RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 6.


__ADS_3

“Ti-tidak mungkin?!” Frederick langsung gemetar tubuhnya dan berlari menjauh dari monster yang berada di ujung dinding diikuti kedelapan rekannya.


Alvaro sendiri terduduk lemas, dengan mata membola dan rahang terjatuh. Kakinya seperti membeku dan tidak bisa digunakan untuk berlari menjauh dari monster yang dinamakan Thanatos tersebut.


“Hahaha …. Roaaaar!” Thanatos tertawa jahat dengan suara menggelegar setelah mencium bau darah dari kesepuluh manusia di depannya.


“Kalian semua manusia lemah yang terus membunuh ras kami. Kalian hanyalah rantai makanan terbawah bagi kami, hahaha ….”


Suara raungannya menggema di seluruh gua dan menggetarkannya. Mereka semua tidak bisa melakukan apa-apa, Thanatos merupakan monster yang berada di dalam portal hitam. Itu artinya mereka bersepuluh termasuk Alvaro hanya mengantarkan nyawa.


Di lingkaran portal kaki Gunung Merapi yang sebelumnya berwarna putih, berubah menjadi warna hitam dengan lingkaran yang lebih besar.


Radar portal di seluruh asosiasi hunter menunjukan tanda bahaya. Semua hunter rank Primordial di seluruh dunia, segera bergegas menuju kaki Gunung Merapi menggunakan pesawat masing-masing.


Di dalam portal aura kegelapannya semakin pekat dan membuat Fredrick beserta kesembilan rekannya sesak nafas. Satu persatu kepala mereka meledak hingga hancur menjadi bubur darah.


“Ampuni kami tuan monster! Jangan bunuh k-kami!” Fredrick merasa putus asa dan tidak bisa melawan lagi, lalu bersujud ke arah Thanatos.


Di dalam gua tersebut hanya tersisa Fredrick, Griya, Angga, Niko dan Alvaro. Sedangkan kelima rekannya sudah mati berkalang tanah dengan kepala meledak.


“Hahaha …. Bagus, sembahlah aku. Maka aku akan memberikan kekuatan hahaha …. Dengan mengevolusikan kalian ke tahap yang lebih tinggi." Thanatos menggerakan kelima jarinya ke arah dalam dan membuat tubuh Niko, Griya, Angga, Fredrick, serta Alvaro melayang mendekati kepala Thanatos.


Mereka berlima sangat ketakutan hingga terkencing-kencing setelah melihat muka Thanatos lebih dekat. Mulutnya terbuka lebar dengan gigi taring yang sangat tajam siap memakan mereka bulat-bulat.


Thanatos mengendus untuk merasakan dari kelima hunter tersebut yang mana yang memiliki bau darah yang memikat. Ternyata tubuh Niko memiliki bau darah yang memikat Thanatos. Tubuhnya melayang menuju mulut monster besar yang dipenuhi taring-taring tajam dengan air liur yang menetes.

__ADS_1


Niko sudah pasrah, mulutnya terkunci dengan raut muka seputih kertas, lalu tubuhnya masuk perlahan ke dalam mulut besar yang sangat bau, baunya sangat busuk melebihi tempat pembuangan sampah akhir. Begitu masuk, gigi-gigi tajam itu mengunyah tubuh Niko dengan cairan merah menyembur dari tubuhnya mengisi ruang di dalam mulut Thanatos.


Alvaro, Fredrick, Griya, dan Angga menggigil tubuhnya, giginya bergemeretak karena saking takutnya melihat Niko ditelan mentah-mentah oleh Thanatos.


“Luar biasa, darah manusia ini sangat lezat.” Thanatos membuat tubuh Angga dan Griya bersamaan melayang masuk ke dalam mulutnya.


“Jangan! Jangan! Aaaakh!” mohon Angga dan Griya agar jangan dimakan oleh Thanatos.


Akan tetapi percuma, mereka berdua pun akhirnya mmekik dan itu pekikan terakhir mereka karena tubuhnya sudah dikunyah bulat-bulat. Alvaro menangis mengingat senyum ramah yang selalu mereka ulas padanya. Cairan bening menetes deras dari kedua kelopak matanya disertai amarah.


“Apa nyawa manusia hanya sebuah mainan untuk kalian?” geram Alvaro dengan menggertakan gigi lalu melemparkan belatinya ke arah mata kiri Thanatos.


“Aaaargh …!” Thanatos meraung kesakitan karena matanya tertusuk belati yang dilemparkan Alvaro.


“Walaupun aku mati, aku lebih baik mati dalam keadaan melawan dan tidak akan menyerah!” teriak Alvaro yang sudah terjatuh ke permukaan tanah lalu bangkit berdiri dengan sikap waspada.


“Tuan, ampuni aku. Aku akan menjadi budakmu, ampuni aku. Apapun yang tuan inginkan dan perintahkan aku akan memenuhinya,” katanya dengan raut muka seputih kertas dan tubuh menggigil ketakutan.


“Kapten, kenapa Anda melakukan ini Kapten? Bangun Kapten, ayo kita lawan monster ini sampai titik darah penghabisan!” kata Alvaro mencoba menegakan tubuh Fredrick agar jangan bersujud ke arah Thanatos yang sedang memegangi matanya.


“Tidak, aku tidak mau mati konyol. Lebih baik aku jadi budak monster dan hidup walaupun menjadi budak,” tolak Fredrcik sambil menepis tangan Alvaro. Kemudian kembali bersujud ke arah Thanatos dan melanjutkan, “Tuan, ampuni aku. Aku masih ingin hidup. Jika tuan ingin, bunuh saja dia!”


Alvaro hatinya merasa sakit mendengar penuturan Fredrick yang ingin mengorbankan dirinya demi kepentingan pria bermata sipit itu sendiri agar tetap hidup.


“Baiklah, aku terima kau menjadi budakku. Bangunlah! Bunuh dia!” titah Thanatos dengan suara menggelegar karena sangat marah pada Alvaro yang telah menusuk mata kirinya.

__ADS_1


Fredrick pun bangun dari sujudnya dan melirik tajam ke arah Alvaro yang telah berdiri di samping kirinya lalu menghantamkan pukulan tepat mengenai pelipis kanan Alvaro.


...BAM!...


Tubuhnya terlempar dan menabrak dinding gua hingga retak. Fredrick melesat ke arah Alvaro dengan nafsu membunuh yang sangat kuat dan setibanya di depan tubuh Alvaro yang masih menempel di dinding gua, dia melesatkan pukulan bertubi-tubi ke arah perut Alvaro, “Winning knuckle!”


...BAM BAM!...


Alvaro meringis kesakitan sambil memuntahkan darah, karena dipukul oleh Fredrick secara membabi buta. “Guhak! Ka-kapten sa-sadarlah,” liriknya dan suara Alvaro tidak bisa didengar oleh Fredrick.


Pandangan mata Alvaro sudah buram, bahkan tubuhnya sudah tidagk bisa merasakan rasa sakit telah dipukuli oleh Fredrick.


"Apakah aku telah mati?" monolog Alvaro.


Thanatos begitu senang dan terhibur melihat sesama manusia saling bertarung satu sama lain hanya demi keegoisan diri, "Bagus, lanjutkan terus. Siksa dia sampai mati, hahaha …. Biar aku merasakan aroma-aroma penderitaan dari mayat itu, hahahaha …."


Tubuh Alvaro yang sudah sekarat ditarik rambutnya lalu diseret oleh Fredrick ke arah Thanatos untuk dijadikan persembahan.


"Tuan, ini persembahanku. Maka berikan aku kekuatan untuk menguasai dunia dan aku akan bisa memberikan berapapun persembahan manusia pada Tuan," pinta Fredrick sudah dalam keadaan bersujud.


"Baiklah. Aku akan memberikan kekuatan kepadamu." Thanatos menjulurkan tangannya ke arah dahi Fredrick dan menggerakkan ujung jari kanannya yang memiliki kuku runcing tepat ke tengah dahinya.


Saat itu pula tubuh Alvaro beresonansi dengan energi Arkha yang sangat besar dari dalam tubuh Thanatos yang ditransfer


ke dalam tubuh Fredrick dan membuatnya bercahaya.

__ADS_1


Tubuh Alvaro perlahan melayang melewati tangan Thanatos dan lebih tinggi lagi hingga hampir menyentuh langit-langit gua.


Thanatos ketakutan, "Dia?! Di-dia?!" ucapnya dengan melebarkan mata dan sepertinya mengetahui sesuatu tapi tidak dapat diungkapkan.


__ADS_2