RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 29


__ADS_3

Aruna pun selesai memakai seragam sekolah Jepang khusus wanita. Berwarna hitam dan sukses membuat Alvaro semakin terpesona padanya.


“Run, tau nggak apa hal yang paling manis di dunia ini?” tanya Alvaro yang sudah berhasil menormalkan singkong premium miliknya menjadi singkong tape.


“Dimana-mana yang paling manis itu gula, Alvaro!” gerutu Aruna sambil menarik-narik kedua pipi Alvaro yang empuk dan kenyal seperti kue mochi.


“Ada yang lebih manis dari gula. Saking manisnya, rasa manisnya sampai meresap ke dalam hati. Mau tau jawabannya—”


“Bodo amat! Aku nggak tertarik,” potong Aruna sambil mengeluarkan kedua sayap apinya.


Rupanya kedua sayap Aruna telah berubah warna. Semula sayap api jingga kini telah berubah menjadi sayap api biru.


“Blue Wing Fire!” teriaknya.


Hal yang membuat elemen api milik Aruna berevolusi adalah kristal hitam legam yang dijatuhkan oleh Nargacuga tadi. Ia pun diberi nama Bat Core.


“Aruna, tunggu! Jawabannya kamu yang paling manis!” teriak Alvaro yang sudah melihat Aruna buru-buru terbang sambil tersenyum malu.


Tentu saja ia tersipu, setelah mendengar gombalan yang dilontarkan oleh Alvaro tadi. Hatinya seketika resah dan gelisah. Antara bahagia dan kebingungan.


“Bukannya aku menolak, Al. Aku juga menyukaimu sekarang. Berkat kamu, karir aku sebagai seorang hunter menjadi sangat cemerlang. Akan tetapi aku merasa malu karena dimasa lalu aku pernah merundungmu. Bahkan sangat keterlaluan padamu,” batin Aruna sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh.


“Sial, aku malah ditinggalkan.” Alvaro yang sangat kesal segera mengeluarkan Pedang Riku dan Storm Core dari jam tangan ruang. “Arc Of Weapon: Enchanting!”


Muncul lingkaran sihir merah seluas tiga meter. Alvaro menaruh katana berbilah hitam itu ke dalam lingkaran sihir beserta Storm Core. Sebuah lotus kristal berwarna putih berhasil mengubahnya menjadi sebuah pedang.


...[Tetew-tetew! Selamat, Tuan telah berhasil menyatukan Storm Core dan menjadikannya bentuk Pedang Storm Abyssal, yakni kedua pedang ganda berwarna putih]...


Tanpa basa-basi lagi, Alvaro memegang Pedang Riku dan mengubahnya menjadi pedang ganda berwarna putih, ”Twin Veda: Abyssal Storm! Hyper Moon!”


Alvaro menumpu pada kedua kakinya yang sudah diselimuti deru angin yang sangat kencang. Lalu melompat setinggi tiga puluh meter, hingga berhasil menggapai pagar Jembatan Srandakan.


Sementara itu, Aruna sudah terbang jauh ke arah asosiasi hunter. Ia tidak memperdulikan mobilnya yang sudah ringsek. Dengan cepat para polisi segera memeriksa lokasi kejadian dan mobil miliknya.


Alvaro berhasil mendarat sempurna tepat di atas jok motornya. Seketika kedua pedang berbilah putih tersebut hilang. Dia langsung menarik pegangan gasnya dalam-dalam, hingga membuat motornya standing. Motor Alvaro melaju sangat kencang, setelah roda depannya berhasil mendarat sempurna ke permukaan aspal.

__ADS_1


......................


...Apartemen Laluna, Surabaya....


Fredrick begitu kesal. Ia membanting cawan yang dipegangnya sebagai luapan amarahnya.


“Sial, Monster Nargacuga tolol! Membereskan sampah busuk saja tidak mampu dan justru mati!”


Di dalam kamar apartemen itu, ada beberapa hunter yang sudah menjadi anggota tim Fredrick dan berpihak pada para monster. Pra hunter yang berkhianat merasa senang, karena Fredrick memberikannya Genome DNA monster pada tubuh mereka dan menjadikan mereka lebih kuat secara instan.


"Bos, biar kami yang menghabisi cecunguk itu. Kami akan mengerahkan anak buah kami untuk membereskan sampah busuk itu," usul Fahmi yang menjadi tangan kanan Fredrick saat ini.


"Terserah, habisi dia dan rebut pedangnya!" bentak Fredrick lantang dengan aura membunuh memenuhi kamar apartemen milik Fredrik.


"I-iya bos.”


Kelima anak buahnya merasa tercekik oleh aura membunuh yang dikeluarkan oleh Frecrick, sampai-sampai hampir kehabisan nafas.


......................


Aruna sudah sampai terlebih dahulu daripada Alvaro. Kini ia sudah berada di dalam ruangan Veigas sambil menceritakan kronologi tentang dirinya yang baru saja diserang oleh monster.


Akan tetapi, Veigas agak ragu dengan cerita Aruna karena ada bagian yang hilang. Tiba-tiba saja Alvaro sudah datang.


“Permisi, Pak!” Alvaro mengetuk pintu ruangan Veigas.


“Ya, masuk!” sahut Veigas dengan suara lantang.


Alvaro pun masuk dengan menundukan wajah. Lalu berdiri di samping Aruna, “Lapor, Pak. Aku mendapatkan kabar penting dari monster yang telah aku habisi di portal level perak. Kalau monster yang keluar akhir-akhir ini dari portal ada yang sengaja melakukannya?”


Veigas berdiri dengan mata membola, “Katakan siapa?” ucapnya marah karena terbawa emosi oleh laporan yang diberikan oleh Alvaro.


“Dia hanya mengatakan jika ada yang sengaja melakukannya. Seorang hunter atau manusia yang telah bersekutu dengan para monster, begitu katany," ucap Alvaro dengan nada tegas.


Veigas kembali duduk dengan menghela nafas panjang dan bertanya dengan tatapan menyelidik, “Apakah yang kamu katakan itu benar? Apakah kamu menemukan bukti?”

__ADS_1


"Belum, Pak," jawab Alvaro dengan menggeleng pelan dan melanjutkan, "Aku hanya dapat informasi itu dari boss monster di portal level perak. Selebihnya aku tidak tahu."


“Pergi!” bentak Veigas tiba-tiba mengusir


mereka. Karena ia tidak bisa begitu saja percaya dengan laporan yang dikatakan oleh Alvaro dan Aruna.


“Tidak mungkin manusia bekerja sama dengan monster. Itu tidak mungkin. Untuk kalian berdua asosiasi hunter cabang Bantul menskors kalian selama satu bulan tidak boleh masuk ke dalam portal manapun!”


Tiba-tiba jam tangan milk Aruna dan Alvaro berbunyi. Menunjukan sebuah panel hologram berwarna biru, bahwa mereka berdua memang diskors.


Aruna dan Alvaro tentu saja sangat kecewa dengan keputusan Veigas yang tidak mempertimbangkan dahulu laporannya. Hingga justru menganggap apa yang dilaporkannya adalah sebuah kebohongan yang tidak berdasar.


“Ba-baik, Ketua.”


Alvaro dan Aruna keluar dengan wajah ditekuk. Akan tetapi saat mereka berdua sampai di tempat parkir, alarm darurat di dalam gedung hunter berbunyi keras.


Jam tangan milik Aruna dan Alvaro juga menunjukan panel hologram berisikan banyak portal perak bermunculan. Portal berwarna perak itu muncul sangat banyak.


Bahkan berjumlah ratusan titik di seluruh wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


Para hunter yang memiliki rank Mythic ke atas segera bergerak ke seluruh sudut-sudut wilayah Yogyakarta yang memunculkan portal perak.


Namun, Alvaro dan Aruna tidak memperdulikannya. Mereka berdua pergi menuju kedai angkringan di dekat jembatan Srandakan untuk berjualan kembali.


Beberapa mobil Jeep Rubicon ternyata sedang menunggu mereka berdua. Mereka yang berada di dalam tiga mobil jeep Rubicon merupakan anak buah Fahmi yang diperintahkan untuk menghabisi Alvaro dan juga Aruna.


Saat sampai di jalanan yang sepi akan pengendara motor yang lalu lalang. Anak buah Fahmi mengeluarkan senapan M14 dari jendela mobil dan terarah ke motor yang sedang dikendarai oleh Alvaro beserta Aruna.


"Habisi mereka!" titah Fahmi melalui komunikasi walkie talkie.


Suara tembakan beruntun kembali terdengar. Alvaro dan Aruna dibombardir oleh senapan yang ditembakan oleh anak buah Fahmi.


"Al kita diserang, cepat menghindar!" teriak Aruna sambil menepuk pundak Alvaro dan membuat pria bertangan kiri cyborg itu kaget. "Awas! Firewall!"


Ban belakang motor yang sedang dikendarai Alvaro hampir saja terkena peluru. Akan tetapi dengan sigap Aruna membentuk dinding api berwarna jingga. Seketika proyektil-proyektil peluru tersebut langsung meleleh, sesaat setelah menyentuh dinding api yang memiliki suhu seribu derajat celcius.

__ADS_1


__ADS_2