
Alvaro langsung bangun dari tempat tidurnya, karena merasa sangat sehat. Namun dia tidak sadar jika sudah koma selama satu tahun.
“Kenapa aku dipasangi alat seperti ini? Bukankah aku hanya pingsan kemarin? Lalu siapa yang menemukanku?” pikir Alvaro dalam pikirannya sendiri.
Suster berambut pirang yang baru masuk ruangan Alvaro langsung membulatkan matanya melihat Alvaro mencabut semua alat bantu yang dipasang di tubuhnya.
“Tunggu tuan Alvaro! Tubuh anda masih lemah. Biarkan Dokter memeriksa anda terlebih dahulu,” sergah Suster lalu merebahkan tubuh Alvaro ke tempat tidurnya lagi.
“Aku tidak apa-apa, Sus. Wong aku cuma pingsan kemarin —”
“Tuan Alvaro ini ngomong Ayam. Tuan Alvaro itu telah koma selama satu tahun tau!” potong Suster kesal, karena Alvaro masih keras kepala dan mau melepaskan alat bantu yang terpasang di tubuhnya.
“Apa?! Aku koma selama satu tahun?! Astaga!” Alvaro membulatkan mata, tak percaya kondisinya saat ini bahwa telah sadar dari koma panjang. “Sudah, cepat periksa aku, agar aku cepat keluar dari rumah sakit. Dunia sedang gawat!”
“Gawat matamu! Dunia sudah aman, walau masih banyak portal bermunculan. Sudah istirahat saja, aku tak bisa membiarkan tuan Alvaro keluar seenaknya.” Suster yang kesal mendorong dahi Alvaro, dan melanjutkan, “Tunggu Dokter memeriksa kondisi tuan Alvaro! Tunggu juga Nona Aruna menjemput anda setelah hasil pemeriksaan mengizinkan anda boleh pulang!’’
Setelah Suster itu keluar dari ruangannya, Alvaro ingat kalau dia punya kunci hitam yang diberikan oleh Emperor Lord Bragbeast.
Kunci hitam itu dikeluarkan dari inventaris sistem, tapi Alvaro bingung cara menggunakannya bagaimana. maka dari itu kunci itu hanya dilihat, dan dibolak-balik oleh Alvaro.
“Bagaimana cara menggunakan kunci ini?” pikir Alvaro dan melanjutkan menusukan lurus kunci tersebut dengan tangan kirinya. “Terbuka!”
Kunci hitam tersebut seperti masuk ke dalam lubang kunci pintu, dan digerakan ke kiri oleh Alvaro. Lalu memunculkan sebuah pintu berwarna hitam, dan pintu itu terbuka. Di dalamnya ada pusaran berwarna hitam pekat, dan tubuh Alvaro tersedot masuk ke dalamnya.
****
Paris, Perancis, Apartemen Vech Sue.
Fredrick dan anak buahnya sedang mengadakan rapat yang berhubungan dengan habisnya portal level putih sampai level emas di seluruh dunia.
__ADS_1
Hal itu berakibat buruk bagi stok sumber daya para anggota asosiasi monster hunter yang sudah berganti nama menjadi organisasi Phantom yang membutuhkan energi negatif Arkha sebagai sumber daya utama.
Mereka tidak punya sumber daya alternatif lain seperti memangsa daging manusia yang Non-Arkham, Arkham, ataupun para hunter. Pada gelombang monster sebelumnya populasi di seluruh dunia menurun 50% akibat dimakan oleh serangan gelombang monster level putih.
Kalau dimangsa lagi, maka radiasi energi Arkha tidak bisa tercipta lagi, karena dibutuhkan rasa kesedihan, ketakutan, dan juga penderitaan dari perasaan manusia.
"Tuanku, apa rencana anda untuk membangkitkan 4 Emperor Lord, termasuk Tuan kita semua Thanatos?" tanya Holcim dengan raut muka putus asa.
"Kenapa malah bertanya padaku? Justru kalian harus berpikir bagaimana menciptakan kembali polusi di dunia ini, tolol!" umpat Fredrick lantang.
Semua petinggi organisasi Phantom langsung tertunduk lesu dan tubuhnya gemetar. Mereka tidak berani melawan, karena sekali melawan, atau mengutarakan pendapat, tubuh mereka akan ditelan bulat-bulat oleh Fredrick dan pernah terjadi.
"M-maaf Tu-tuan, Ja-jangan marah. Aku ada usul, bagaimana kalau kita buru manusia yang menjadi wadah Emperor Lord Bragbeast dan bunuh, untuk mengeluarkan Primal Core miliknya dari wadah manusia tersebut.”
“Maka bumi akan jatuh ke dalam kegelapan sekali lagi, dan kita tinggal menikmati hasilnya, hahahaha …,” usul Anmon dan disambut gelak tawa jahat setelah Anmon tertawa jahat.
Semua petinggi Organisasi Phantom tertawa jahat bersama termasuk Fredrick setelah mendengar usulan Anmon yang memang sangat licik, dan mencetuskan ide-ide licik.
****
Dimensi planet Vergoba.
Alvaro keluar dari pusaran portal dan sejauh mata memandang hanya terlihat hutan yang memiliki dedaunan yang aneh. Daun-daun yang tumbuh di ranting-ranting pohon tersebut berupa api yang berkobar-kobar, tapi tidak panas. Setiap pohon memiliki warna kobaran api yang berbeda-beda.
"Apakah aku salah masuk? Kok, aku malah masuk ke tempat ini?" pikir Alvaro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu sudah benar masuk! Berjalan terus ke arah Barat!" Suara Bragbeast tanpa wujud tiba-tiba terdengar memberi petunjuk pada Alvaro. "Kamu harus tiba maksimal satu jam, atau dunia akan kembali kacau!"
Mendengar suara tersebut Alvaro mengeluarkan pedang Ringu, dan mengubahnya menjadi pedang Nodachi sepanjang 2 meter dengan ring panjang setengah meter, serta bentuk pedang tersebut seperti tanda salib atau pedang milik Dracule Mihawk, tapi berbilah kuning.
__ADS_1
"Twin Gear: Zapdos Alean! Flying raijin!" serunya.
Kemudian Alvaro melompat ke arah pedang Zapdos Alean yang sedang melayang di depannya.
Ia menaiki pedang yang sedang melayang, lalu pedang panjang tersebut terbang melesat cepat ke arah barat sesuai arahan Alvaro melalui pikirannya.
Pedang salib panjang tersebut melesat sangat cepat ke arah barat, hingga meninggalkan aliran petir berwarna kuning di belakangnya.
Dari jauh Alvaro melihat lima orang manusia keluar dari dalam portal, dan sama-sama menuju ke arah barat dengan mengubah tubuhnya menjadi setengah monster yang memiliki sayap serangga.
Alvaro merasa jika mereka adalah ancaman untuk Bragbeast. Maka dari itu Alvaro mengikuti mereka dari belakang secara sembunyi-sembunyi.
Akan tetapi tetap saja Alvaro diketahui oleh kelima anak buah Anmon tersebut, mereka berlima berbalik arah untuk menghalau Alvaro dengan menembakan bola-bola beracun berwarna hijau.
Alvaro terbang secara zig-zag untuk menghindari setiap bola hijau berukuran sebesar Semangka yang melesat ke arahnya.
“Sial, siapa yang menyimpan cyborg armor Zelta milikku? Kalau begini aku tidak bisa menyerang balik mereka,” gumam Alvaro kesal.
Alvaro malah berbalik arah setelah mereka berlima terbang ke arahnya, sambil membombardir pria berambut hitam tersebut dengan serangan bola hijau beracun bertubi-tubi, yang ditembakkan dari mulut mereka secara bergantian maupun serentak.
Alvaro melompat ke bawah dan memegang gagang pedang Zepdos Alean sambil terang bergelantungan. Kemudian arah terbang pedang tersebut diputar ke arah kelima anak buah Anmon.
“Thunder Strike!”
Dari ujung bilah pedang Zepdos Alean mengeluarkan petir berwarna kuning yang sangat besar dan berjumlah sangat banyak.
Salah satu anak buah Anmon terkena salah satu sambaran petir dan tubuhnya langsung meledak hingga gosong.
Suara sambarannya sangat keras hingga membuat telinga benar-benar bisa tuli. Kepulan cahaya menghalangi pandangan keempat anak buah Anmon yang masih berjibaku menghindari setiap sambaran petir yang mengarah ke arahnya dengan terbang meliuk-liuk di udara.
__ADS_1
Alaro yang sedang bergelantungan mengarahkan pedang Zepdos Alean yang masih mengeluarkan sambaran petir ke arah keempat anak buah Anmon untuk mengejarnya dengan sambaran petir.