. Apalagi mereka para sahabat alina, ia menangis tapi menangis dalam diam! Untuk saat ini, mereka mencoba untuk menerima takdir.
Twins? Mereka menyesal, ia merasa tidak becus menjadi seorang kakak. Mereka berdua, selalu menyalahkan diri mereka sendirilah. Untung saja, ada Rava, verrel dan Mike. Mereka, bertiga berusaha berbicara kepada vero dan Veno jika ini sudah takdir.
Takdir tak ada yg bisa menebak bukan? Fino? Perasaannya saat ini kacau, antara sedih, kecewa bercampur aduk. Seolah-olah sistem kerja otaknya berhenti, ia seperti orang linglung.
Baru kali ini, dia seperti ini. Sampai-sampai mereka yg ada disitu bingung, terhadap perubahan raut wajah Fino. Mereka semua menatap Fino dengan perasaan sendu,
"Va, Alina va"kata nada, dengan bibir bergetar.
"Gue tau, kita gabisa nyalahin takdir!"ujar Reva seolah-olah tenang, padahal pada saat itu Reva ingin menangis,
"Kak alin,"kata Elina lirih, lalu air mata Elina tumpah.
"Kalian gaboleh begini, kita harus semangat!"ujar Reva menyemangati mereka berdua, lalu ia merangkul dua sahabatnya itu. Air mata mereka lalu tumpah, karena sudah tak tahan menahannya.
"Bang, Princess bang!"kata Vero seraya menatap Veno sendu,
"Ini semua salah gue, gue yang salah!"ujar Veno sambil menjambak rambutnya Sendiri,
"Princess, maafin abang! Maafin abng gabisa jaga kamu!"kata Vero lagi,
"Arghh, maafin Abang Princess!"ujar Veno lalu ia menghantam tembok yg ada didepannya, hingga tangannya mengeluarkan darah.
"Lo ga boleh gini! Ini bukan kesalahan Lo berdua, ini semua udah takdir!"timpal rava,
"Jangan gini lah sob, kalo Alina tau Lo begini, dia pasti sedih!"sambung verrel,
"Nah bner tuh, btw orang tua Lo udah tau?"ucap mike, lalu mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Cara Lo salah, mending nyokap Ama bokap lo, kasih tau dulu! Dari pada tau dari orang lain, dia malah tambah bakalan marah!"jelas Mike, setelah itu Veno mengambil ponselnya. Lalu menelpon mamahnya,
"Mommy? Bisa ke rumah sakit dekat sekolah?" Ujar Veno,
"Ada apa? Siapa yg sakit?" Ucap ferisha,
"Udah mommy kesini aja, nanti aku jelasin! Oh iya, Daddy ada disitu?"tnya veno
"Oke, mommy kesitu! Nggak Daddy lagi ada meeting dikantor,"jawab Ferisha,
"Nanti mommy langsung ke UGD aja ya"kata Veno,
"Sebenernya siapa sih yang skit? Jangan buat mommy penasaran!"ujar Ferisha khawatir,
"Aku tunggu mom,"kata Veno, lalu ia memutuskan telponnya secara sepihak. Pandangan Veno teralih ke Fino,
"Fin? Heloo?"panggil veno,
"____"tidak ada jawaban dari sang empu,
"Woy finoooo,"teriak veno, lalu mereka yg ada disitu mengalihkan pandangannya kearah Veno dan Fino.
"Hah? Kenapa?"kata Fino tersentak,
"Ada apa lagi, gue panggil dari tadi kagak nyaut!"ucap Veno kesal,
"Eh, sorry! Sorry gue nggak fokus,"kata fino, lalu ia kembali melamun.
"Fino putra Alexander! Woy jangan ngelamun ****, kesambet ****** lo!"pekik verrel,
"Apsih, gue pergi dulu! Besok gue kesini lagi,"kata Fino, lalu ia pergi meninggalkan mereka.
"Lah? Aneh emang!"celetuk Vero,
"Galau tuh dia,"sambung nada,
"Oh gue paham, kasihan juga tuh anak!"timpal rava,
"Gue masih gedek *****,"kata reva menggerutu,
"Nape lo?"tnya Elina,
"Gue kesel ege, ama cabe!"jwb Reva kesal,
"Tunggu tanggal mainnya zyg,"kata nada berseringai kecil,
"Emang Fino suka banget ya, sama Alina?"tnya Mike,
"Kurang paham gue,"jwb rava
"Udahlah jangan nebak-nebak! Yg ngejalanin juga mereka,kita cuma nunggu kabar bahagianya aja!"jelas verrel,
"Bahasa Lo anjayy,"kata vero
"Ngapa dah?"tnya verrel,
"Sok bijak,"jwb Reva, tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya,
"Eh, kok rame ya?"tnya wanita itu,
"Mommyy,"pekik elina, lalu berhambur ke pelukan ferisha
__ADS_1
"Iya sayang kenapa? Siapa yg sakit?"tnya ferisha,
"Mommy siap? Nerima jawaban dari kami?"jawab Vero,
"Ada apa sih?"kata Ferisha heran,
"Alin mom,"ujar Reva menggantung
"Alin kenapa? Alin gapapa kan?"kata Ferisha tak tenang, lalu menyerang dengan pertanyaan yg bertubi-tubi.
"Alina koma,"jelas Veno,
Degh'
"A-apa? Alina kom--"kata Ferisha terpotong, lalu ia jatuh pingsan.
"Mommy, bangun mom hiks"ujar Elina menangis,
"Maafin aku mom, kita gabisa jaga alina"ucap twins,
"Kita semua kuat kok, Alina aja kuat masa kita nggak?"ujar Reva menenangkan,
****
"Woy gila, Alina lamaaa bet dah!"kata nada mencak2
"Ho,oh kgak biasanya gini"sambung Elina,
"Kita keluar aja yok, kita tnya twinss!"ajak Reva keluar,
"Ayok dah,"ucap mereka berdua, lalu pergi meninggalkan kelas. Saat, berada di koridor kelas. Mereka bertiga, melihat twinss dkk. Lalu ia, menanyakan Alina kepada twins,
"Eh, gue pinjem twinss dulu ye"kata nada,
"Yah, masa twinss sih dibawa! Gue aja,"celetuk verrel,
"Ogah bawa Lo, rabies ntar!"kata Reva pedas,
"Yee bngsd, eh maap keceplosan!"ujar verrel cengengesan,
"Oh ya, kita pergi dulu ye! Jangan lupa kasih temen Lo obat,"kata nada,
"Obat apaan dah?"pekik Mike,
"Rabies,"jwb nada,
"Gelo dikira gue anjing,"kata verrel
"Udah ah, debat Ama lo tuh! Kek debat capres, lamaaaaa!"ucap nada,
"Ada apa?"tnya Vero to the point,
"Alina ngilang,"jwb Reva,
"What the ****?!"pekik twinss
"Gue juga gatau, tadi dia pamitnya ke toilet! Tapi setelah kita cek, Alina gak ada!"jelas reva, tiba-tiba suara ponsel nada berbunyi.
Ting'
Saat membaca pesan itu, tangan nada mengepal dan itu membuat Reva dan elina bingung. Lalu, ia membuka pesan dari salah satu anak buahnya,
From: Andre
Queen diculik, dia dibawa sama 3 org cwek yg dandannya mirip Tante girang, Queen dibawa ke area gudang kosong
Seperti itulah chat yg dikirim Andre, jangan salah anak buah Alina yg sekolah disekolah milik Alina! Sangat banyak, mereka tersebar diberbagi penjuru.
"Gudang kosong sekarang!"kata nada menahan emosi,
"Hah?"tnya Vero bingung,
"Alina disana, dia dibawa cabe!"jwb Reva, lalu meninggalkan twins.
"Oh disana, eh bntr? Anjing"kata Vero sambil mencerna ucapan reva, setelah ia paham lalu ia mengumpat.
"Ayo bang, Kita susul Mereka!"kata Vero emosi,
"Tunggu dulu begog, kita ketempat yg tadi dulu!"ujar veno,
"Hmm,"
Setelah itu, mereka menuju ke gudang lalu benar apa yg dikatakan merekaa bertiga. Jika, Alina berada ditempat ini!
Saat itu juga, mereka masuk saat mereka masuk! Mereka berpapasan dengan Kirana dkk, wajah mereka menjadi pucat pasi,
Flashback end
"Maafin aku mom, aku gagal jadi abng yang baik buat alina,"kata Vero lirih,
"Kamu nggk gagal, ini semua udah takdir! Kita gabisa nyalahin takdir bang,"ujar Ferisha, seraya menepuk bahu vero.
__ADS_1
"Tapi mom, klo Daddy tau! Daddy bakalan marah,"timpal veno,
"Urusan Daddy biar mommy yg urus,"kata Ferisha,
"Tap---"ujar vero terpotong,
"Seenggaknya, kamu udah jujur! Dady gk bkln marah kok"kata Ferisha lembut,
"Tante, kita pamit ya! Besok kita kesini lagi,"ucap Rava berpamitan,
"Iya, hati-hati dijalan! Makasih udah mau nemenin twins,"ujar Ferisha
"Iya Tante sama-sama"kata verrel, selepas itu mereka berpamitan. Tiba-tiba dokter yg menangani Alina datang,
"Ibu pasien?"tnya dokter itu,
"Iya saya dok, gimana keadaan anak saya?"jwb Ferisha gelisah,
"Pasien belum sadar bu, tapi jika anda ingin menjenguk pasien silahkan! Tapi, jangan ramai-ramai!"kata dokter itu,
"Baik dok,"ujar Ferisha lesu,
"Saya, pamit dulu bu!"kata dokter itu ramah,
"Iya,"
"Mom, Alina mom!"kata Reva lirih,
"Tenang, sayang dia anak kuat kok! Ayok kita masuk liat Alina!"ujar Ferisha memberi semangat,
"Siapa duluan?"tnya nada,
"Biar mommy, Reva sama Vero yg masuk duluan! Kita terakhir aja,"jawab Veno,
"Oke, gue masuk duluan ya"kata Reva,
"Hmm,"
Setelah masuk ruangan, hal pertama kali Reva liat adalah, ketua yg dikagumi banyak orang sekarang terbaring lemah, ia yg terkenal dengan sebutan kejam sekarang ia tak bisa apa-apa, selang ada dimana-mana, perih? Itulah yg dirasakan Reva, melihat adik perempuannya terbaring lemah, yah Reva sudah menganggap Alina sebagai adiknya!
Menurut Reva, Alina adalah sosok wanita yg kuat, ia sosok wanita yg tegar, ia seorang pelindung bagi org yg ia sayang, dia berhasil mengelabui bnyk org dengan tampang datarnya, dibalik itu semua Alina adalah sosok wanita yg rapuh, ia lemah, ia berusaha menutup segala rasa sakitnya dengan sempurna!
Menurut orang lain, Alina adalah org dingin, kejam dan tak peduli dengan sekitar, tapi mereka semua telah dikelabui Dengan topeng digunakan alina.
Satu tetes air mata, mengalir di wajah Reva. Baru kali ini, ia menangis! Jika boleh jujur, Reva sangat takut kehilangan Alina. Ini bukan lebay, tapi memang kenyataannya begitu.
"Alina sayang, bangun ya. Mommy bakalan kangen kamu, betah banget sih tidurnya? Kamu gk kangen apa sama mommy?"tnya ferisha menahan Isak tangis,
"Jawab dong sayang, mommy gak suka kamu diemin mommy begini!"jwb Ferisha sendiri,
"Mom, udah! Alina gk suka liat mommy begini,"kata Vero tak tega, melihat mommy-nya seperti ini.
"Alin sayang, Alina"ujar Ferisha tak kuasa, lalu badannya melorot kelantai, Vero yg tak tega pun membopong Ferisha keluar ruangan. Dan, tinggalah kini Reva seorang diri.
"Lin? Lo nggk kangen gue apa ya? Betah banget tidurnya! Padahal, belum ada satu hari eh gue udah kangen Ama Lo hehehe"ucap Reva, sambil menggigit bibirnya karena Isakan tangisnya sudah tak bisa ia tahan lagi.
"Lo jahat ya lin, mana Alina yg bawel? Alina yg kejam? Lo kuat Lin, ayo bangun! Demi kita semua!"ucap Reva bermolog seperti orang gila, lalu pintu ruangan UGD terbuka.
Masuk 2 orang gadis yg tak lain, adalah nada dan elina. Mereka berdua, menghampiri Reva yg sedang terisak.
"Va? Udah, katanya kita gaboleh nangis?"kata nada tersenyum getir,
"Gue gk bisa, gue udah berusaha buat kuat, tapi itu gabisa"ujar Reva sesenggukan,
"Udah lah, percuma kita nangisin kak alina. Toh, dia cuma bisa denger!"ucap Elina ketus, perkataan Elina barusan membuat nada dan reva tambah marah.
"Lo tuh, gimana sih? Bisa gk sih? Lo peduli ama alina?"kata Reva emosi,
"Gue udah coba peduli, bner kan ucapan gue?"ujar Elina
"Jaga ucapan lo!"ucap nada dingin,
"Gue tau, kata-kata gue salah! Tapi mau gimana lagi?"ujar Elina lirih,
"Udah ngapa jadi berantem sih? Gue tau na, Lo sedih! Lo kecewa, kita pun sama, tapi ini semua udah takdir! Lo nggak inget kata-kata mommy?"jelas Reva, penjelasan Reva membuat Elina tambah terisak.
"Ayo Lin, sadar ada Fino yg nunggu Lo! Saat denger Lo koma, Fino jadi kek orang Linglung! Kek gk punya tujuan hidup,"kata nada sambil menatap Alina sendu,
"Cepet sadar kak, kita semua kangen Lo! Kangen lo yg bawel, kangen lo yg dingin, gue kangen Lo kak! Bangun, pliss fino nunggunin lo, eh bukan cuma Fino. Kita semua nunggu lo!"ujar Elina sesenggukan,
"Udah yuk, kita keluar! Biarin Alina istirahat,"ajak Reva, lalu mereka semua keluar dari ruangan Alina.
•••MY GIRLFRIEND IS A QUEEN PSYCHOPATH••••
disisi lain, seorang pemuda Sedang mengendarai kendaraannya. Tapi, pemuda itu tak fokus, karena pikirannya untuk saat ini hanya tertuju kepada gadisnya yg terbaring lemah tak berdaya dirumah sakit.
Hampir saja, ia tertabrak truk. Hampir saja pula, ia kehilangan nyawanya. Pemuda tsb adalah Fino, yah fino. Sedari tadi, ia tak fokus saat mengendarai mobilnya.
Akhirnya ia, memarkirkan mobilnya ditepi jalan yg sepi. Ia berusaha untuk menenangkan pikirannya, tapi ia tak bisa pikirannya selalu tertuju kepada Alina, gadis yg akhir² ini selalu datang didalam pikirannya.
Gadis itu, yg telah membuat hati Fino kacau, mendengar kabar Alina koma saja. Fino seperti org yg kehilangan tujuan hidup, baru kali ini ia merasakan hal yg seperti ini. Ia baru merasakan betapa khawatirnya dia kepada Alina, ia takut untuk kehilangan org yg ia sayang untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Selamat Alina, Lo berhasil buat gue begini! Gue sayang sama Lo, jangan pernah tinggalin gue! Gue janji gue akan buat org yg buat Lo begini menderita!"kata Fino meracau, seperti orang mabuk.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Fino pergi untuk menenangkan pikirannya, ia tak pulang ke rumah melainkan ia lebih memilih untuk ke club' malam