Psychopath Girlfriend

Psychopath Girlfriend
epilog


__ADS_3

Happy reading,


Budayakan vote+komen sebelum membaca,


•••


Esok harinya, Alina mendatangi perusahaan miliknya. Di temani oleh Marvin, Untuk kondisi Alika sendiri, dia sudah mendapatkan donor darah. Alika mendapatkan donor darah, dari Kirana.


Mengapa begitu? Saat Kirana baru sampai di Indonesia, dia mendapatkan kabar dari sekolah lamanya. Jika Alika, sedang membutuhkan donor darah. Kebetulan juga, darah Kirana sama dengan Darah Alika.


Saat Alina datang, banyak yang tidak percaya. Banyak yang mengira hantu, Marvin pun menjelaskan. Akhirnya mereka pun paham, Alina di sambut baik. Lalu Alina, membalas dengan senyuman.


Lalu Marvin, mengantarkan Alina ke ruangannya. Disitu sudah ada Ila, Ila belum tahu jika Alina datang. Saat Alina masuk, Ila sedang mengerjakan tugasnya.


"Hai kak,"sapa Alina


Ila belum tau, tentang kehadiran Alina. Namun, pekerjaan dia dihentikan sejenak. Dia mendongak dan,


"Alinaaaa,"teriak Ila.


Ila pun menghampiri Alina, dia memeluk Alina. Dan juga Ila menangis,


"Alin, lo kemana aja sih hiks. Jahat banget sama gue, hiks."kata Ila sesenggukan,


"Ih jangan cengeng dong, kan Alin udah balik."ujar Alina.


"Emang kak Ila, gatau? kalo Alin mau ke kantor?"sambung Alina,


"Engga, kata Marvin sih. Ada tamu gitu, oh ternyata lo bohongin gue?"kesal Ila.


Marvin pun hanya cengengesan,


"Sorry hehe, mau buat kejutan soalnya."ucap Marvin,


"Kak, kayaknya aku mau buka identitas deh!"tutur Alina.


"APAA,"kata mereka berdua kompak.


"Iya mau bongkar identitas aku, ke publik!"ujar Alina,


"Tapi, kalo musuh kamu. Tambah gencar gimana?"kata Marvin khawatir,


"Enggak bang, tenang aja!"ujar Alina menyakinkan,


"Oke deh, terserah kamu aja lin. Kakak cuma ngikut,"putus Ila.


"Kak ila, bantu sebarin kabar ini ya!"kata Alina,


"Iya,"


"Ntar malam, kita Adain rapat! Sama buka identitas aku,"kata Alina lagi.


"Secepat itu?"tanya Marvin,


"Lebih cepat, lebih baik! Aku gamau, mereka tau dari orang lain bang!"jawab Alina,


"Yaudah, aku mau pamit pulang dulu! Abang disini, bantuin kak ila! Kalo dia genit, sentil aja ginjalnya kak!"kata Alina terkekeh,


"Siap bos,"ujar ila.


Alina pun keluar dari ruangannya, kini di dalam ruangan tinggal mereka berdua.


"La, nikah yuk!"celetuk Marvin,


"Apasih, bercanda ya?"kata Ila.


"Mana ada bercanda, orang serius gini!"ucap Marvin,


Tetapi Marvin, memasang muka bercanda. Itulah, yang membuat ila tak yakin.


"Muka kamu, bercanda Marvin!"kesal ila,


"Cie manggil kamu,"goda Marvin.


Perkataan Marvin membuat wajah ila, bersemu merah. Tapi ila membalikkan badannya, di karenakan dia takut ketauan.


"Yah ngambek, coba ngehadap kesini?" Ucap Marvin,


"Enggak,"kata Ila.


"Ayo dong, bentar doang kok! Gada 5 menit,"bujuk Marvin,


"Enggak,"tolak ila.


"Gada 3 menit deh, janji!"bujuknya lagi,


"Oke, ga ada 3 menit!"putus ila.


Saat ila balik badan, betapa terkejut dirinya. Jika Marvin, sedang berjongkok dan mengeluarkan sebuah cincin.


"K-kamu serius?"kata ila dengan mulut bergetar,


"Iya, will you marry me?"ucap Marvin.


"Yes, i will!"kata ila.


Dengan perasaan campur aduk, Marvin memeluk ila. Ila pun menangis bahagia, dia tidak menyangka. Jika akan seperti ini akhirnya, Marvin melakukan ini. Tanpa sepengetahuan Alina,


***


Alina pun mendatangi rumah sakit, rumah sakit dimana Alika di rawat. Disitu mereka sudah berkumpul, mulai dari keluarga Fino. Keluarga Winata, dan keluarga kandungnya. Bahkan yang membuat terkejut, Oma dan Opa nya datang.


"Oma? Opa?"ujar Alina.


"Hay sayang,"sapa mereka.


"Ini ada apa, kok rame?"ujarnya bingung,


"Kak alin,"teriak wanda.


"Eh Wanda, hai cantik!"sapa Alina,


"Kak, ntal main ya! Kan udah janji, mau beliin boneka balbie!"ujar Wanda, yang sudah ada di pangkuan Alina.


"Iya sayang, tapi jangan sekarang ya! Pasti nanti, kakak ke rumah Wanda kok!"kata Alina,


"Kok, muka kalian sedih sih? Alika mana,"tanya Alina.


Tidak ada yang menjawab, mereka semua membuat Alina was-was.


"Alika mana Fin?"tanya Alina kepada Fino,


Fino masih diam,


"Alika mana Fino,"tanya Alina semakin emosi.


"Alika udah gada, di--"jawab Fino terpotong Alina,


"Ga mungkin,"teriak Alina.


Alina pun berlari ke ruangan Alika, memang sudah tidak ada. Di ruangannya,


Perasaan sedih menyelimuti Alina, dia menangis sejadi-jadinya. Fino yang bingung pun, menghampiri Alina.


"Hey, kamu kenapa nangis?"tanya Fino,


"Alika udah gada kan, jahat kamu Fin! Gak kasih tau aku,"jawab Alina sesenggukan.


"Ngomong apa sih kamu, hey!"kata Fino, seraya menepuk pipi Alina.


"Kamu jahat, hiks."ujar Alina.


"Jahat apa sih by, orang aku tadi mau bilang! Keburu di potong kamu, Alika ada di ruang rawat inap! Dia udah pindahin,"jelas Fino.


"Ih finoooo,"kesal alina sambil memukuli dada Fino.


"Makanya, kalo ada orang ngomong! Jangan di potong,"kata Fino.


"Ya terus, mereka kenapa sedih?"ujar alina,


"Gak tau lah, tanya aja mereka!"kata Fino,


"Alika di ruangan mana?"tanya Alina,


"Mau aku anterin? Sekalian ajak Wanda,"jawab Fino.


"Oke,"


Sedangkan pada orang tua, mereka sedang membahas hal yang penting.


Fino akhirnya, mengantarkan Alina ke ruangan Alika. Diikuti oleh Wanda, yang sedari tadi berada di gendongan Alina. Entah kenapa, Wanda sangat manja dengan Alina.


Wanda disuruh untuk bersama Fino tidak mau, setelah sampai Fino pun masuk ruangan diikuti oleh Alina.


"Eh, ayah Fino? Dari mana aja,"goda verrel. Yang melihat Wanda ada di gendongan Alina,


"Apa sih, rel!"tutur Alina.


"Alin,"panggil Alika.


Alina pun menoleh, Alina sangat senang. Saat melihat Alika sehat kembali, dia ingin menghampiri Alika. Tapi tidak bisa, dikarenakan Wanda tidur di gendongannya.


"Fin,"bisik Alina.


"Apa?"kata Fino,


"Shut, jangan keras-keras! Wanda tidur, ambil Wanda gih! Aku mau ke Alika, bentar!"ujar Alina lirih,


Fino yang merasa paham pun, memindahkan Wanda. Dia mengambil Wanda, dan menaruh Wanda di sofa.


Alina menghampiri Alika, lalu dia memeluk Alika.


"Jangan gini lagi, gue gamau lo kenapa-kenapa!"sahut Alina,


"Iya, gue janji!"sambung Alika.


"Janji?"ujar Alina lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking Alika.


"Janji,"kata Alika.


"Cie, cie akur!"celetuk Vero.


"Jangan keras-keras, ada anak kecil tidur!"kesal Alina,


"Iya maap,"


"Eh kalian tau gak sih?"tanya verrel,


"Enggak,"jawab mereka serempak.


"Babik, kalian tau perusahaan A'C Company?"ujar verrel.


"Tau-tau,"kata mereka.


"Nah, menurut informasi yang gue dapet! Pemilik perusahaan itu, akan go public! Kalian tau kan, selama ini yang selalu datang rapat itu sekretaris nya?"jelas verrel,


Alina yang mendengar perkataan verrel pun tersenyum sangat tipis,


"APAA?"teriak mereka,


Teriakan mereka membuat Wanda terbangun dan menangis, tapi dia tertidur lagi


"Bunda, hiks."tangis Wanda


Mereka yang mendengar tangisan Wanda kelabakan, saat hendak menghampiri Wanda. Dia malah, kembali tidur.


"Untungnya, tidur lagi!"lega Rava,


"Makanya jangan keras-keras setan,"kesal Reva.


"Tau ih, untungnya ga nangis kenceng! Kalo nangis kenceng, yang ada kita di omelin!"sambung Diandra.


"Lo serius? Soal berita itu?"tanya Mike,


"Iyalah, mana mungkin seorang verrel bohong!"jawab verrel,


"Lo tau dari mana?"sahut Veno,


"Alah kek gatau dia aja, dia itu admin lambe turah!"celetuk Vero,


"Enak aja, yang lebih wow! Dia ngundang semua pejabat, untuk membahas rapat ntar malem! Gue aja udah dapet undangan, dari ayah! Disuruh wakilin lagi,"kata verrel.

__ADS_1


"Pasti dia cantik, udah punya suami mungkin!"ujar Rava,


"Palalo punya suami, orang dia seumuran kita!"kata verrel,


"Serius?"ujar mereka para cowok,


"Iya lah, kalo jomblo mau gue Pepet ah!"celetuk verrel,


"Kamu mau selingkuh? Hah?!"sambung Diandra, dengan menatap verrel tajam.


"******,"ledek Rava.


"Engga yang, bercanda aku!"kata verrel cengengesan.


"Alin, lo dateng ga?"tanya Alika,


"Gatau, gue mau ada urusan soalnya."jawab Alina,


"Ah ga asik lo dek, masa ga dateng!"sahut Veno.


Elina pun menghampiri Alina, dia membisikkan sesuatu.


"Lo yakin? Ga salah, dengan keputusan lo kak?"bisik Elina.


"Iya,"jawab alina.


"Kalian bahas apa sih? Kok bisik-bisikan?"tanya Nadila.


"Engga kok, gue kebelet pipis! Mau ngajak Alina, tapi gamau! Yaudh yuk nad, temenin gue!"jawab Elina.


"Ih ogah,"kata nada.


"Ayo la, temenin gue! Udah di ujung nih,"ujar Elina mengajak Nadila.


"Jahat banget kalian, gamau nemenin Elina! Yaudh ayo, sama ila aja!"ucap Nadila.


Mereka berdua pun, keluar ruangan untuk menuju ke toilet.


Saat mereka sedang berbincang-bincang, pintu ruangan Alika terbuka. Muncullah,Dinda, Irana dan Ferisha. Mereka menghampiri Alina,


"Maafin mommy sayang,"kata Ferisha memeluk Alina.


Alina masih diam ditempat, kemudian dia membalas pelukan Ferisha.


"Iya, gapapa kok!"jawab Alina.


"Alin gamau peluk mamah?"celetuk Irana,


"Dengan senang hati,"kata Alina.


"Bunda ga diajak nih?"sahut Dinda.


"Eh bunda, aku kira ga ikut hehe! Sini bunda,"sambung Alina, lalu mereka berempat pun saling berpelukan.


Mereka pun melepaskan pelukan mereka,


"Mamah,"panggil Alika.


Irana pun menghampiri Alika,


"Maafin mamah sayang, seharusnya mamah ga begitu sama kamu! Mamah minta maaf,"ujar irana


"Iya mah, Alika juga minta maaf sama mamah! Kalo ada salah,"kata Alika.


"Ibu kamu dimana sayang?"tanya irana.


"Tadi ibu, keluar katanya mau beli sesuatu! Ntar balik lagi kok,"jawab Alika.


Wanda sudah terbangun, dikarenakan ruangan ini banyak orang dan juga mereka sangat bising. Dia menghampiri bundanya, dan setelah itu Wanda bermain dengan teman-teman Fino.


"Fino, ntar malem! Kamu datang ya, ke acara rapat besar yang diadakan A'C Company!"kata Dinda,


"Engga bun, aku gamau!"tolak Fino.


"Why?"tanya Dinda,


"Ga ada Alina!"jawab Fino.


"Apasih Fin, kamu tinggal dateng aja! Lagian aku beneran ada urusan,"sahut Alina.


"Omelin aja, omelin lin! Kesel bunda, kalo diatur pasti gamau! Sekali aja ini Fin, ayah lagi ada urusan kantor yang benar-benar ga bisa ditinggal! Masa iya bunda yang Dateng,"jelas Dinda.


"Hm,"


"Fino, kamu dateng aja!"perintah Alina,


"Gak,"tolak Fino


"Kali ini aja Fin,"mohon Alina.


"Oke, tapi dengan sangat terpaksa!"putus Fino,


"Gitu dong, giliran sama Alina aja nurut! Dasar,"kata Dinda.


"Kita keluar dulu ya,"pamit Ferisha.


"Iya,"


Mereka pun keluar, Saat mereka keluar kebetulan Rena a.k.a ibu Alika baru saja pulang. Irana pun membawa Rena, tapi dia harus memberikan cemilan ini kepada anak-anak.


"Alika, ini kasih temen-temen kamu ya! Ibu ada urusan sebentar,"kata Rena.


"Iya Bu,"jawab Alika.


"Nih cemilannya,"ujar Alika. Lalu menyodorkan, 3 buah kantong kresek hitam.


Dengan senang hati, verrel mengambilnya. Mereka semua berebut, seperti anak kecil. Saat mereka sedang memakan, Elina dan Nadila balik. Mereka berdua pun, langung mengambil makanan yang ada di kresek verrel.


Alina dan Alika, tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya itu.


Alika hari ini, sebenernya boleh pulang. Tapi dia ingin menghabiskan waktu untuk mereka, Alika pulang jam 6 sore. Bertepatan dengan mereka datang ke acara rapat besar itu, Alika sengaja dikarenakan dia tidak mau. Menyusahkan mereka,


***


Rapat sebentar lagi akan dimulai, namun Alina belum datang. Memang itu sudah menjadi rencana Alina, banyak media yang meliput. Dikarenakan, dia tau. Diantara mereka ada salah satu musuh bisnis Alina,


Sebelum berangkat Alina menyempatkan waktu untuk mampir ke markas, dia menuju ke ruangan leo. Dia meminta leo, untuk mengerahkan anggotanya untuk berjaga di beberapa area.


Salah satu anggota melihat kehadiran Alina, dia menghampiri Alina.


"Queen, terimakasih telah mendatangkan ****** itu! Dengan ****** itu, saya bisa puas! Klo Queen tau, dia sangat jago dalam memuaskan para laki-laki!"ujar anggotanya itu, Alina agak geli untuk mendengarnya.


"Sama-sama, dia lagi bermain lagi kah?"tanya Alina,


"Iya, hampir tiap jam!"jawab anggotanya.


"Oke, saya pamit terlebih dahulu!"kata Alina,


"Hati-hati Queen,"ujar anggotanya.


Alina berlalu dari markas, dan melanjutkan untuk menuju ke kantornya.


Setelah sampai, Alina turun tapi dia menggunakan topeng. Banyak media yang meliput, soal kedatangan wanita bertopeng ini.


Alina di kawal beberapa bodyguard, ada 10 bodyguard seperti nya. Mereka memang di tugaskan untuk menjaga Alina, sehingga para media tidak berani untuk mendekatinya.


Tapi mereka yakin, jika itu adalah pemilik perusahaan A'C Company.


Sebelum ia masuk, ila sudah terlebih dahulu membuka rapat itu. Dia menjelaskan, jika Alina sedang ada sedikit masalah di jalan.


Alina mulai memasuki ruangan rapat, dia menggunakan masker. Tampilannya kali ini, mendapatkan banyak sanjungan dari para petinggi yang hadir.


Seperti wakil dari keluarga Winata, yaitu Veno dan Vero. Lalu wakil dari keluarga Brace, yaitu verrel. Diikuti oleh wakil keluarga, harison yaitu Rava.


Kemudian, disusul oleh wakil keluarga Pramana. Namun, tatapan Fino masih datar.


Ah, tidak lupa pula. Para gadis cantik, yang menghadiri rapat. Seperti Diandra, Nadila, Reva, Nada, Elina dan juga Kirana.


"Maaf, saya sedikit terlambat!"kata Alina,


Alina masih belum bisa lepas dari maskernya, sampai akhirnya di penghujung rapat dia membuka maskernya.


Semuanya tersentak kaget, terutama Fino.


"ALINA?"ujar mereka serempak, kecuali ketiga sahabatnya.


Para pejabat lainnya, juga terkagum-kagum. Bagaimana bisa, seorang gadis belia memimpin sebuah perusahaan yang bisa bergerak dan menduduki peringkat satu di dunia.


Para media tidak di persilahkan masuk, tetapi di luar mereka disediakan proyektor. Banyak teman media tidak menyangka, jika pemimpin perusahaan ini adalah gadis belia.


"Sekian, yang dapat saya sampaikan! Terima kasih,"ujar Alina.


Mereka semua bertepuk tangan,


"Wah ternyata, gadis belia ya! Saya kira wanita berumur, andai anak kita laki-laki pah! Udah saya jodohkan dengan, nona Alina!"kata salah satu istri pejabat,


"Selamat nona, saya bangga dengan anda! Dengan umur yang masih begitu muda, anda bisa memegang perusahaan yang di kagumi satu dunia!"sahut direktur utama, dari perusahaan Austryn.


"Terima kasih, atas pujiannya tuan!"tutur Alina,


Mereka semua menghampiri Alina,


"Gila, gue kira siapa! Lo hebat Lin,"ujar verrel.


"Nah betul, untung jadi dateng!"kata Rava.


"Abang bangga sama kamu,"ucap Mike.


"Makasih bang,"


"Abang juga, gue kira siapa *****! Klo bukan lo, udah gue pacarin!"sahut Vero,


"Nadila gimna?"kata Alina,


"Gak jadi deh, ntar yang ada gue kena amukan dia!"ujar Vero.


"Congratsss sister, Abang bangga! Gak nyangka kamu yang punya ini semua,"ucap Veno.


"Makasih bang,"


"Hay Lin,"sapa kirana.


"Eh hai,"


"Btw, congratsss ya! Masih gak nyangka aja gitu,"ujar kirana.


"Iya makasih, oh iya makasih juga! Udah mau donorin darahnya buat Alika,"kata Alina.


"Sama-sama, Sans aja!"


"Selamat ya, sekali lagi!"kata mereka berdua, Diandra dan Nadila.


"Makasih,"


Fino menatap Alina dalam, dia menghampiri Alina. Dia tidak mengatakan apa-apa, namun Fino memeluk Alina.


"Aku bangga sama kamu,"bisik Fino.


Alina pun tersenyum, Fino melepaskan pelukannya. Lalu dia menggandeng, Alina keluar ruangan.


Diikuti yang lain, mereka semua berpasangan kecuali Kirana.


Saat keluar ruangan, media menyorot Fino dan Alina yang berjalan di depan. Banyak pertanyaan dari mereka,


Kalian punya hubungan spesial?


Apa tanggapan anda, tentang pacar anda ini?


Cocok ya....


Couple goals..


Apalagi mereka yang di belakang nona Alina,


Cantik' semua.


Terus ganteng semua.


Dan  masih banyak lainnya.


Alina pun duduk, di kursi yang sudah di siapkan. Alina juga mengadakan pertemuan khusus, untuk para wartawan.

__ADS_1


Alina membiarkan mereka menanyakan, hal apa saja. Alina sengaja, mengadakan acara tersebut. Dikarenakan, situasi untuk Alina keluar dari kantor tidak memungkinkan.


"Baik nona, sejak kapan anda? Membuat perusahaan ini,"tanya wartawan tersebut,


"Sejak saya, berumur 15 tahun!"jawab Alina,


"Apakah ada tantangan sulit, ataupun kendalanya?"ujarnya,


"Banyak sekali, apalagi jika ada yang tidak suka! Pasti mereka akan mencoba menghancurkan, apalagi yang menjadi musuh dalam selimut!"kata Alina,


Saat Alina mengatakan hal itu, terdengar suara tembakan. Dan membuat mereka panik,


"Di harapkan tenang, jangan ada yang panik!"ucap Marvin bersuara,


Mike dan Marvin sudah bertemu, mereka juga sudah kembali seperti semula. Menjadi akur,


Mereka pun mengikuti instruksi, dari Marvin. Beberapa menit kemudian, datang seorang laki-laki berpakaian hitam. Dia menghampiri Alina, Fino hendak mencegahnya. Namun, kata Alina tidak usah.


Alina tau, dia adalah salah satu anak buahnya. Dia mengatakan, bahwa keadaan sudah aman. Dan juga, yang ingin merusak acara Alina sudah ditangkap. Orang itu ada di markas Alina,


Alina menghampiri Marvin,


"Bang, udah aman semua!"bisik Alina,


Setelah itu, Alina kembali ke tempatnya.


"Perhatian, situasi sudah kondusif sekarang! Bagi kalian, yang ingin berfoto bersama dengan nona Alina! Saya persilahkan,"ucap Marvin.


Teman-teman media, pun berebut. Untuk berfoto dengan Alina, setelah semuanya selesai. Marvin mengatakan apa yang dia sampaikan,


"Kalian, kalo mau pulang dulu! Gapapa, entar gue baliknya terakhir. Masih ada urusan bentar,"ujar Alina.


"Yaudh, kita pamit dulu ya!"kata verrel,


Verrel pun keluar bersama Diandra, diikuti oleh vero! Dikarenakan, dia harus mengantar Nadila. Kemudian, Kirana.


"By, aku pulang ya!"kata Rava,


"Iya, hati-hati di jalan!"sahut Reva.


Rava pun melenggang, dari hadapan mereka.


Kini tersisa, Mike dan Nada. Alina dan Fino, Veno dan Elina. Reva, lalu Ila dan Marvin.


"Dek, gue ngelamar ila!"kata Marvin,


"Hah? Serius?!"kaget mereka berempat,


"Iyalah, ya kali gue boong!"kata Marvin,


"Bagus deh, gercep!"sahut Elina,


"Kapan nyebar, undangan?"tanya Mike,


"Ntar juga, kalian tau!"jawab Marvin,


"Iya deh bang, yang buat lo seneng apa yang engga sih!"tutur Alina,


"Yang penting, jangan nyakitin perasaan kak Ila! Ketauan, gue tebas kepala lo!"sambungnya,


"Alin,"panggil Fino.


Alina pun menoleh,


"Ah, iya? Kenapa?"balas Alina.


"Gapapa kok, manggil doang!"ujar Fino,


"Dih, nyebelin!"kesal Alina


"Alin, nikah yuk!"ajak Fino,


"Hah? Nikah? Kamu sehat kan? Ga sakit? Gak ketularan begonya, verrel?"ujar Alina bingung,


"Asek diajak nikah, uhuy!"goda Veno,


"Apasih,"elak Alina.


"Iyain aja lin, biar Fino seneng!"sahut Reva,


"Eits, no no! Nunggu gue nikah dulu, abis itu Alina!"ucap Marvin,


"Enak aja, lu dulu! Abis itu gue, terus alina!"ujar Mike,


"Lo mau nikah sama siapa dah?" Tanya Nada,


"Kamu lah,"jawab Mike.


"Emang gue mau?"balas Nada,


"Jahat banget, ngomong gitu!"kata Mike merajuk,


"Najis, ngambekan!"timpal Reva,


"Idih sirik,"tukas Mike.


"Nikah, nikah! Lulus aja belom, kerja aja belom! Udah bahas nikah, mau dikasih apa anak istri kalian nanti? Batu?"lerai Marvin,


"Ntar gue kasi makan, cacing!"ujar Mike,


"Lo kira gue ayam?"kesal Nada,


"Yah, nad! Masa di sama-samain sama ayam, kata gue mah putusin aja nad!"kompor Reva,


"Sialan, kompor!"ketus Mike.


"Shut diem, ntar malem! Kalian Dateng ke rumah gue, disitu ada acara! Ada rahasia besar, yang mau gue buka!"ucap Alina,


Rahasia apa lagi? Yang disembunyikan oleh Alina?


Apakah Alina serius, untuk membongkar semua identitasnya?


Entahlah, pola pikir Alina sulit untuk ditebak. Mereka hanya menikmati alur, yang di berikan oleh Alina.


"Oke,"kata mereka.


***


Mereka semua pun datang, mulai dari keluarga Winata, keluarga Grady, dan keluarga para sahabat Alina datang.


Mereka semua sudah berkumpul, meja untuk para ibu dan bapak sendiri. Meja untuk, para sahabatnya sendiri. Leo pun turut menghadiri acara Alina, di karenakan malam ini dia akan mengaku kepada semua orang. Jika dirinya adalah seorang pemilik gangster,


Alina akan berusaha jujur, untuk apa dia berbohong? Tidak ada gunanya, kebohongan malahan membawa petaka.


Dia melakukan itu, dikarenakan dia tak ingin jika salah satu dari mereka tahu dari orang lain. Takutnya, mereka malahan mengarang cerita.


Alina sudah siap, jika Alina akan di benci. Terutama Fino,


Leo pun membuka acara tersebut,


"Selamat malam semuanya,"sapa leo.


"Malam,"ujar mereka.


"Saya, Leo Fernando Soler. Sahabat dari pada Alina Christina, saya akan membuka acara ini! Di karenakan, acara ini sangat penting. Bagi saya dan Alina,"ucap Leo.


Mereka pun menyimak, apa yang di katakan oleh Leo.


"Saya harap, jika kalian sudah mengetahui ini! Kalian tidak membenci Alina,"imbuh Leo.


Perkataan leo membuat mereka semua penasaran,


"Untuk Alina,Reva, Nada, Dan Elina! Saya persilahkan, kalian untuk berbicara yang sejujur-jujurnya!"perintah Leo,


Mereka menggunakan pakaian serba hitam, dan membuat mereka tambah bingung. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa mereka menggunakan pakaian serba hitam?


Seketika lampu yang tadinya nyala, sekarang menjadi mati. Mereka semua panik,


"Tenang, jangan Panik!"kata Alina membuka suara,


"Kalian akan aman, bersama kami!"sahut Reva,


Mereka berempat, menggunakan topeng mereka masing-masing. Saat lampu di nyalakan, saat itulah mereka menunjukkan topengnya.


"Kalian tau, topeng ini?"tanya Alina,


"Gue tau, itu topeng punya Queen BDS,"jawab verrel.


"Lalu yang ini?"ujar nada,


"Nah iya, itu punya Angel Demons!"kata verrel,


"Kok lo tau sih,"bisik Rava.


"Tau lah, verrel gitu loh!"


"Terus ini?"tanya Reva, sambil menunjukan topengnya.


"Saya tau, itu punya red demons!"jawab ayah Verrel,


"Ini? Kalian tau, punya siapa?"ucap Elina seraya melepas topengnya,


"Itu punya, black demons kan?"tebak Mike,


"Jadi, saya, nada, reva, dan Elina adalah pendiri dari gangster black demons soul,"ujar Alina.


"APAA?"teriak mereka semua,


"Iya, ketua itu saya! Tapi kalian perlu tau, saya tidak akan membunuh seseorang jika seseorang itu tidak melakukan kesalahan! Dan juga, mereka tidak mengusik ketenangan saya,"jelas Alina.


Tiba-tiba, Fino menggebrak meja. Dia menghampiri Alina, Alina sudah siap jika dia akan kehilangan Fino.


Ternyata, fikiran Alina salah besar. Fino datang, untuk memeluknya. Tentu saja, Alina sangat terkejut. Dia tidak menyangka, jika akan seperti ini hasilnya.


Respon mereka semua, malah bangga. Tidak ada yang mencibir, apalagi menghina. Semuanya diluar dugaan, Leo. Leo pikir, mereka akan membenci Alina dan mengucilkan Alina.


Apalagi wisnu, dia sangat bangga kepada putri bungsunya. Selain dia pendiri perusahaan, dia juga seorang ketua mafia yang disegani seluruh dunia.


Mereka semua berdecak kagum, apa yang Alina dan para sahabatnya dapatkan.


Jika kalian fikir, bunda Fino dan mamah Alina akan membenci. Kalian salah, malahan mereka senang. Atas pengakuan Alina,


Mike menghampiri nada, dia datang seperti Fino. Diikuti oleh, Veno dan Rava.


Jujur mereka sangat bangga, dan empat sekawan ini. Banyak perdebatan yang mereka alami, banyak kejadian drama yang mereka jalani. Namun, Jika sudah di takdirkan kisah mereka happy ending. Ya akan tetap happy ending, walaupun banyak rintangan dan cobaan.


Dalam hubungan persahabatan, pasti akan ada sebuah cekcok, perbedaan pendapat, kesalahpahaman. Jadi, lalui itu bersama-sama. Saling rangkul merangkul, bahu-membahu. Untuk sebuah keutuhan, sebuah persahabatan.


Fino, Mike, Rava, dan Veno pun mengatakan.


"My Girlfriend Is A Queen Psychopath,"kata mereka serempak.


Mereka pun tersenyum, senyum untuk kebahagiaan. Jujur saja, mereka tidak menyangka. Jika endingnya akan seperti ini,


Mereka semua berkumpul, kecuali untuk bapak dan ibu mereka. Acara ini di khususkan, untuk para sahabat Alina.


Mereka bernyanyi bersama, saling tukar cerita. Inilah akhir kisah dari Alina, kebahagiaan Alina bertambah. Saat Fino melamarnya, ini semua benar-benar di luar dugaan Alina.


Inilah akhir kisahku, inilah akhir dari segalanya.


Semua duka yang pernah aku alami, kini menjadi sebuah kebahagiaan.


Aku kira mereka akan membenciku, nyatanya tidak.


Terimakasih untuk kalian, sudah membaca kisahku.


Sekarang aku yakin, jika cinta sejati memang benar adanya.


Jika sahabat sejati benar adanya,


Cinta sejati, akan siap menerima kita apapun kelebihan dan kekurangan kita.


Seperti halnya, sahabat sejati.


Sahabat sejati, tidak akan meninggalkan kita disaat posisi kita terpuruk sekalipun. Bahkan, mereka akan membantu kita untuk keluar dari keterpurukan.


Terima kasih Tuhan, telah mendatangkan mereka di hidupku.


Yang semulanya hidupku abu-abu, sekarang sudah banyak warnanya.


Inilah ending yang sesungguhnya,

__ADS_1


buat sequel, ada di *******.


__ADS_2