
“Ini adalah ramuan untuk meningkatkan rank hunter, dan namanya Horus Potion atau HRP. Ini adalah produk yang baru kami ciptakan dan aku salah satu buktinya, karena sudah berada di rank King,” jelas Alvaro.
Ron pun memindai tubuh Alvaro menggunakan jam tangan ruang miliknya, dan matanya membulat saat mengetahui rank Alvaro memang berada di rank King.
“Walahiyung! Ambyar?!” Ron tersentak kaget.
“Kenapa?” tanya Sinta, Zeda, dan I Wayan Sumaningrat bingung.
“Aku merasakan cairan emas ini partikel energinya sama yang berada di seluruh aliran darah Alvaro. Kalau cairan ini dipasarkan, bukan tidak mungkin para hunter akan menjadi kuat lebih cepat,” jawab Ron dengan mata berbinar-binar sambil memegangi botol HRP. “Aku memberikan kelulusan untuk tes kelayakan ramuan.”
“Terserah kau saja. Aku tak peduli,” ketus Zeda sambil menggembungkan pipinya. “Aku yang akan menguji kelayakan zirah yang dibuat oleh Guild Noir.”
“Baiklah.” Alvaro mengeluarkan zirah biasa dan dipakaikan ke tubuhnya, “Silahkan hantam dimanapun kau suka. Zirah ini terbuat dari kristal tipe B, tapi bisa menahan serangan dari senjata yang dibuat dari kristal tipe A.
“Omong kosong! Apa yang kau katakan itu tak berdasar. Mana mungkin zirah yang dibuat dengan kristal tipe B bisa menahan serangan senjata kristal tipe A atau setara dengan monster level abu-abu, cuih!” ejek Zeda sambil meludah ke arah kaki Alvaro.
Zeda mengeluarkan sebuah tombak berbilah kapak ganda dengan ujung runcing.
“Pukul saja sepuasmu tuan. Aku yakin zirah ini takan bisa ditembus,” balas Alvaro sambil tersenyum licik.
Zeda menanggapinya sangat serius dan mengalirkan aura berwarna perak ke tombak yang dipegangnya tersebut.
“Sky Piercing!”
Tombak tersebut ditusukan ke arah dada Alvaro sekuat tenaga, hingga membuatnya terpundur beberapa meter, dan hampir saja punggungnya menabrak dinding ruangan.
Suara hantamannya sangat keras disertai suara dentuman ledakan yang menciptakan kepulan debu dan asap yang sangat tebal.
Kepulan debu dan asap tersebut menghalangi pandangan Sinta, Ron, dan I Wayan Sumaningrat ke arah Alvaro, serta Zeda.
__ADS_1
Suara kaca pecah terdengar sangat nyaring tertangkap telinga Sinta, Ron, dan I wayan Sumaningrat yang sudah melompat mundur untuk menjauh dari mereka berdua.
Saat kepulan asap dan debu itu mereda, terlihat wajah Zeda sangat kecewa, karena senjata tombaknya hancur berkeping-keping, dan zirah yang dipakai oleh Alvaro masih utuh sedia kala.
“Hahahaha …. Senjatamu tuan Zeda seperti kaca, masa menyentuh zirahku ini sudah hancur berkeping-keping?” ejek Alvaro sambil tertawa sinis.
Awalnya Zeda merendahkan zirah yang dibuat Alvaro. Kini dia malu setelah tombaknya hancur berkeping-keping, akibat terlalu sombong.
“A-aku meluluskan zirah yang akan dijual oleh Guild Noir,” kata Zeda dengan wajah tertunduk lesu.
Merasa Zeda kalah, Sinta mengeluarkan kedua belatinya dan melesat ke arah Alvaro. Lesatannya secepat peluru, tapi tetap saja masih bisa diprediksi oleh Alvaro yang sama-sama mengeluarkan kedua belati yang dibuatnya sendiri menggunakan kristal tipe B.
Suara dentingan bilah belati terdengar keras disertai percikan api. Gerakan Alvaro dan Sinta sangat cepat, dan terbukti tubuh mereka berdua berpindah-pindah dengan cepat tanpa bisa ditangkap oleh mata Zeda, Ron, dan I Wayan Sumaningrat.
“Dalam hal adu ketahanan zirah dan potion, kamu memang menang. Tai jika beradu kekuatan senjata, aku pastikan senjatamu itu hanyalah senjata sampah.” Sinta melompat tinggi dengan tersenyum sinis ke arah Alvaro. Lalu menempel di langit-langit ruangan dalam keadaan tubuh terbalik. “Razor Claw!”
Tubuhnya tiba-tiba berkedip dan hilang dari pandangan Alvaro. Tiba-tiba Sinta sudah berada di samping kiri Alvaro dan melayangkan tebasan beruntun.
Keduanya saling menyerang dengan tebasan secara acak, dan juga tusukan. Suara benturan keempat bilah belati tersebut sangat keras dan menciptakan api di sekitar mereka berdua.
Bahkan hasil dari benturan tersebut meninggalkan banyak goresan di dinding ruangan uji kelayakan produk.
Hanya dalam 10 menit keduanya melayangkan puluhan ribu gerakan jurus, tetapi belum ada satupun ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan siapa yang menang.
Alvaro hanya tersenyum melihat kedua bilah belati yang dipegang oleh Sinta yang sudah mulai retak, “Aku harap Nona tidak menyesal ya. Kalau aku melakukan ini.”
Dia langsung memutar tubuhnya untuk menghantamkan kedua belatinya ke arah belati yang dipegang oleh tangan kanan Sinta.
Belati yang dipegang oleh tangan kanan Sinta tersebut hancur berkeping-keping disertai suara seperti suara pecahan kaca yang jatuh ke permukaan lantai.
__ADS_1
“Apa?!” Sinta melebarkan mata melihat salah satu belatinya hancur berkeping-keping sampai gagangnya juga.
Gelombang kejut hantaman tersebut juga ternyata mengenai belati yang dipegang di tangan kiri Sinta dan membuatnya bernasib sama seperti belati yang dipegang oleh tangan kanan Sinta. “Ti-tidak mungkin?!”
Keempat mata penguji kelayakan produk matanya membelalak. Mereka syok karena kedua belati milik Sinta merupakan senjata yang dibuat dengan bahan kristal tipe S.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alvaro dengan menyunggingkan senyum. Lalu menyimpan zirah dan kedua yang dipakainya ke dalam jam tangan ruang. "Tenang saja aku bisa memperbaiki senjata kalian. Aku ini seorang blacksmith, hehehe …."
"Uji kelayakan produk senjata yang dijual guild Noir lulus," kata Sinta dengan wajah tertunduk lesu.
Kini giliran I wayan Sumaningrat yang menguji pasokan bahan makanan yang dikemas oleh Guild Noir.
Alvaro mendekati I Wayan Sumaningrat yang sudah duduk kembali di kursinya dan mengeluarkan sebuah kotak kaleng berisikan daging Venom Fang mentah yang sudah diberi bumbu.
“Ini adalah produk unggulan kami di Guild Noir. Bahan bakunya Daging monster dan kami menjualnya per kilogram sangat murah hanya Rp,20.000,” jelas Alvaro sambil meletakan kotak kaleng tersebut di meja I Wayan Sumaningrat.
“Omong kosong!” I Wayan Sumaningrat menggebrak meja. “Kamu ini tolo apa bodoh? Apa kau mau membunuh para Non-Arkham, Arkham dan para hunter hah?”
Tanpa basa-basi Alvaro membuka penutup kotak kaleng tersebut, dan mengambil sedikit daging yang sudah dilumuri bumbu racikan Aruna tersebut.
Aruna membuat bumbu tersebut dari beberapa tanaman yang mudah ditemukan di dalam portal dungeon monster. Karena kalau di Bumi, sudah tidak ada lagi bumbu rempah-rempah yang masih tersisa akibat bencana radiasi Arkha.
"Lihatlah! Aku akan memakannya dan ini aman.” Alvaro mengambil sedikit daging mentah tersebut dan dimasukkannya ke mulut. “Hmmm lazis, seperti rasa Sashimi.”
Bau bumbu yang diracik oleh Aruna itu sangat kuat dan wangi, membuat cacing pita di dalam perut Ron, I Wayan Sumaningrat, Sinta, dan Zeda berdemo keras.
Saking enaknya, Alvaro hanya menyisakan beberapa potong daging saja untuk mereka cicipi.
"Hmmm …. Tuh, aku tidak apa-apa. Malah vitalitasku bertambah." Alvaro berpose ala binaragawan dengan mengangkat kedua tanganya dan menunjukan otot-otot lengan atasnya yang kekar. "Aman bukan?"
__ADS_1
I Wayan Sumaningrat sebagai penguji pun dibuat penasaran oleh daging hasil racikan Guild Noir, dan mencoba mencicipinya.
“Mantap, daging ini begitu enak walau masih mentah. Begitu lembut dan kenyal secara bersamaan dan bumbunya sangat pas,” puji I Wayan Sumaningrat sambil mengunyah daging di dalam mulutnya yang serasa meledak-ledak bumbunya.