
Alvaro akhirnya tiba di Pelabuhan Banyuwangi dengan nafas terengah-engah. Dia kehabisan energi arkha dan harus mencari balai pustaka obat untuk membeli Arkha Potion.
“Aruna, aku kehabisan Arkha potion. Ini potion milikku yang terakhir.”
Alvaro mengeluarkan dua botol cairan merah dari jam tangan ruang miliknya. Barang itu merupakan barang terakhir yang dimiliki Alvaro.
“Astaga! Aku juga kehabisan! Bagaimana ini?” Aruna terlihat panik, hingga mondar-mandir sambil memijat keningnya.
Beberapa detik berikutnya, sudah berubah ekspresi menjadi tersenyum sumringah, “Aha! Aku baru ingat jika disini memang tidak ada balai pustaka obat, tetapi aku dengar disini ada seorang alkemis yang pandai meramu potion.”
Alvaro menenggak dua botol cairan merah itu dengan cepat, lalu membalas perkataan Aruna, “Kalau begitu, kita beli tiket kapal dahulu. Lalu kita cari orang itu!”
Mereka berdua segera menuju ke salah satu vending mesin dan memindai kode QR yang tertempel di vending mesin tersebut. Keduanya bergantian memindai untuk melakukan transaksi pembelian tiket kapal menuju Bali.
Setelah selesai, mereka berdua bersama-sama mencari seorang alkemis wanita yang kadang-kadang suka menyamar menjadi seorang pengemis. Meski sebenarnya ada sedikit keraguan yang terlintas di kepala.
“Apa benar dia suka menyamar menjadi pengemis?” tanya Alvaro sangsi dengan informasi yang diberikan oleh Aruna.
“Iya, itu pasti. Ingat perhatikan bagian lengannya ketika menerima uang. Ada tato bulatan kepala Naga di lengan sebelah kiri,” ucap Aruna dengan tegas untuk meyakinkan Avaro.
Saat itu Alvaro menemukan seorang pengemis tua renta dan memberinya uang seratus ribu. Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari seorang gadis muda dari arah selatan, “Tolong aku!”
Alvaro dan Aruna bergegas lari dengan cepat ke arah sumber suara. Mereka mendapati seorang gadis sedang diinjak-injak oleh oknum hunter yang sedang memerasnya.
“Cepat buatan aku potion! Kalau tidak lehermu aku penggal!” ancamnya dengan pedang terhunus ke arah leher Sang Gadis.
“Fire Bullet!”
Dari ujung jari kanan Aruna keluar proyektil peluru secepat kilat dan langsung mengenai tangan oknum hunter, hingga pedangnya terjatuh ke permukaan tanah.
“Hyper Speed!”
Bersamaan itu pula Alvaro melesat dan hilang dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba dia sudah ada di depan oknum hunter tersebut, dan menghantamkan lutut kanan ke perutnya, hingga oknum hunter tersebut jatuh tertelungkup dengan meringis kesakitan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Aruna khawatir sambil menegakan tubuh sang gadis bernama Yuna.
Mata Aruna memindai tubuh Yuna untuk melihat luka-lukanya. Akan tetapi matanya terhenti saat melihat tato bulatan kepala Naga di lengan kiri Yuna.
__ADS_1
“Fire Phoenix!” seru Aruna dan membakar tubuh Yuna dengan api hijau yang mempunyai efek regenerasi sel-sel dengan sangat cepat.
“Terima kasih telah menyembuhkanku,” ucap Yuna sambil menunduk hormat ke arah Aruna.
“Aku bisa meminta sesuatu pada Nona?”
“Ya, katakanlah,” jawab Aruna cepat.
“Tolong bawa aku kemanapun Nona pergi,” pinta Yuna, lalu melihat ke arah oknum hunter dengan tatapan tajam.
Oknum hunter tersebut sedang diinjak lehernya oleh Alvaro, “Kenapa kau menyakiti dia? Kita ini sama-sama hunter dan dibawah naungan bendera yang sama.”
“Hahaha …. Naungan bendera yang sama?” Hunter itu tertawa jahat dan melanjutkan, “Tidak ada naungan bendera yang sama. Guild, asosiasi hunter dan sekarang muncul asosiasi monster hunter, apakah itu juga naungan bendera yang sama dan mempunyai visi, serta misi yang sama?”
“Aku tidak peduli dengan semua perserikatan manusia dalam naungan ketiga nama tersebut."
"Aku Alvaro Renaldi bersumpah akan mengembalikan bumi bersih tanpa polusi radiasi arkha, dan membersihkan setiap hunter jahat yang ingin menguasai bumi.”
Tangan kiri Alvaro ditempelkan tepat ke arah kepala hunter laki-laki tersebut, “Infinity Gear: Absorb Energy!”
Namun, ada fenomena lain setelah Alvaro menyerap semua energi di dalam Horus hunter laki-laki tersebut. Ketika tangan kiri Alvaro ditarik ke arahnya, genggaman tangan tersebut memegang sebuah bola kristal berwarna emas.
Untuk menghindari masalah, bola kristal tersebut langsung Alvaro masukan ke dalam jam tangan ruanh miliknya. Tentu saja untuk disimpan dan diteliti lebih lanjut tentang manfaat, serta mudharatnya.
......................
Dua jam kemudian, Kapal Pesiar di perairan selat Bali.
Aruna menyetujui untuk membawa Yuna ke Bali bersama mereka berdua. Akan tetapi dengan syarat Yuna harus mau membuatkan Arkha Potion untuk mereka.
Kini Yuna sedang berada di atas kapal pesiar. Sambil memandang lautan yang sudah berubah warna airnya menjadi warna ungu pekat.
"Kapan dunia dan laut ini akan kembali bersih?" gumam Yuna dan hal itu didengar oleh Alvaro yang sama-sama sedang bersandar di pembatas besi sambil menatap lautan selat Bali yang sangat keruh.
“Aku memang tidak bisa menjanjikan kapan secepatnya polusi ini akan berakhir. Namun, aku sudah menemukan cara untuk mengurangi polusi radiasi arkha ini, tetapi membutuhkan sumber daya yang cukup banyak,” balas Alvaro dengan mendongakan kepala ke langit yang agak terang.
Yuna membalikan badan dengan menyandarkan tubuhnya ke pembatas besi dan tersenyum sinis, "Mas, tampaknya kamu sangat percaya diri menghadapi dunia yang penuh kekejaman ini. Aku saja tidak mampu untuk bersikap percaya diri atas diriku sendiri."
__ADS_1
"Analisa status Yuna!" titah Alvaro dalam hati.
...[Tetew-tetew! Status]...
...<>............¤………..<>...
...[Nama: Yuna Nandini]...
...[Rank: Elite(100/10.000)]...
...[Elemen: Water]...
...[Job: Alchemy]...
...[Kondisi tubuh: Gerd]...
...<>............¤………..<>...
Kapten kapal memperingatkan melalui pengeras suara, “Perhatian kepada seluruh penumpang di kapal pesiar Brojol Amosworo!”
“Harap masuk ke dalam kabin darurat. Telah muncul portal level emas. Sekali lagi kepada seluruh penumpang harap masuk ke dalam kabin darurat, telah muncul portal level emas di sebelah barat!”
Alvaro menarik tangan Yuna menuju kabin darurat dan bertemu dengan Aruna juga yang sedang menuju kabin darurat. Setelah masuk kabin darurat yang muat untuk empat orang, mereka bertiga berdiskusi.
"Alvaro, jika kita tidak turun tangan. Takutnya para hunter rank Chief keatas tidak akan sempat untuk menutup portalnya. Aku takut kejadiannya seperti yang lalu-lalu. Monster keluar dari dalam portal dan ujung-ujungnya akan menyerang kapal kita," kata Aruna panik.
"Saat ini kita tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa memiliki solusi lain. Semua orang disini rank hunternya rendah termasuk kita berdua. Level ema situ bukan tandingan kita,” sergah Alvaro memijat keningnya berkali-kali.
“Aku ada solusi. Kalian bisa naik rank dengan sangat singkat, tetapi beresiko besar jika menggunakan kristal Arkha dibawah level S," usul Yuna dan membuat wajah kedua orang yang sedang panik itu langsung sumringah.
Aruna dan Alvaro saling bertatap-tatapan dengan menaik-turunkan alisnya. Mereka berdua malah bercanda disaat genting seperti ini.
"Cepat keluarkan kristal Arkha level S itu!" pinta Aruna sambil mendorong dahi Alvaro. Namun, Yuna cukup terkejut ketika Aruna membicarakan kristal Arkha level S, karena kristal tersebut sangat langka.
Alvaro mengeluarkan satu bongkahan kristal berbentuk bunga lotus berwarna pelangi dan menunjukannya pada Yuna "Ah, kamu itu nggak sabaran Aruna. Tenang saja, sudah ada ahlinya."
__ADS_1