
Happy reading🎉
Typo bertebaran!!!
••••
Mereka terus-menerus, menyiksa Alina tanpa henti. Mulai dari menjambak, menampar, dan membenturkan kepala Alina ke tembok. Keterlaluan? Sangat, sangat keterlaluan. Mereka seakan-akan seperti iblis, mereka tertawa diatas penderitaan orang lain.
Jahat? Jelas, mereka tidak memperdulikan kata itu. Yang mereka pentingkan, Alina menderita.
Menderita? Sudah jelas, Alina menderita. Kepalanya sudah sangat pusing, badannya lemas, ia tak makan selama 2 hari. Tenggorokannya kering, dia membutuhkan air. Mereka tidak peduli, mau dia kelaparan atau kehausan.
"Lawan dong sayang,"kata Alika seraya menjambak rambut Alina,
"Gitu aja lemah,"timpal Kezia
"Katanya mau buat perhitungan sama kita? Gimna mau buat perhitungan, gitu aja udah lemes!"sahut Sisil
"Eh kok Nadin gk keliatan?"tnya caca
"Nadin kan jalan sama veno,"jawab Alika
Alina yg mendengarnya, hanya tersenyum getir. Senyuman itu sangat kecil,
Segitu gak pedulinya ya Abang sama Alina? Alina disini bertahan, buat hidup. Abang gatau mereka gimana, mereka siksa Alina bang! Mereka culik Alina, mana bang Veno yg dulu? Klo boleh Alina jujur, Alina kangen sama Abang. Alina kangen bercanda bareng sama Abang,
Mungkin, kata-kata itu bisa mewakili perasaan Alina sekarang. Mulutnya tidak bicara, namun hatinya bicara. Lebih sakit gak dianggap sama abang sendiri, ketimbang diputusin pacar. Itu yg Alina rasakan sekarang,
"Si ***** malah jalan,"ujar Caca
"Biarin kek ca, namanya juga weekend! Berhak dong jalan sama pacar, padahal yg disini lagi butuh pertolongannya!"cibir Kezia
"Udah gak peduli jadinya gitu, udah gak dianggap maybe! Sakit ya gak dianggap, sama kakak sendiri!"sahut Alika
"Iyalah sakit, sakit banget malah! Ya bagus sih, kan berarti dia udh terpengaruh sama omongan Nadin!"kata Sisil keceplosan, kakinya langsung diinjak oleh kezia.
"Aduh, ngapain injek kaki gue sih!"kesal sisil, lalu Kezia pun mendekat dan ia pun bicara tepat ditelinga sisil
"Kalo ngomong, dikontrol ya! Jangan sampe keceplosan gitu pe'a,"ujar Kezia
"Yaudh maap,"
"Lanjut lagi?"tnya Alika
"Oke,"
Mereka tersenyum smirk, dan kembali membuat Alina menderita. Lalu mereka, menggunting baju Alina.
***
Nadin sudah diantar Veno pulang, saatnya dirinya menuju ke tempat Alina, ia ingin menyaksikan seberapa menderitanya seorang Alina. Dia dulu menderita, sekarang giliran Alina yg menderita. Dia tak peduli, jika dicap kejam, jahat dll. Yang ia pedulikan, dirinya puas.
__ADS_1
Puas melihat orang yg dia benci menderita, ia pun mengeluarkan mobil dari garasi dan menuju ke markasnya.
Seperti biasanya, dirinya masih mendengarkan lagu yang diputar oleh radio mobil, Nadin tak sengaja melihat mobil keluarga milik alina. Dia juga melihat Fino dan teman-temannya, awalnya dia mengira ini hanya kebetulan. Tapi sesaat itu, dibelakang mobil mereka ada mobil polisi.
Dengan cepat Nadin mengambil ponselnya, dan menghubungi Alika.
"Mana sih? Nomer Alika?!"gerutu nadin, setelah mendapatkan. Dia langsung menghubungi Alika, namun dia tidak aktif.
"Alika mana lagi? Ini tuh keadaan genting, Astaga!"lanjutnya,
Kemudian ia mencoba menghubungi Kezia, sama dia tidak aktif. Dan itu membuat Nadin kesal.
"Sial, kenapa sih pada acara gak aktif segala!"
Untung saja, Caca online. Segera ia menelpon caca, lalu Caca pun mengangkatnya,
"Kenapa din? Tumbenan, telpon gue?!"tnya caca
"Alika sama Kezia manaaa? Kasih ke mereka berdua, cepet!!!!"jawab Nadin kesal
"Kenapa sih?"ujar Caca
"Kasih mereka Caca!"teriak Nadin kesal
"Iya Astaghfirullah, sabar!"
Lalu Caca mengasihkan ponselnya ke Kezia dan Alika.
"Gawat, lo sekarang pergi dari tempat itu! Dan bilang ke anak buah kita, jangan pernah bilang klo kita yg nyuruh!"perintah Nadin
"Lo ngomong apa sih? Jelasin coba,"ujar Alika tak paham
"Huftt, okeh! Keluarga Alina lagi otw kesitu,"kata Nadin
"APAAAA?! KOK MEREKA BISA TAU SIH,"Pekik mereka, karna diloud-speaker
"Buruan pergi, lo mau masuk penjara?"tnya Nadin
"Ya enggak lah,"sahut mereka
"Yaudah buruan, soal Alina serahkan ke anak buah kita! Terserah mereka mau diapain, yg penting kita udh buat dia menderita!"jelas Nadin,
"Oke deh oke, padahal belum puas gue!"sambung Kezia
"Kezia?! Kita bisa kapan-kapan lanjut ini, ini genting zii!"ujar nadin cemas,
"Bentar kok lo tau? Mereka kesini?"ucap Alika
"Masalah itu, ntar gue ceritain! Sekarang lo lewat belakang, sebelum mereka sampe! Ntar gue jemput kalian,"kata Nadin
Lalu mereka mematikan ponselnya sepihak, nadin pun putar balik arah. Dia memilih jalur lain, namun tujuannya sama yaitu ke tempat yang ia tujukan, untuk menjemput mereka ber-empat.
__ADS_1
***
Mereka pun segera jalan ke arah yang ditujukan, seperti yang dikatakan Fino. Jika Elina, Reva, dan Nada sudah menemukan keberadaan Alina.
Senang? Jelas mereka sangat senang, karna Alina sudah ketemu.
Diperjalanan Fino terus-menerus, mengepalkan tangannya. Jika ditanya marah? Fino jelas sangat marah, sama halnya dengan vero. Begitu pula, dengan Ferisha. Dia akan segera menuntut orang yg telah menculik putrinya, jika perlu hukuman yg diberikan penjara seumur hidup atau tidak tembak mati.
Dibelakang mobil mereka, terdapat mobil polisi. Karna mereka sudah ditugaskan, untuk mengawal keluarga Winata.
Setelah berjam-jam menuju ke tempat ini, akhirnya mereka sampai juga. Tempat yang sangat sepi, jarang sekali dikunjungi oleh orang. Elina, Nada, dan Reva mereka baru sampai. Setelah keluarga Winata sampai, minus Ryan dan Veno. Ryan? Dia lagi ada tugas dikampus yang tidak bisa ditinggalkan, jika bisa ditinggal. Ryan akan memilih ikut dengan kedua orang tuanya.
Jika ditanya Veno? Sudah jelas, dia tidak ikut. Dia baru pulang jalan dengan Nadin, dengan alasan capek. Sampai-sampai dirinya dicibir oleh Vero,
"Jalan sama pacar gak cape, giliran disuruh cari Alina capek! Cih, alibi doang anjing,"
Seperti itulah kata-kata yg dilontarkan oleh Vero,
Polisi pun mengelilingi tempat itu, ada yg berjaga didepan, samping, dan belakang.
Saat mereka hendak membuka pintu, pintunya dikunci. Dan terdengar suara rintihan kecil,
"To-lo-ng!"
Mereka pun langsung mendobrak pintu itu,
Brak
Orang yg berada disitu kaget, orang itu hendak melakukan hal yg tidak sepantasnya dilakukan. Karena emosi Fino tak tertahan, akhirnya Fino menghajar orang itu. Dia tidak terima, jika kekasihnya dilakukan seperti binatang.
Vero langsung memakaian jaket kepada Alina, jika ditanya sekarang? Kondisi Alina sangatlah parah, lebam dimana-mana, bibirnya robek sedikit, rambutnya panjang, pendek.
Ferisha yg melihat putrinya seperti itu, dia tidak kuasa menahan tangis. Jika telat satu detik saja, hampir saja dia melihat putrinya di perkosa oleh orang yg tidak dikenal.
Emosi Fino tak bisa diatur, dia memukul orang membabi buta. Seperti kesetanan, hingga akhirnya mereka melerai.
"Fin udah Fin, orangnya udah gk bisa lawann, lo gak kasihan? Jangan smpe buat orang mati, ditangan lo!"kata Mike
"KASIHAN KATA LO? LO GAK KASIHAN, SAMA CEWEK GUE? DIA MAU AMBIL HAK YANG BUKAN MILIK DIA, DIA MAU AMBIL MAHKOTA ALINA! PIKIR DONG, DIA ITU MANUSIA BEJAT YANG KELAKUANNYA SAMA KAYAK IBLIS, DIA ITU MANUSIA YANG GAK PUNYA HATI, PAHAM LO SAMPE SINI?!"Teriak Fino dengan emosi yg menggebu-gebu
"Tapi disini kan ada polisi fin, jangan main hakim sendiri! Mending kita kasih orang itu ke polisi, biar dia yg nanganin!"sahut rava, Fino mencoba mencerna perkataan rava.
Ada benarnya juga perkataan rava, seharusnya dia tidak main hakim sendiri, dia pun akhirnya melepaskan orang itu. Orang itu, terkulai lemas. Dan langsung diserahkan ke polisi untuk ditindaklanjuti,
"Udah Fin, mending lo fokus sama alina! Alina dimobil, tadi dibawa sama Vero,"ujar verrel
Fino pun ke keluar dari gudang ini, dan menuju ke mobil. Diikuti, oleh polisi yg membawa orang itu, dan diikuti oleh Rava, verrel, dan Mike.
Sedangkan mereka bertiga, tetap berada ditempat ini. Mereka sedang mencari jejak seseorang.
••••My Girlfriend Is A Queen Psychopath•••
__ADS_1