RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 40


__ADS_3

Alvaro tidak bersikap biasa dan langsung membuka bajunya. Menampakkan perut seperti roti sobek, dan dada yang bidang juga kekar tepat di hadapan Aruna. Tentu saja tindakan Alvaro membuatnya berhasrat.


Entah setan apa yang merasuki Aruna, gadis berambut merah marun tersebut memulai dengan mencium bibir Alvaro dengan sangat mesra. Pergolakan dua insan yang dimabuk cinta pun terjadi, hingga keduanya tidak memakai sehelai benang.


Mereka saling bergerilya penuh hasrat ke bagian vital masing-masing dan membuat suasana di dalam kamar tersebut semakin panas, walaupun sudah ada AC yang menyala.


Secara serentak nafas mereka berdua tersengal-sengal. Bahkan seperti kehabisan oksigen. Beberapa kali keduanya menarik nafasnya dalam-dalam untuk memulai ronde selanjutnya.


Saat mereka berdua asyik memulai bercocok tanam, terdengar suara dentuman ledakan. Hampir mirip seperti suara dentuman meriam.


Hal itu terdengar beruntun berasal dari sebelah utara. Kemungkinan berjarak 200 meter dari apartemen Kuta Residence. Namun, Alvaro tidak peduli dan tetap melanjutkan perhelatan akbar bersama Aruna, hingga membuat Aruna kelelahan.


Aruna memejamkan mata sambil melenguh nikmat. Ia pun jatuh lunglai setelah merasakan final yang luar biasa.


Setelahnya ia memeluk Alvaro sangat erat. Sejenak ia baru sadar jika mahkota suci miliknya telah dipersembahkan untuk Alvaro dan bukan suaminya.


Suara ledakan tersebut semakin dekat. Saat Alvaro selesai memakai kembali pakaiannya, gelombang kejut berhasil menghantamnya. Membuat tubuh Alvaro terpental dan menabrak kaca jendela.


Alvaro berteriak kencang karena tubuhnya terjatuh dari lantai dua puluh secara tiba-tiba.


Ternyata suara ledakan tersebut merupakan serangan dari salah satu anak buah Fahmi. Ia sedang memburu pecahan Zebris Core yang berada di dalam pedang Ringu.


Saat tubuh Alvaro hanya berjarak satu meter dari permukaan tanah. Tiba-tiba tubuhnya berhenti dan melayang sesaat, tetapi anak buah Fahmi yang sudah berubah menjadi monster Griffin.


Monster Griffin terbang melesat ke arah Alvaro dan menghantamkan kedua telapak kaki depannya. Suara dentuman ledakan terdengar sangat dahsyat. Disertai seluruh permukaan halaman apartemen Kuta Residence retak cukup dalam.


Tubuh Alvaro menempel ke permukaan tanah yang membentuk cekungan kawah sedalam 3 meter dengan kedua kaki Jindan masih menginjak dadanya.


Aura membunuh berwarna ungu pekat menyelimuti tubuh Alvaro yang mengaktifkan skill pasif Bloodlust untuk menekan mental Jindan. Akan tetapi, Jindan sama sekali tidak berpengaruh. Apalagi sekarang dia berada di rank yang sama seperti Alvaro.


“Cepat berikan pecahan Zebris Core! Atau aku akan menghabisimu!” ancam Jindan dengan menghunuskan kedua ujung sayapnya yang runcing ke leher Alvaro.

__ADS_1


Alvaro tertawa lepas, dan kembali menggertak Jinda. "Rebut saja sendiri! Twin Gear: Omega Blaster! Omega Field”


Alvaro segera mengeluarkan pedang Ringu dan mengubahnya secepat kilat menjadi pedang berbilah merah berjenis longsword. Kemudian menyelimuti tubuh Alvaro dengan bola pelindung transparan berwarna merah.


Bulu-bulu tersebut reflek ditembakan oleh Jindan sedekat 30 cm dari lapisan bola pelindung yang melindungi tubuh Alvaro. Suara ledakan beruntun terdengar sangat keras disertai kepulan asap dan debu yang menutupi tubuh Alvaro dan juga Jindan.


Para warga berlarian dan para hunter yang berada di sekitar pertarungan ketakutan, karena Jindan dan Alvaro terlalu kuat untuk dilerai. Jindan keluar dari kepulan debu dan asap dengan tubuh selayaknya manusia tapi memiliki kedua sayap yang sangat lebar.


Dari belakang Jindan, muncul Aruna yang terbang secepat kilat dan mengiranya sebagai monster. Kemudian ditembak dengan bola-bola api kecil seukuran bola semangka.


“Multiple Fireball!” serunya.


Bola-bola api berwarna jingga tersebut mengenai punggung dan kedua sayap Jindan, hingga membakarnya dan membuat apinya berkobar-kobar.


“Griffin Guard!” seru Jindan dan menciptakan bola pelindung yang melindungi tubuhnya, hingga api yang berkobar-kobar membakar punggungnya tersebut hilang. “Feather Regeneration!”


Jindan menumbuhkan kembali kedua sayapnya. Namun, Aruna tidak membiarkannya dengan menyemburkan api yang sangat besar.


Semburan api yang sangat besar dan bertekanan tinggi tersebut membakar bola pelindung yang melindungi tubuh Jindan. Hingga membuat bola pelindung transparan berwarna putih tersebut retak di berbagai sisi.


Bola pelindung itu hancur dan Jindan berteleportasi untuk menghindarinya. Semburan api Aruna hanya mengenai permukaan tanah dan membakar permukaan tanah dalam radius 100 meter di bawahnya.


Alvaro yang berada di bawah mengubah Omega Blaster menjadi Abyssal Storm. Lalu mengejar Jindan yang sedang terbang untuk kabur menghindari mereka berdua.


"Magnum Step!" serunya.


Langkah kaki Alvaro sangat cepat mengejar Jindan hanya dengan menginjak lingkaran sihir berwarna putih yang muncul di udara. Jindan menoleh ke  belakang dan melihat Alvaro mengejarnya dan hanya berjarak 50 meter.


"Feather Sword Elesis!"


Kedua sayap Jindan direntangkan tanpa Jindan menoleh. Lalu menembakan bulu-bulu berbentuk pedang sepanjang satu meter untuk menghujani Alvaro.

__ADS_1


Alvaro terkena beberapa pedang bulu dan kedua pahanya terserempet bilah pedang-pedang bulu tersebut. Akan tetapi dia bukan orang yang mudah dikalahkan, dan berputar 360 derajat sambil menebas untuk menghalau setiap pedang-pedang bulu yang menghujaninya. 


Suara dentingan pedang-pedang bulu yang berhasil dipantulkan oleh alvaro terdengar sangat keras, hingga menciptakan hempasan gelombang kejut yang mennghempaskan udara dalam radius 50 meter.


Jindan menembakan lebih cepat lagi pedang-pedang bulu tersebut dengan kekuatan penuh. Dia benar-benar ingin menghabisi Alvaro secepat mungkin dan merebut pecahan Zebris Core.


“Apakah kemampuan manusia yang memiliki genome DNA monster hanya seperti ini? Menurutku asosiasi monster hunter hanyalah sampah, hahaha …,” ejek Alvaro sambil tertawa jahat.


Pedang pedang bulu tersebut terus dipantulkan ke berbagai arah, dan ada pula yang dikembalikan lagi ke arah Jindan.


“Skypiea Whirlwind!” seru Alvaro dan memutar tubuhnya lebih cepat lagi.


Putaran tubuh Alvaro menciptakan pusaran tornado yang melahap semua pedang-pedang bulu ke dalamnya. Pusaran tornado yang berada di ketinggian 200 meter tersebut bergerak ke arah Jindan dan bersiap melahapnya.


Akan tetapi, Jindan masih ngotot dan menembakan pedang-pedang bulu beserta bola-bola energi berwarna putih.


“Multiple Griffon Ball!” seru Jindan.


Namun pedang-pedang bulu dan bola-bola energi tersebut dilahap habis oleh pusaran tornado hingga tak tersisa saat menyentuhnya.


Pusaran tornado mengecil, dan semakin mengecil. Lalu berputar ke arah Jindan dengan sangat cepat dan menembus perutnya.


Spontan Jindan memuntahkan darah dan perutnya berlubang setelah terkena tusukan pusaran tornado. Alvaro yang masih berputar membentuk pusaran tornado memutar arah kembali lagi ke arah Jindan.


Pusaran tornado tersebut menggilas kepala Jindan hingga hancur berkeping-keping dan tewas seketika. Jantungnya keluar sendiri dan melayang.


Kemudian mengeluarkan pecahan Zebris Core yang melesat cepat ke arah Alvaro yang sudah berdiri tegak dengan melayang di udara. Sama seperti sebelumnya, pecahan Zebris Core tersebut masuk ke dalam pedang Abyssal Storm yang sudah berubah menjadi pedang Ringu.


Kini pedang tersebut menyatu dengan pecahan Zebris Core yang sebelumnya. Sementara itu Alvaro merasakan rasa lelah yang amat sangat. Dadanya kembang kempis tidak karuan, dan seluruh tulang-belulangnya terasa sakit serta ngilu.


 

__ADS_1


__ADS_2