
Para preman itu lari tunggang langgang sambil mengendarai motor masing-masing, karena dibuat tak memakai sehelai benang oleh Alvaro.
Pria berambut berponi miring ke kiri itu melanjutkan perjalanannya dengan melajukan motornya secara perlahan sambil menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat yang cocok untuk berjualan daging monster.
Alvaro memberhentikan motornya saat melihat sebuah gerobak angkringan yang sedang didorong oleh seorang kakek yang sudah tua renta.
“Kek, tunggu!” panggil Alvaro dan memarkirkan motornya dengan sembarang dekat jalan keluar Jembatan Srandakan.
Sang kakek bernama Marmin itu pun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Alvaro, “Ada apa cung?” tanyanya bingung.
“Ini gerobaknya kenapa didorong kek? Apa rusak?” Alvaro malah bertanya balik.
“Sebenarnya bapak mau jualan, tapi tidak ada yang bisa dijual dari angkringan ini. Semua kebutuhan makanan telah habis dan hanya para orang kaya yang mampu membeli beras maupun daging,’ jawab Marmin dengan tatapan sendu.
“Begini pak. Apakah gerobaknya boleh aku beli dan aku juga janji menyediakan makanan yang enak untuk bapak setiap hari. Bagaimana?” tawar Alvaro dengan nada sopan.
“Sebenarnya bapak dan keluarga tidak butuh uang, hanya butuh makanan cung. Tapi kalau kamu bisa memberikan bapak dan keluarga makanan setiap hari, ambil saja gerobak ini secara gratis —”
“Tidak pak. Aku akan bayar 20 juta bagaimana?” potong Alvaro sambil mengeluarkan banyak uang pecahan 100 ribuan yang sudah diikat karet dari jam tangan ruang yang terhubung dengan ransel inventaris sistem dan menyerahkannya pada Marmin.
Raut wajah Marmin langsung sumringah. Pasalnya gerobak itu jika dijual juga tidak akan laku karena sudah usang.
Marmin menerima uang tersebut, walaupun bingung digunakan untuk membeli apa, “Terima kasih cung. Bapak terima ya.”
Sang kakek mendorong kembali gerobak angkringan tersebut ke tempat yang biasanya digunakan untuk mangkal. Kemudian menggelar dagangannya, walaupun tidak ada yang bisa dijual saat ini.
“Pak, tunggu jangan pulang! Ajari aku menyalakan pembakaran sate ini!” pinta Alvaro dan Marmin langsung mengajarinya menyalakan tempat memanggang yang biasa digunakan untuk memanggang beberapa barang yang dijual di menu angkringan.
Setelah itu Alvaro mengeluarkan bongkahan besar daging Venom Fang yang masih segar dan saat Marmin melihatnya, dia sangat ketakutan.
Pasalnya kulit Venom Fang sangat gelap, berbau sangat amis dan darahnya masih menetes deras, karena belum dikuliti oleh Alvaro.
__ADS_1
Alvaro mengeluarkan pedang Ringu, “Arc Of Weapon: Highlander Assault!” serunya dan merubah katana berbilah hitam tersebut menjadi pedang ninjato serta pedang gladius berbilah hijau sepanjang 1 meter. “Slice Of Dice!”
SLASH! SLASH!
Kedua tangan Alvaro diayunkan untuk menebas-nebas bongkahan besar daging Venom Fang kira-kira mempunyai berat 20 kg tersebut.
Daging tersebut dipotong oleh Alvaro menjadi beberapa bentuk, mulai dari bentuk dadu, pipih setebal 1 cm, dan pipih sangat tipis setebal 5 mm, serta pipih bulat setebal 2 cm.
“Ladalah!” Marmin tersentak kaget dan matanya melebar. Dia tak menyangka jika Alvaro sangat ahli dalam mengolah daging, “Weleh-weleh mantap kamu cung.”
Alvaro segera menusukan daging yang berbentuk dadu ke tusuk sate dengan satu batang tusuk sate berisikan empat potong daging.
Anehnya daging Venom Fang yang tadinya sangat bau amis itu hilang baunya. Malahan wanginya berganti sangat wangi seperti bau minyak kasturi bercampur bau Melati.
Alvaro menaruh 20 tusuk sate tersebut ke pemanggang dan mengeluarkan bumbu racikan Runa dari jam tangan ruang. Lalu membalurkan bumbu rempah-rempah yang sudah diracik oleh Aruna ke 20 tusuk sate bergantian beserta garam yang sudah dicampur dengan air.
Baunya langsung menyeruak dan mengundang setiap warga yang melewati jalan jembatan Srandakan.
Bahkan gerobak angkringan yang sekarang dimiliki oleh Alvaro dikerumuni banyak warga yang tadinya lalu lalang di jalan Jembatan Srandakan.
“Mas, wangi amat! Pesen donk mas!” pinta salah satu gadis memakai rok mini dengan tersenyum ramah.
“Sebentar ya Mbak. Aku buatkan dahulu untuk Bapak,” sahut Alvaro sambil mengibar-ngibarkan kipasnya ke tempat pemanggangan sate.
Asapnya semakin mengepul tebal dengan bau yang sangat harum mengundang cacing-cacing pita yang berada di dalam perut menggeliat buas.
Semua warga yang mengerumuni gerobak Alvaro terus meneteskan air liurnya, karena sudah tidak tahan dengan bau sate daging Venom Fang.
Setelah selesai memanggang 20 tusuk sate dan memberikannya pada Marmin yang agak ragu dengan sate yang dibakar oleh Alvaro. Tiba-tiba jam tangan Alvaro berbunyi, dan ternyata itu adalah telepon dari Aruna.
“Ya, aku sedang di jembatan Srandakan dan sudah mendapatkan tempat untuk berjualan. Aruna kesini saja. Aku kirimkan titik koordinatnya,” kata Alvaro lalu mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
“Berapa mas?” tanya Marmin yang tak enak hati meragukan sate yang dipanggang oleh Alvaro walau dalam hati.
“Makan saja dulu pak! Soalnya itu daging monster Venom Fang. Makanya aku berikan secara gratis biar semua orang mau mencobanya terlebih dahulu,” jawab Alvaro.
Semua orang yang mengerumuni gerobak angkringan milik Alvaro seketika itu juga mundur. Setelah mendengar jika sate tersebut terbuat dari daging monster.
Mereka sudah membayangkan jika daging monster tersebut tidak enak. Saking berlebihannya dalam mengimajinasikan sate daging Venom Fang, bahkan ada dari beberapa para warga sampai muntah-muntah.
Alvaro mengambil irisan tipis daging Venom Fang yang diiris sangat pipih seperti irisan daging sukiyaki dan menaruhnya di atas panggangan satu persatu secara melebar.
Wangi daging itu kembali menyeruak dan lebih kuat setelah Alvaro mengoleskan bumbu Teriyaki.
Air liur warga kembali menetes deras sampai-sampai hilang kesadaran seperti zombie yang ingin memakan daging manusia.
Alvaro mengambil sumpit dan mencapit satu persatu daging sukiyaki tersebut. Lalu melemparkannya satu persatu tepat masuk ke dalam mulut para warga.
“Hmmm … Muantap dagingnya!”
“Benar-benar sangat menggugah selera!”
“Benar-benar amsyong daging bakar ini membuat rahimku hangat.”
“... ….”
Semua warga larut dalam kunyahan daging sukiyaki yang menurut lidah mereka itu sangat lezat, dan mereka lupa jika daging yang mereka makan merupakan daging monster ular Venom Fang.
Marmin pun penasaran dan langsung memakan potong per potong daging sate yang telah berada di piring yang sedang dipangkunya itu.
"Gila …! Benar-benar gila rasa sate ini!" teriak Marmin seperti orang kesetanan sambil memakan lahap satu persatu sate yang berada di pangkuannya itu.
Alvaro pun dibuat lelah bukan kepalang, karena mereka terus nambah dan nambah. Sampai-sampai 20 kg daging yang sudah diolah oleh Alvaro itu ludes tak tersisa.
__ADS_1
“Huff … huff …. Bapak-bapak dan ibu-ibu, kami mohon maaf, dagingnya sudah habis. Berarti masa gratisnya sudah habis ya, besok pagi angkringan ini akan buka lagi kok, datang ya. Kalua masalah harga dijamin terjangkau, huff … huff …,” jelas Alvaro dengan nafas tersengal-sengal.