RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Part 10


__ADS_3

Efek haus darah Alvaro hilang setelah berhasil membunuh kawanan King Slime, Blood Wolf dan Toxic Toad.


“Sungguh merepotkan.” Alvaro matanya berkeliling mengamati dan membaca keadaan sekitar. Dia juga membaca pola gerakan Venom Fang dalam menembakan bola beracun ke arahnya. “Sekarang!”


Alvaro menarik salah satu pistol dari pinggangnya dan langsung diarahkan ke kepala nomor empat Venom Fang sebelah kirinya. Pelatuk itu ditarik secepat kilat dan melesatkan sinar laser berwarna merah muda.


DOR!


Proyektil laser tersebut mengenai dahi kepala nomor empat dari arah sebelah kiri Alvaro dan langsung membuatnya bungkam untuk selamanya.


Bukannya menurun serangan bola racunnya, justru Venom Fang semakin beringas dan brutal menembakkan bola-bola beracun yang ukurannya diperkecil dengan kecepatan yang meningkat tajam.


BAM!


Tangan kiri Alvaro terkena salah satu bola beracun, “Aaaakh!” pekiknya sambil berguling ke kanan dengan raut muka meringis kesakitan.


Saat berguling itu juga, Alvaro kembali menembakkan pistol ke arah kepala nomor delapan dari arah sebelah kirinya dengan tangan kiri. Lalu pistol itu terjatuh dari genggaman Alvaro, karena tangan kirinya sudah terinfeksi racun.


Tembakannya tepat mengenai lubang hidung kepala nomor delapan Venom Fang dan menembus otaknya, hingga membuat kepala itu tewas seketika.


Serangan bola beracun Venom Fang berhenti dan tubuhnya melata cepat ke arah Alvaro yang sedang berlutut satu kaki dengan tubuh penuh ruam akar berwarna ungu. Tanda itu merupakan racun Venom Fang sudah mulai bereaksi dan membuat tangan kirinya perlahan meleleh.


Untuk menghentikan racunnya agar tak menyebar ke seluruh tubuh, Alvaro terpaksa memotong lengan kiri itu dengan katanya yang masih dipegang di tangan kanannya dan tepat mengenai bagian siku.


SLASH!


Bersamaan tangan kiri Alvaro yang terpotong, ekor Venom Fang yang disabetkan ke arah Alvaro tepat mengenai badannya dan membuatnya terlempar sejauh lusinan meter, hingga tubuhnya terpundur di permukaan tanah dalam keadaan meringkuk.


“Guhak!” Alvaro memuntahkan darah, namun darahnya lebih condong ke warna merah terang dan membuat VenomFang yang melihat darah segar itu semakin bernafsu untuk menelan Alvaro bulat-bulat.

__ADS_1


Bau cairan merah itu menyeruak dan sangat menusuk hidung Venom Fang dan masuk dalam mode mengamuk, sebab dia sudah kehilangan akal sebagai monster yang memiliki kecerdasan tersendiri.


“Aaaakh …!” pekik Alvaro meringis kesakitan dan mencoba bangkit dengan detak jantung yang berdegup kencang dan ritmenya tak beraturan. “A-aku tak boleh mati. A-aku t-tak boleh ma-mati.”


Racun itu terus menyebar ke seluruh aliran darah di tubuh Alvaro, tapi tidak membuat tubuhnya meleleh, sebab efek korosi, dan menuju ke tiga tempat, yakni otak, jantung dan perut. Tepatnya tempat dimana Arkha disimpan sebagai sumber energi dari para Arkham.


Disaat sekarat pun Alvaro masih memegang gagang Ringu kuat-kuat. Tekad hidupnya belum padam dan masih berkobar-kobar.


Venom Fang berhasil menggapai tempat Alvaro yang sudah bangkit dan berlutut satu kaki. Lalu menerkam tubuh Alvaro dengan rahangnya dan diangkatnya ke udara dengan keenam kepala meraung keras, menunjukan bahwa dia mendapatkan buruan mangsa yang berkualitas.


Ringu masih dipegang oleh tangan kanan Alvaro dengan pandangan agak buram, tapi masih mempertahankan kesadarannya.


Saat racun yang berada di dalam aliran darahnya sudah sampai ke otak, jantung dan lambung Alvaro, bagian kepala, dada dan perut Alvaro bersinar.


Tekadnya yang lebih kuat membuat nyawanya yang sudah sekarat itu menolak mati dan membangkitkan sesuatu di dalam tubuhnya.


[Skill Rage Burst Mode adalah kemampuan pengguna untuk meningkatkan 35% kekuatan, kecepatan, dan pertahanan pengguna selama 1 menit dengan menyelimuti tubuhnya dengan aura Arkha berwarna ungu]


Mata Alvaro langsung membelalak dan katananya diayunkan untuk menebas kepala Venom Fang yang telah mencengkram tubuhnya.


SLASH!


Kepala ular itu terpotong dan melepaskan cengkramannya pada tubuh Alvaro. Tapi kepala lainnya menyerang dengan gerakan mematuk ke arah kepala Alvaro. Dengan sigap, dia berguling ke kanan dan ke kiri sambil menebas satu persatu kepala Venom Fang yang akan mematuknya.


SLASH! SALSH!


Siluet garis putih berbentuk melengkung, tercetak jelas di leher Venom Fang. Membuat kepala itu terlepas dari lehernya dengan cairan merah yang menyembur deras membasahi tubuh Alvaro.


Alvaro melompat mundur dengan raut wajah dingin, dan tubuh diselimuti aura Arkha berwarna ungu pekat seperti kobaran api yang menyala-nyala, “Rage Burst Mode!”

__ADS_1


Otot di sekujur tubuh Alvaro membesar dan aura Arkha yang berkobar-kobar itu mendesis seperti aura super saiya.


Dengan tatapan nyalang, Alvaro melesat dengan kecepatan seperti peluru ke arah VenomFang dan melakukan tebasan cepat secara acak untuk memotong satu persatu kepala Venom Fang.


SLASH! SLASH!


Siluet garis putih secara acak muncul di leher dan tubuh Venom Fang. Siluet garis putih itu merupakan tanda tebasan yang dibuat Alvaro pada Venom Fang. Sedetik kemudian, leher-leher kepala Venom Fang ambruk ke permukaan tanah dengan cairan merah menyembur deras ke udara dan membasahi tubuh Alvaro.


Hidungnya mengendus bau cairan merah dari Venom Fang dan menggugah nafsu makannya.


[Selamat, tuan mendapatkan skill pasif Bloodlust]


[Skill Bloodlust adalah kemampuan pengguna merasakan hawa membunuh pada target dan bisa menekan balik target tersebut dengan aura membunuh milik pengguna hingga membuat target terkena efek ketakutan]


[Skill ini akan aktif secara otomatis jika pengguna ditekan oleh aura membunuh oleh target dalam radius 100 meter dan rasa haus darah pengguna meningkat drastis, bahkan bisa kehilangan kesadarannya]


Kesadaran Alvaro kembali hilang melihat cairan merah yang tercecer di permukaan tanah. Dia mendekati salah satu kepala dan menyayat-nyata kulit kepala Venom Fang untuk mengeluarkan sebongkah dagingnya.


Dengan air liur yang menetes dera, Alvaro memakan daging berwarna merah yang masih segar. Dia memakannya sangat lahap sampai-sampai lupa bernafas, walaupun sesaat. Karena saking enaknya daging ular beracun itu di lidah Alvaro.


Setelah merasa kenyang memakan satu kepala Venom Fang yang lebih besar. Kedua taring Alvaro menyusut dan kesadarannya pulih. Tapi, dia tidak ingat apa-apa.


“Apa yang terjadi?” Alvaro memandangi tangan kanannya yang berlumuran darah segar dengan raut muka dipenuhi tanda tanya besar. “Apakah aku telah memakan daging mon-monster itu?”


Bau darah masih tercium dari mulutnya yang penuh dengan cairan merah. Ada perasaan menyesal dan ingin muntah. Tapi, daging merah itu terasa sangat kenyal dan lembut di tenggorokan Alvaro. Otaknya mengirim sinyal bahwa daging merah itu tidak berbahaya daan sungguh sangat enak.


“Disaat dunia seperti ini akan sangat repot kalau tidak mempunyai stok makanan. Aku akan mencoba bertahan hidup dengan memasak daging monster saja. Daripada mati kelaparan.”


Alvaro mulai mengumpulkan semua mayat monster satu persatu untuk disimpan ke dalam jam tangan ruang di pergelangan tangan kanannya.

__ADS_1


__ADS_2