RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 46


__ADS_3

Setelah terlempar lusinan meter, dan tubuhnya terus berguling, Neeko mencoba berguling untuk menegakan tubuhnya dengan menumpu pada kedua tangannya, dan berhasil.


Kemudian menumpu pada kedua kakinya untuk melesat secepat kilat ke arah Alvaro. Tiba-tiba Neeko muncul di depan Alvaro dan mengayunkan kedua pedang tulangnya secepat kilat untuk membombardir tubuh Alvaro bertubi-tubi.


“Giga Charge!”


Kedua pedang tulang yang sedang diayunkan Neeko diselimuti aura merah darah yang mendesis, dan meningkatkan kepadatan partikelnya sampai seratus kali.


Siluet garis-garis merah secara acak muncul di tubuh Alvaro dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun tetap saja kekerasan cyborg armor Zelta tak dapat ditembus oleh serangan tebasan bertubi-tubi yang dilesatkan oleh Neeko.


“Apa?! ini sangat keras sekali?!” gumamnya dengan melebarkan mata.


Alvaro melesatkan tendangan lurus ke arah Neeko yang terbuka pertahanannya karena syok berat.


Tubuh Neeko terpental lusinan meter menabrak beberapa pohon hingga tumbang. Karena saking kuatnya tendangan yang dilesatkan oleh Alvaro ke perut Neeko.


Dari kejauhan Alvaro melihat pepohonan yang dilewati oleh Neeko tumbang satu persatu ke permukaan tanah.


"Energy Ball!”


Alvaro mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Neeko yang masih melaju cepat menghantam pepohonan.


Dari depan telapak tangan kiri Infinity Gear tersebut terbentuk bola energi berwarna perak yang diselimuti aliran petir berwarna perak yang saling bersahutan.


Bola energi yang semula mengecil, dan sekarang berdiameter 20 meter tersebut, ditembakan ke arah Neeko.


Fluktuasi udara terjadi disertai deru angin yang kencang saat bola energi perak tersebut ditembakan, dan membelah ruang hampa di sekitarnya.


Pepohonan yang tumbang pun ikut berterbangan ke berbagai arah akibat hempasan angin yang dihasilkan oleh bola energi yang melewatinya.


Neeko yang berhasil menegakan badannya mencoba berlari untuk menghindari bola energi tersebut.

__ADS_1


Akan tetapi bola energi tersebut terus mengejarnya, walaupun dia berlari secara zig-zag, karena bola energi tingkat perak tersebut bisa dikendalikan oleh pikiran Alvaro melalui topeng cyborg yang dipakainya.


Suara ledakan seperti dentuman meriam terdengar sangat keras disertai kepulan cahaya membumbung ke udara. Ledakan tersebut terus menyebar membentuk kubah cahaya berwarna perak dan melahap apapun yang dilewatinya sejauh radius 300 meter.


Hutan dalam radius 300 meter rata dengan tanah, dan permukaan tanahnya membentuk cekungan kawah sedalam 20 meter.


Neeko terkapar di tengah-tengah cekungan kawah dengan dada kembang-kempis. Nafasnya mulai habis, dan dia sekarang dalam keadaan sekarat.


Alvaro berlari cepat ke arah Neeko yang sedang sekarat untuk menanyakan keberadaan pecahan Zebris Core yang lain.


Namun sayang Alvaro terlambat, Neeko telah tewas dengan lidah menjulur, dan tubuhnya telah menjadi debu. Kemudian dari tumpukan debu tersebut muncul pecahan Zebris Core, dan melayang pelan ke arah Infinity Gear.


“Benar-benar menyebalkan. Aku harap masalah ini cepat selesai, adanya hunter bukannya memperbaiki keadaan bumi, malah tambah parah. Bisakah aku bersantai walau satu tahun saja?” gerutu Alvaro sambil menggenggam pecahan Zebris Core itu agak kuat.


Alvaro merasakan kelima pecahan Zebris Core berada pada satu tempat, tapi sangat jauh dari lokasi Alvaro saat ini.


***


Alvaro terbang menyusuri seluruh Kabupaten yang berada di garis pantai utara, dan terus menetralisir energi negatif Arkha.


Alhasil semua Kabupaten yang berada di garis pantai utara udaranya bersih, walau manusianya tersisa sedikit.


Akan tetapi hal itu justru menguatkan para hunter, karena udara yang bersih membuat kekuatan di tubuh mereka meningkat 10 kali lipat, dan dengan mudah mereka bisa menghabisi para monster level putih sampai level emas.


“Seharusnya mereka ada disini? Kemana mereka? Apa jangan-jangan aku terlambat dan mereka sudah berpindah tempat lagi?’ pikir Alvaro mendarat pelan di pantai Tuban.


[Sistem Cyborg Armor Zelta telah ditingkatkan ke level 4. Skill Energy Sword telah naik ke level 4 dan mendapatkan pedang saber emas]


Sejauh mata memandang, Alvaro hanya melihat hamparan pasir putih, air laut yang biru bening, dan langit yang diterangi bulan purnama.


Alvaro pun merebahkan tubuhnya sambil memandangi langit yang begitu terang dan cerah ditaburi bintang-bintang.

__ADS_1


“Aku tak menyangka jika diriku bisa mengubah kondisi bumi yang rusak, berpolusi, dan beracun menjadi sebersih ini,” gumam Alvaro dengan mata berkaca-kaca.


Sejenak dia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, untuk mengistirahatkan pikiran, dan tubuhnya yang sudah lelah bertarung selama 8 jam tanpa henti.


Saat Alvaro membuka matanya tampak sampan sedang bergerak ke arah bibir pantai, dan di sampan tersebut ada pria yang sangat ia kenal.


Alvaro bangkit duduk dan membuka topeng cyborg yang menutupi wajahnya, lalu berteriak, "Tuan Veigas!"


Veigas yang sedang mengayuh dayung dengan pelan pun langsung mengayuh dayung dengan cepat. Setelah mendengar suara panggilan yang sangat dikenalinya.


Sampan yang dikendarai oleh Veigas sampai di bibir pantai, dan berisikan 4 orang termasuk Veigas sendiri.


“Al-alvaro?!” Veigas, Yuni, Seran, dan Projo serentak melebarkan mata melihat pria berambut hitam tersebut ternyata masih hidup.


“Kemana saja kamu Alvaro?” tanya Seran yang sangat merindukan Alvaro, dan menyesal dengan keputusan Veigas menonaktifkan Alvaro serta Aruna waktu itu.


“Aku di Bali dan mendirikan Guild Noir disana. Kalian lebih baik ke Bali, disana aman, tidak ada satupun asosiasi monster hunter, dan juga portal. Udaranya juga sangat bersih,” jawab Alvaro dengan tersenyum kecut, karena dia masih merasa sakit hati dengan Veigas.


"Jadi kamu yang mendirikan Guild Noir. Pantas saja Bali sekarang makmur dan sejahtera." Veigas langsung berlutut di depan Alvaro, "Aku meminta maaf atas kesalahanku waktu itu padamu. Maafkan aku, dan aku sangat menyesal."


Alvaro menegakan badan Veigas, karena merasa tidak enak padanya, "Sudahlah, itu sudah berlalu. Kita harus berjuang merebut kembali seluruh wilayah Indonesia dari bencana monster level putih."


"Aku mendapat kabar dari seseorang, bahwa tujuh hari kemudian akan ada bencana monster level emas di seluruh dunia. Kita harus bergegas menghabisi mereka."


Kali ini Veigas langsung percaya, dan segera menghubungi seluruh cabang asosiasi hunter yang masih aktif di seluruh dunia untuk segera melakukan perlawanan balik terutama pulau jawa yang banyak bermunculan monster level putih.


"Aku sudah mengirimkan pesan darurat ke seluruh asosiasi hunter yang masih aktif di seluruh dunia. Lalu rencanamu apa?" tanya Veigas yang sudah buntu untuk memikirkan strategi melawan para monster, dan juga manusia monster.


"Kumpulkan seluruh hunter di Provinsi Jawa timur, kemudian lakukan penyerangan secara massal. Aku akan menghubungi Aruna untuk mengirimkan sumber daya ke pelabuhan Banyuwangi," jawab Alvaro dengan nada tegas.


Mereka berlima akhirnya berpisah, Veigas beserta ketiga rekannya menuju pelabuhan Banyuwangi dan Alvaro akan kembali ke Yogyakarta. Karena dia merasakan lagi kelima pecahan Zebris Core berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2