
Anak buah Fahmi menembaki Alvaro dan Aruna tanpa henti. Bahkan menyelimuti senapan M14 yang mereka pegang dengan aura partikel arkha dengan kepadatan sepuluh kali lipat.
Alhasil dinding api yang dibuat oleh Aruna berhasil ditembus. Ketiga mobil Jeep Rubicon itu berhenti dan semua anak buah Fahmi yang berjumlah 15 orang keluar dari mobil.
Mereka menganggap dengan menembus pertahanan dinding api yang dibuat oleh Aruna, bisa berhasil. Ternyata justru kedua buronan mereka telah tewas terbombardir oleh proyektil-proyektil yang memiliki kepadatan energi arkha sepuluh kali lipat tadi.
Suara ledakan terdengar sangat keras seperti dentuman meriam. Suara ledakan itu berasal dari motor Alvaro yang meledak karena terkena proyektil-proyektil peluru yang ditembakan oleh lima belas orang anak buah Fahmi.
“Bos, sampah busuk itu sudah mati!” teriak salah satu anak buah Fahmi dengan menyunggingkan senyum.
Mereka masuk lagi ke dalam mobil. Ketiga mobil itu berputar arah meninggalkan Aruna dan Alvaro yang bersembunyi di dalam parit.
“Sial, kenapa kita harus masuk ke dalam parit sih? Bajuku kotor tau!" keluh Aruna karena tubuhnya sudah berlumuran air comberan.
“Ini hanya satu-satunya cara yang aman. Jika kita melawan kita akan amsyong. Mereka semua hunter Rank Chief, sedangkan kita berdua hanya Rank Mythic. Apa kamu mau mati?”
Alvaro yang kesal malah memeluk erat Aruna dengan tubuh gemetar. Dia sebenarnya sangat ketakutan, jika saja dia tidak bertindak melompat membawa Aruna dan masuk ke parit sedalam 2 meter mungkin tidak akan selamat. Bahkan mungkin saja mereka berdua sudah menjadi mayat karena ditembaki oleh anak buah Fahmi.
Aruna bisa merasakan ketakutan Alvaro dan balik memeluknya, agar pria berambut hitam tersebut tenang, “Tenanglah. Aku akan selalu bersamamu. Aku berjanji hidup dan matiku bersamamu.”
“Te-terima kasih Aruna.” Alvaro melepaskan pelukannya.
Akan tetapi dia bingung harus pergi kemana, sebab Alvaro merasa jika mereka berdua sedang diburu oleh orang yang telah mengirimkan Nargacuga. “Apakah kita harus kembali ke apartemenmu?’
“Tidak perlu. Kita kabur saja ke Bali. Disana lebih aman untuk kita. Katanya juga pra hunter disana sedikit, kita bisa berburu disana,” jawab Aruna lalu mencium pipi Alvaro yang berlumur air comberan.
“Kamu manis walaupun bau air comberan, hahaha ….”
“Oh, sungguh? Tidak!” Alvaro membuka matanya lebar-lebar.
Hatinya merasa senang bukan kepalang karena tiba-tiba dicium oleh Aruna. “Andai saja dunia ini sudah normal. Aku ingin melamarmu.”
“Masa?”
“Iyalah!”
“Ciyus, mi apa?”
“Mie tek-tek, ah! Gitu mulu kalau aku serius.”
“Ngambek ni, yee!”
__ADS_1
Untuk menenangkan Alvaro yang sering ngambek akhir-akhir ini. Aruna langsung mencium bibir Alvaro. Seketika itu juga rasa kesal dan ngambeknya hilang.
“Ternyata bibir Aruna memang manis,” batin Alvaro dengan kedua pipi merona.
Setelah melepaskan bibirnya dari bibir Alvaro, Aruna malah mendorong dahi Alvaro, “Jangan berpikiran mesum! Kita belum sah!”
“Idih, ya wajar saja si kalau wanitanya kaya bidadari seperti ini, seksi, sintal, dan anunya juga gede. Siapa yang nggak berpikir mesum?” Alvaro malah balik mendorong dahi Aruna dan membuat Aruna berpura-pura menangis.
“Jangan akting! Ayo kita keluar dari parit ini!”
"Ah, kamu mah nggak peka."
"Apanya yang nhgak peka."
Alvaro langsung menggendong tubuh Aruna ala bridal style. Lalu melompat tinggi untuk keluar dari dalam parit.
“Sib, nasib! Baru saja jualan sehari, sudah harus pindah ke Bali,” batin Aruna kesal.
“Wind Speed!”
Setelah mendarat dengan sempurna di permukaan aspal, Alvaro yang masih menggendong Aruna, langsung berlari kencang ke arah kedai angkringannya. Tujuannya hanya satu, dia tidak rela jika kedai angkringannya ditinggal begitu saja. Padahal baru saja dibelinya dengan harga dua puluh juta kemarin.
“Beres, ayo kita pergi ke Banyuwangi untuk menyebrang ke Bali!” seru Alvaro dengan raut muka sumringah. “Hyper Speed!”
Alvaro berlari tambah kencang seperti kilatan petir menuju pelabuhan di Banyuwangi yang biasa digunakan untuk menyebrang ke Bali.
Semenjak melakukan Enchanting ke Pedang Riku menggunakan Storm Core, tubuh Alvaro seringan kapas dan juga memiliki banyak skill yang dikhususkan pada reflek tubuh juga peningkatan kecepatan tubuh.
......................
...Rumah Alvaro....
Terdengar suara rintihan manja di dalam kamar Alexa. Sepuluh anak buah Fahmi yang lain turun di depan rumah Alvaro. Mereka ditugaskan untuk menghabisi Alexa, adik Alvaro yang sangat durhaka pada kakaknya sendiri.
"Uuugh! Cepat sayang, ayo!" lenguh Alexa menghadapi gempuran sang pacar yang sedang membombardir gua pin milik Alexa dengan lidahnya yang mirip lidah ular Coba.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu didobrak paksa hingga daun pintunya terjatuh. Bukan hanya membentur dinding dengan sangat keras, tetapi justru jatuh ke lantai.
Pintu depan rumah Alvaro berhasil ditendang, hingga roboh oleh salah satu anak buah Fahmi. Akan tetapi Alexa dan Robin terlalu asyik bermain gempur-gempuran, hingga tidak mendengarnya.
Anak buah Fahmi yang menendang pintu itu berjalan cepat sambil membawa pistol magnum yang sudah diberi peredam. Sedangkan empat anak buah lainnya mengekor di belakang. Lalu menyebar ke berbagai ruangan untuk mencari keberadaan Alexa.
__ADS_1
Robin yang sudah puas menggempur gua pink milik Alexa segera melucuti pakaiannya dan menampilkan singkong medium yang sudah tegak berdiri.
Alexa meneguk salivanya dalam-dalam dengan hasrat yang menggebu-gebu karena ingin mencicipi rasa singkong medium milik Robin.
“Sa-sayang, pelan-pelan, ya!” pinta Alexa dengan nada lirih manja dan membuat Robin semakin beringas.
Rambut belakang Alexa di tarik dan mulut mungilnya dipaksa mencicipi singkong medium yang sedikit agak premium. Baru saja bibir itu menyentuh ujungnya, “Uuuugh!” lenguh Robin lemas.
CUG!
Sebuah peluru berhasil bersarang di tengkuk Robin dan memubatnya tewas seketika dalam keadaan memeluk Alexa.
“Sayang, ayo sayang!” pinta Alexa dan memegangi tengkuk Robin.
Baru sesaat kemudian menyadari ada hal yang salah dan membuatnya langsung berteriak, “Tidaaaak!”
Lokasi kamar Alexa ditemukan. Suara teriakan Alexa berhasil menunjukkan keberadaannya.
Padahal salah satu anak buah Fahmi sebelumnya hanya menembak secara membabi buta ke sembarang arah. Alhasil tembakan yang sembarang itu justru mengenai tengkuk Robin.
Gagang pintu kamar Alexa pun ditembak agar terbuka. Salah satu anak buah Fahmi masuk ke dalam kamar, dan mendapati Alexa sedang meringkuk ketakutan di permukaan lantai tanpa sehelai benang.
"Bangun!"
Saat sudah dekat dengan Alexa, pria berjas hitam dengan tubuh kekar tetapi agak ngondek itu menendang perut Alexa hingga dia memuntahkan darah.
"Guhak!" pekik Alexa dengan raut muka meringis kesakitan.
Apalagi bagian belakang kepalanya terantuk ke dinding. “To-tolong lepaskan aku! Ampuni aku!”
"Lepaskan? Ampuni? Mimpi!” Pria berjas hitam itu malah menginjak pipi kiri dan menggilasnya, hingga wajah mulus Alexa bercucuran darah.
“Itu semua karena kakakmu yang terlalu ikut campur dengan masalah bos kami. Maka kamu harus mati!”
“Alvaro sudah bukan kakakku lagi. Aku mohon ampuni aku. Tuan boleh mencicipi tubuhku asalkan aku hidup, aku mohon,” pinta Alexa yang wajahnya sudah banjir darah.
“Eh, tolol. Eke ini kaum-kaum wadam, ye. Eke nggak suka sama ye, paham!” umpat pria berjas hitam dengan nada ngondek.
Bukannya ketakutan, Alexa justru tertawa terpingkal-pingkal melihat pria yang begitu kekar dan tampan tetapi justru ngondek.
"Dasar lelaki jadi-jadian!"
__ADS_1