RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 47


__ADS_3

Keesokan paginya, pusat kota Yogyakarta.


...[Tetew-tetew …!]...


...[Status]...


...<>...............¤……………<>...


...[Nama: Alvaro Renaldi]...


...[Umur: 22 tahun]...


...[Rank Hunter: King (13.670.000/50.000.0000]...


...[AP: 20.000/20.000]...


...[Sword Style: Imperial Heaven level 2 (10/100)(Final Judgment Cut End, Aerial Wave Blast]...


...[Skill Aktif : ...


...Arc Of Weapon level Max(Max/Max)...


...Twin Gear (Vengeful Blade, Omega Blaster, Frostmourne, Highlander Assault]...


...Rage Burst Mode...


...Burning Burst Mode...


...Pasif: Bloodlust, Death Eater, Divine Glory]...


...[Ransel Inventaris: Ringu]...


...[Saldo: 1000.000.000.000.000]...


...[Poin skill: 10.000]...


...<>...............¤……………<>...

__ADS_1


Alvaro terbangun saat mendengar suara mekanis sistem yang tiba-tiba memunculkan status. Dia tertidur di salah satu atap gedung yang sudah kosong.


Kondisi kota Yogyakarta lebih buruk dari kota-kota sebelumnya yang dilewati oleh Alvaro. Semuanya yang terlihat di permukaan tanah hanyalah kawanan monster semut merah bernama Anta Underground.


Alvaro tidak dapat menemukan satupun pancaran energi dari para hunter maupun Arkham yang masih bertahan di dalam wilayah provinsi Yogyakarta.


“Pantas saja Veigas kabur. Rupanya Yogyakarta lebih buruk kondisinya dari provinsi di jawa timur. Lebih baik aku mengirimkan pesan ke Aruna untuk mengirimkan sumber daya sebanyak mungkin ke pelabuhan Banyuwangi,” gumam Alvaro sambil mengirimkan pesan melalui jam tangan ruangnya ke Aruna.


Tiba-tiba telinga Alvaro berdenging, dan semut-semut merah sepanjang 2 meter tersebut bergerak menaiki gedung yang dihinggapi oleh Alvaro.


Di atas langit tiba-tiba muncul pusaran tornado berwarna putih dan berwarna hitam pekat bergerak beriringan ke arah Alvaro. Pria berambut hitam tersebut merasakan jika kedua pusaran tornado tersebut ada yang mengendalikan, dan pengendalinya memiliki pecahan Zebris Core.


“Keluar! Atau aku akan hancurkan!” teriak Alvaro menghunuskan pedang saber emas ke arah pusaran tornado. “Energy Double Field!”


Kedua pusaran tornado semakin membesar setelah diancam oleh Alvaro. Kemudian menerbangkan beberapa bagian gedung yang dipijak oleh Alvaro.


Begitu juga semut-semut merah raksasa berterbangan di udara oleh pusaran angin tornado tersebut. Tubuh Alvaro yang sudah dilindungi dua lapis bola pelindung transparan berwarna emas juga ikut terhempas, dan melayang-layang kesana kemari di udara.


Alvaro tidak dapat mengendalikan bola pelindung energi yang melindungi tubuhnya yang sedang terombang-ambing di udara. Dia mencoba mencari cara untuk menangkap pengendali kedua pusaran tornado yang semakin membesar, dan membesar lagi setiap detik, hingga meratakan gedung-gedung di pusat kota Yogyakarta.


“Energy Vanish Chain!” seru Alvaro dan menembakan siluet-siluet rantai emas berujung bilah tombak ke dalam kedua pusaran tornado.


Terdengar suara pekikan yang sangat kencang tertangkap oleh kedua telinga Alvaro. Meski terhalang suara deru angin yang sangat kencang.


Alvaro mencoba menyeimbangkan bola pelindung yang terombang-ambing, supaya tetap stabil. Kemudian menggerakkan kedua tangannya ke arah dalam, untuk memberi perintah pada siluet-siluet rantai emas tersebut, agar menarik kedua pengendali pusaran tornado tersebut.


Tampak kedua pria berwajah sama, hanya manik matanya saja yang berbeda. Yang satu memiliki manik mata biru dengan kedua sayap malaikat berwarna putih, dan yang satunya lagi memiliki manik mata merah darah dengan kedua sayap malaikat berwarna hitam.


Keduanya meringis kesakitan, karena seluruh tubuhnya tertancap siluet ujung bilah tombak.


"Bedebah! Lepaskan aku!" geram Munar dan Munir serentak dengan tatapan mata nyalang ke arah Alvaro.


Keduanya mengeluarkan pedang dari jam tangan ruang masing-masing. Munar mengeluarkan pedang berjenis longsword berbilah hitam, dan Munir mengeluarkan pedang berbilah putih seperti warna susu.


Keduanya serentak memotong siluet rantai yang menusuk tubuh mereka berdua. Setelah siluet-siluet rantai itu putus, Munar dan Munir melesat cepat ke arah Alvaro.


Tubuh mereka berdua terus berkedip dan muncul di berbagai arah, seolah-olah Alvaro dikepung oleh ratusan Munar dan Munir di berbagai sisi.

__ADS_1


Mata Alvaro terus berkeliling mencari keberadaan pasti mereka berdua dengan mendeteksi pancaran energi negatif Arkha yang mereka pancarkan.


Supaya mereka berdua tidak bisa mendekat ke arah bola pelindung yang melindungi Alvaro, siluet-siluet rantai emas terus ditembakan oleh Alvaro dari lapisan luar bola pelindung.


Akan tetapi siluet-siluet rantai tersebut hanya mengenai ruang kosong, sebab Munar dan Munir tubuhnya terus berkedip untuk berpindah tempat di berbagai sisi untuk mengepung Alvaro.


Suara hantaman pedang terdengar sangat keras, saat kedua pedang menghantam lapisan bola pelindung. Alvaro yang berada di dalam bola pelingpun merasak kelombang kejut yang berasal dari depan, dan belakang, akibat hantaman tersebut.


“Pertarungan di udara ini tidak menguntungkanku. Ditambah lagi mereka terbang bebas diudara dan pergerakan mereka sangat cepat,” gumam Alvaro dengan mata berkeliling mengawasi Munar dan Munir yang keberadaannya telah hilang dari pandangannya.


“Hahaha …. Kenapa? Kau tidak bisa menyerang kami?” ejek Munar dan Munir serentak.


Kemudian Munar melanjutkan, “Kau takan bisa mengalahkan kami, karena kelima pecahan Zebris Core telah kami dapatkan, daan kau hanya punya empat pecahan. Jumlah menentukan hasil bukan?”


Alvaro tidak menanggapi ejekan pria kembar tersebut yang tubuhnya terus berkedip di berbagai arah.


“Aku harus mengambil tindakan untuk mengalahkan mereka. Aku hanya butuh momentum yang tepat,” gumam Alvaro matanya terus berkeliling mengamati pergerakan Munar dan Munir yang semakin cepat.


Munar dan Munir menyelimuti kedua pedangnya dengan aura hitam, serta aura Putih untuk menguatkan Daya tembus pedang mereka berdua terhadap bola pelindung energi yang melindungi Alvaro.


Combination Dark And Light Stinger!” seru Munar dan Munir serentak.


Kemudian melesat dari dua arah menuju Alvaro dengan kecepatan penuh dan pedang terhunus ke depan. Munar melesat dari arah belakang Alvaro, dan Munir sebaliknya.


Alvaro menyunggingkan senyum karena menemukan momentum yang tepat, “Multiple Energy Ball!” serunya.


Saat Munar dan Munir sudah mendekat, serta akan menusuk lapisan bola pelindung. Tiba-tiba muncul bola-bola energi di sekitar tubuh mereka dan menghantamnya secara bertubi-tubi.


Suara rentetan ledakan terus menggema di udara, gelombang kejutnya juga memotong-motong appaun di sekitarnya termasuk kawanan semut merah raksasa.


Alvaro mengerahkan 50% energi negatif Arkha yang tersimpan di dalam cyborg armor Zelta untuk menghabisi Munar, dan Munir dengan tembakan bola energi sebesar semangka secara bertubi-tubi.


Tubuh Munir dan Munar terpental ke permukaan tanah, hingga permukaan tanah tersebut ambles membentuk cekungan kawah yang memunculkan kepulan cahaya, debu, dan asap menjulang ke langit.


Alvaro tersenyum puas dengan dada kembang kempis melihat bola-bola energi tak kunjung henti menghantam Munar dan Munir.


Suara ledakannya juga semakin dahsyat, siluet cahaya berbentuk kubah terus melebar sejauh radius 200 meter meratakan gedung, dan apapun yang dilewatinya termasuk kawanan semut raksasa merah berjumlah 2000 ekor.

__ADS_1


"Mampus kalian, sekarang dunia telah selamat dan aku akan mendapatkan semua pecahan Zebris Core yang bisa menahan para monster untuk tidak keluar dari portal," umpat Alvaro kesal dengan muka menyeringai.


__ADS_2