
Alvaro keluar dari portal dengan pikiran kacau. Terbebani dengan kata-kata yang diucapkan mengenai seorang manusia pengkhianat dan sudah menjadi kaki tangan dari ras monster.
"Kira-kira siapa, ya?"
Tanpa disadari waktu telah beranjak pagi, walaupun suasana langit saat ini masih terlihat remang-remang. Sebab, bumi masih tertutup radiasi arkha yang menggumpal di langit. Sehingga mampu menutupi cahaya matahari yang akan masuk ke bumi.
“Aku harus melaporkan semua ini pada Tuan Veigas,” gumam Alvaro dan berjalan cepat ke arah gerobak angkringan miliknya yang sudah dirapikan oleh Aruna.
Aruna yang berada di dalam mobil seketika terbangun dari tidurnya, saat sekelebat bayangan Alvaro terlihat dari jendela mobil. “Al, kamu baik-baik saja?” tanya Aruna khawatir.
Aruna memerhatikan penampilan Alvaro yang berantakan. Apalagi ketika melihat baju Alvaro compang-camping ia semakin khawatir.
“Aku tidak apa-apa. Kita harus segera ke asosiasi hunter. Ada kabar penting yang harus kita berikan pada ketua asosiasi hunter cabang Bantul!"
Monster Nargacuga yang sedari awal ditugaskan untuk mengawasi Alvaro dari kemarin, segera mengabari Fredrick atasannya lewat sebuah telepati. "Lapor, Alvaro telah mendapat kabar tentang kita dari salah satu Jendral emperor Lord, yakni Elven Monarch."
“Sialan! Segera habisi dia!” titah Fredrick melalui komunikasi telepati kepada Nargacuga.
Monster Nargacuga menganggukan kepala. Dengan cepat ia segera mengirimkan kelelawar-kelelawar kecil ke arah mobil yang sedang dikendarai oleh Aruna.
Monster kelelawar berkepala naga tersebut sudah sangat paham tentang kelemahan Alvaro, yaitu Aruna. Cukup dengan menghentikan Aruna, Alvaro juga akan terhenti dan tidak mungkin mengabaikan Aruna.
Kaca depan mobil Aruna tertutupi oleh banyak kelelawar kecil-kecil. Tentu saja hal itu menghalangi pandangan Aruna. Jarak pandangnya menjadi sangat terbatas kali ini.
"Kenapa tiba-tiba muncul banyak kelelawar?"
Benar saja, sesaat setelah mobil Aruna masuk ke dalam area Jembatan Srandakan kecelakaan terjadi. Baru saja melajukan kendaraan sepanjang lima puluh meter di jembatan Srandakan, mobil itu menabrak besi penghalang dan membuat Aruna terlempar keluar dari dalam mobil hingga masuk Sungai Progo.
Suara dentuman mobil yang menabrak tiang berpadu indah dengan suara percikan air, karena tubuh Aruna terlempar masuk ke dalam sungai. Sementara mobilnya justru langsung meledak di atas jembatan.
Alvaro yang mengendarai motornya dan hanya terpaut sepuluh meter dari mobil Aruna segera berhenti ketika melihat kejadian itu. Apalagi setelah mendengar suara dentuman ledakan yang diakibatkan mobil Aruna menghantam besi penghalang jembatan terdengar begitu kerasnya.
Pria berambut hitam itu panik saat melihat Aruna tidak ada di dalam mobil. "Dimana Aruna?"
Pada saat kejadian Aruna langsung terlempar dan terjun bebas ke dalam Sungai Progo. Arusnya tidak begitu deras, tetapi sungai tersebut begitu luas dan dalam, serta sangat beracun.
Melihat bekas pusaran air di bawah jembatan, membuat Alvaro menduga jika Aruna mungkin jatuh ke sungai. Dengan menumpu pada kedua kakinya, Alvaro melompat tinggi menuju sungai untuk menyelamatkan Aruna yang terjun dari jembatan setinggi tiga puluh meter tersebut.
Pedang Riku yang sudah disimpan ke dalam jam tangan ruang, segera Alvaro keluarkan. Ia merubahnya menjadi pedang besar bergerigi tajam berwarna ungu, lalu mengibaskannya seperti kipas.
“Twin Veda: Vengeful Blade!” seru Alvaro.
__ADS_1
Dugaan Alvaro benar, ia melihat sosok Aruna di kedalaman sungai. Tubuhnya meluncur cepat mengejar tubuh Aruna yang sudah pingsan dan baru menyentuh permukaan air.
Kibasan pedang Alvaro digunakannya untuk menetralisir racun yang berada di dalam air sungai jembatan Srandakan. Tubuh Aruna masuk ke dalam air yang sudah jernih, kemudian disusul oleh tubuh Alvaro terpaut satu detik.
Ketika pedang Vengeful Blade menyentuh air, pedang itu berubah menjadi Naga Leviathan. Berukuran sangat panjang, tetapi bertubuh kecil hanya satu setengah meter. Ekornya membelit tubuh Alvaro dan Aruna untuk membawanya ke pinggir sungai.
Semua racun yang berasal dari radiasi energi Arkha yang berlebihan di area bawah Jembatan Srandakan tersebut berhasil dinetralisir semuanya. Kurang lebih sepanjang radius dua puluh meter di area Sungai Progo dalam sekejap bersih, berkat kemunculan Naga Leviathan sepanjang seratus meter milik Alvaro.
Merasa gagal membunuh Aruna, Monster Nargacuga terbang cepat ke arah tubuh Aruna yang sudah terkapar di pinggir sungai. Keadaannya masih pingsan dan berdampingan dengan tubuh Alvaro.
Setelah dekat dan melihat Naga Leviathan kembali menjadi sebuah pedang katana berbilah hitam, Nargacuga melesat terbang sambil menggigit leher Aruna. Ia berhasil menanamkan racun Abyss yang merubah kepribadian manusia menjadi jahat.
Alvaro sadar dan segera mengambil pedang katana berbilah hitam miliknya. Secepat kilat ia mengarahkan pedang itu ke arah leher Nargacuga yang akan kabur.
Suara tebasan pedang terdengar nyaring, dan berhasil melukai leher Monster Nargacuga. Cairan hitam legam menyembur deras dari leher Nargacuga. Tubuhnya langsung terjerembab hingga mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna hitam legam.
Saat kristal hitam legam berhasil diambil oleh Alvaro, tubuh Aruna bergerak. Ternyata tubuh Aruna yang dipenuhi luka-luka tersebut sudah dijangkiti racun Abyss, yang disuntikkan oleh Nargacuga melalui gigitannya tadi.
Seketika tubuh Aruna muncul ruam berwarna hitam legam, persis seperti akar pohon yang menonjol besar di sekujur tubuh. Alvaro menengok dan dia langsung panik. Secepat mungkin Alvaro berlari sambil membawa kristal hitam legam itu.
“Aruna! Bertahanlah!” Alvaro panik sambil memeluk Aruna.
Kristal hitam legam yang dipegang oleh Infinity Gear bereaksi dengan tubuh Aruna. Sama seperti pepatah yang tidak jelas, di dalam kristal itu ada dua kemungkinan. Salah satunya ada manfaat di dalam sana dan salah duanya ada pula keburukan atau mudharat yang ikut serta.
Namun, sesaat kemudian Kristal hitam itu tiba-tiba pecah dan menjadi partikel-partikel berwarna hitam lalu masuk ke dalam tubuh Aruna. Alvaro yang sedang memeluk Aruna merasakan jika suhu tubuh Aruna perlahan naik dari 36 derajat celcius menjadi 46 derajat celcius dan terus naik tanpa henti.
Tubuh Aruna di dudukan setegak-tegaknya oleh Alvaro. Dia langsung menjauh hingga beberapa meter, karena merasakan akan terjadi fluktuasi energi di dalam wadah energi Arkha milik Aruna.
"Analisa status!" titah Alvaro dalam batinnya.
...[Tetew-tetew! Analisa status]...
...<>...........¤………..<>...
...[Nama: Aruna Dewanti]...
...[Rank: Elite(9.999/10000)]...
...[Elemen: Fire]...
...[Senjata: Gauntlet Helios Tier +1]...
__ADS_1
...[Kondisi: Poison Blueflame (Sedang recovery)]...
...<>...........¤………..<>...
Tiba-tiba saja, tubuh Aruna Meledak dan membakar semua pakaian yang dipakainya. Bahkan membuat Alvaro terpental, dan hampir saja tercebur lagi ke dalam sungai.
“Gila!” teriak Alvaro kesal.
Ia baru saja menganalisa tubuh Aruna, tetapi justru terkena ledakan. Hingga membuat tubuhnya jungkir balik ke arah bibir sungai.
Sayang, mata Alvaro ternoda. “Witwiw! Tubuh sayangku memang beda, coy!”
Mata Alvaro membelalak saat memandang tubuh Aruna yang sangat seksi dan sintal tanpa memakai sehelai benang. Langkah kaki Alvaro dipercepat saat melihat lekukan tubuh Aruna yang membius pikirannya yang masih suci.
Namun, saat Alvaro mendekat dan berjarak hanya tiga meter dari Aruna yang sedang bersila, tiba-tiba matanya terbuka. Alvaro hanya bisa mengelus dada dan membalikan badan, karena hal itu.
"Al! Alvaro! Dimana kamu?" panggil Aruna yang membelakangi Alvaro.
Ia tidak tahu jika saat ini Alvaro sedang kalang kabut karena menahan singkong premium miliknya yang bergejolak kuat di dalam celana.
"A-aku di belakangmu. Aku tirak berani mendekat. Lihat kondisi tubuhmu itu!" sahut Alvaro dengan berteriak sambil menghimpit singkong premium dengan kedua pahanya dan raut wajah Alvaro terbasahi keringat dingin.
Aruna menuruti perintah Alvaro dan memindai sekujur tubuhnya yang sudah tidak memakai sehelai benang. Tampak kulitnya bertambah mulus dan putih seperti giok kaca. Bukannya risih karena ada Alvaro di belakangnya, malah Aruna kegirangan.
Aruna membalikan badan dan memeluk Alvaro dengan kegirangan, “Al! Lihatlah! Kulit tambah cantik pasti kamu sangat menyukainya, lihatlah!” serunya
“Kulit mulus matamu! Justru kamu seperti itu bikin aku gerah, Aruna!” teriak Alvaro sangat kesal.
Menyebalkan sekali karena Aruna justru tidak peka dengan dirinya sendiri yang telah membangunkan Cacing menjadi Naga. Alvaro memejamkan mata sambil meminta sistem membelikan cyborg armor suit di dalam fitur shop sistem.
“Bro sistem, tolong belikan cyborg armor Suit rank B!” pintanya di dalam hati.
...[Tetew-tetew! Mohon maaf fitur shop tingkat lanjut belum bisa dibuka, hanya bisa membeli baju biasa]...
“Ah, sudah beli baju apa yang penting Aruna pakai baju!”
...[Tetew-tetew! Baiklah, memotong uang 1 juta rupiah dari saldo sistem, untuk membeli Japanese School Uniform Girl]...
...[0% … 50% … 100%]...
...[Pembelian berhasil, Japanese School Uniform Girl sudah ditransfer ke ransel inventaris sistem]...
__ADS_1
Alvaro mengeluarkan seragam sekolah Jepang versi perempuan dari jam tangan ruang. Ia langsung memberikannya pada Aruna dalam keadaan masih memejamkan mata.
"Nih, pake!"