
Satu bulan kemudian.
Kondisi Indonesia semakin buruk setelah muncul asosiasi monster hunter. Udara di langit semakin beracun. Itu terlihat awan tebal yang sangat gelap menyelimuti seluruh wilayah Indonesia.
Hal ini berdampak besar bagi para Non-Arkham atau manusia biasa yang tidak memiliki Horus di dalam kundalininya. Mereka semua mati dan hanya menyisakan 1% populasi manusia biasa di wilayah Indonesia.
Bahkan para Arkham, dan hunter pun banyak yang mati akibat gelombang radiasi energi Arkha. Semua ini akibat Alvaro gagal mengumpulkan tujuh pecahan Zebris Core.
Semua itu terjadi karena dia lupa akan misinya tersebut setelah bergelimang harta. Ditambah lagi Alvaro kehilangan ingatan masa lalunya, dan kini hanya tersisa ingatan masa lalunya satu tahun lalu.
...[Tetew-tetew]...
...[Misi utama gagal diselesaikan]...
...<>................¤……………<>...
...[Misi utama: Kumpulkan 9 pecahan Zebris Core]...
...[Batas waktu: 30 hari]...
...[Hukuman: Semua monster akan keluar dari dalam portal dan memenuhi bumi]...
...[Hadiah: Uang 10 milyar, 10.000 poin skill, 200 kg kristal Arkha tipe S, 1 ton kristal Arkha tipe A, dan 10 to kristal Arkha tipe B]...
...[Progress: 2/9]...
...<>................¤……………<>...
...[Tetew-tetew]...
...[Portal monster memenuhi bumi. Semua monster di level putih telah keluar dari portal]...
...[Menghitung mundur monster portal level jingga akan keluar dari dalam portal dan memenuhi bumi. Sisa waktu: 7 hari]...
__ADS_1
Alvaro yang sedang bercocok tanam dengan Aruna segera menarik singkong premium miliknya. Setelah melihat panel hologram yang menunjukan keluarnya monster jingga 7 hari lagi.
“Sial, aku terlalu ceroboh menyelesaikan misi mencari pecahan Zebris Core. Sungguh, aku benar-benar lupa,” batin Alvaro kesal pada dirinya sendiri.
Aruna yang sudah terkapar lemas langsung bangkit. Melihat Alvaro menghentikan permainannya.
“Ada apa, Sayang? Kamu gelisah sekali?” tanya Aruna menyelidik.
“Ini gawat! Dunia akan hancur. Mungkin saat ini hanya wilayah Bali yang memiliki pasokan sumber daya yang melimpah, tetapi wilayah lain aku yakin menderita. Dalam waktu dekat akan terjadi migrasi besar-besaran dari seluruh pulau menuju Bali,” jawab Alvaro memijat keningnya beberapa kali.
“Lalu apa rencanamu, Sayang? Bukankah disini kita hidup lebih nyaman, aman dan damai. Kenapa kita harus peduli pada yang lain? Mereka juga telah mencampakkan kita sewaktu di Yogyakarta,” sergah Aruna yang tidak bisa melupakan sewaktu Veigas mengusir mereka berdua.
“Aku akan pergi seorang diri. Untuk di Bali kamu jaga guild baik-baik. Habisi setiap anggota asosiasi hunter monster yang mendekat.”
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro memakai cyborg armor suit bernama Zelta berwarna hitam dengan topeng cyborg seperti milik Kapten Kaizo menutupi wajahnya.
Cyborg armor Zelta dibuat oleh Alvaro menggunakan 10 kg kristal Arkha tipe S. Hal ini dia lakukan karena telah menyadari bahwa setiap dia menggunakan pedang Ringu, maka ingatan masa lalunya akan hilang tahun demi tahun.
Alvaro melesat ke arah jendela apartemen. Setelah itu melompat dari balkon lantai dua puluh. Saat melewati lantai tujuh belas dari punggung Alvaro, keluar sayap pesawat dengan dua mesin jet, dan mendorong tubuh Alvaro dengan kecepatan penuh menuju Banyuwangi.
Dua jam kemudian.
Alvaro tiba di Pelabuhan Banyuwangi. Kondisi di luar pelabuhan porak poranda dan dipasangi pagar setinggi 30 meter. Untuk mengisolasi monster yang sudah berkeliaran di seluruh Pulau Jawa.
Di atas pagar tersebut ditempatkan sniper-sniper yang bertugas menembaki monster-monster yang mendekat ke arah pagar. Di dalam wilayah pelabuhan juga banyak para Arkham yang mengungsi, dan di luar pagar pula banyak para hunter juga Arkham yang diburu oleh para monster.
Kondisinya benar-benar sangat genting dan mencekam. Hampir semua bangunan di dekat pelabuhan Banyuwangi porak poranda diamuk oleh para monster.
“Sial, kondisinya terlalu parah. Aku harus mencari pecahan Zebris Core. Siapa tahu ingatanku di masa lalu bisa pulih,” rutuk Alvaro pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba ALvaro merasakan getaran pecahan Zebris Core berada di dekatnya. Tampak dari jauh kawanan Naga tanpa sayap yang memiliki kulit berwarna biru dengan duri-duri tajam muncul di sekujur tubuhnya bergerak cepat ke arah pelabuhan.
Para penembak jitu mulai menembaki kawanan Naga sepanjang 3 meter tersebut, dan berjatuhan satu persatu. Akan tetapi jumlah mereka terlalu banyak dan membuat para sniper tersebut kewalahan.
__ADS_1
Bahkan para hunter yang berada di luar pagar pun kewalahan untuk menghentikan kawanan Naga yang dipimpin oleh Saito, salah satu anak buah Fahmi. Melihat mereka kewalahan, Alvaro yang sedang melayang di atas pagar mematikan mesin jetnya. Kemudian meluncur cepat ke arah kawana Naga biru yang memiliki level putih.
Alvaro menarik gagang pedang saber yang tersemat di belakang pinggangnya. Lalu menekan tombol di gagang pedang saber tersebut untuk mengeluarkan pedang bilah pedang saber berwarna putih.
“Sword Energy level 1!” seru Alvaro. “Energy Spike!”
Begitu mendarat, bilah pedang saber berwarna putih tersebut ditusukan ke permukaan tanah.
Dalam radius 100 meter, dari dalam permukaan tanah muncul ribuan bilah pedang saber berwarna putih menusuk kawanan Blue Dragon. Saat mereka meraung kesakitan, karena kakinya terjebak oleh bilah pedang saber, Alvaro menumpu pada kedua kakinya untuk melesat ke arah kawana Blue Dragon.
“Energy Rapid Slash!”
Bilah pedang tersebut diayunkan secara acak oleh Alvaro untuk memenggal kepala satu persatu kepala Blue Dragon. Mayat-mayat Blue Dragon otomatis tersimpan ke dalam jam tangan ruang Alvaro untuk dijadikannya sumber daya.
Permukaan tanah dalam radius 100 meter banjir cairan merah, dan hal itu membuat amarah Saito memuncak. Karena 50% pasukan Naga biru berhasil dihabisi oleh Alvaro.
“Siapa prajurit itu?”
“Dia sangat hebat!”
“Hanya dalam sekejap berhasil menahan serangan gelombang monster.”
Para sniper yang sedang membidik di atas pagar pembatas pelabuhan tentu saja terkejut. Terlihat jika raut wajah mereka dipenuhi tanda tanya besar. Menanyakan tentang seorang hunter yang membantai 500 ekor Blue Dragon seorang diri.
“Energy Ball!” seru Alvaro mengarahkan telapak tangannya ke arah kawanan Blue Dragon yang sedang berlari ke arahnya.
Bola energi berwarna putih muncul di depan telapak tangan kiri Alvaro sebesar bola baseball. Lama kelamaan terus membesar sebesar sampai bola energi tersebut berdiameter 10 meter.
“Haaa!” teriak Alvaro sambil mendorong bola energi raksasa tersebut ke arah kawanan Blue Dragon yang berjarak 30 meter dari tempat Alvaro berdiri.
Bola energi itu melesat cepat, secepat angin dan disertai deru angin yang kencang. Apapun yang dilewatinya terhempas dan pada akhirnya menghantam Saito yang berada di depan kawanan Blue Dragon.
Suara ledakan seperti suara bom Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan terdengar sangat kencang. Kepulan cahaya, asap, dan debu menjulang ke langit membentuk siluet jamur setinggi 500 meter.
__ADS_1
Gelombang kejutnya menghempaskan apapun yang dilewatinya hingga radius 500 meter. Sudah dapat dipastikan 500 ekor Blue Dragon beserta Saito tewas dalam serangan bola energi yang ditembakan oleh Alvaro.