RAGE OF DESTRUCTION

RAGE OF DESTRUCTION
Chapter 39


__ADS_3

Alvaro keluar dari dalam portal emas dan targetnya untuk mendirikan guild selesai, yakni menyelesaikan tiga portal emas yang berada di wilayah barat Bali. Zean, Aruna, dan Yuna pun sudah menyelesaikan tugas mereka masing-masing, yaitu untuk menyelesaikan 15 portal putih, 10 portal jingga dan 5 portal perak.


Alvaro segera mengirim pesan kepada mereka untuk berkumpul di gedung asosiasi hunter. Kemudian dia mengeluarkan pedang Abyssal Strom, dan menggunakan skill Magnum Step untuk berlari di udara dengan cepat, walaupun tanpa pijakan menuju Asosiasi hunter cabang Bali.


Setelah berlari selama 30 menit tanpa henti, Alvaro akhirnya sampai di depan gedung asosiasi hunter cabang Bali dengan membusungkan dada.


“Bali akan aku kuasai, selanjutnya provinsi Jawa Timur,” ucapnya dengan penuh kesombongan.


Karena sudah memetakan semua rencana dalam pikirannya, demi meraup keuntungan yang sangat banyak dari seluruh warga non Arkham, Arkham maupun para hunter.


Lima menit kemudian Zean, Yuna, dan Aruna juga tiba dengan tersenyum sumringah. Mereka masuk ke dalam gedung asosiasi hunter cabang Bali dengan langkah yang tegas. Apalagi mereka yakin jika Satrio pasti akan kalah taruhan dan tidak bisa mengelak lagi.


“Ketua Satrio! Kami pulang!” teriak Alvaro sekencang-kencangnya.


Ninki tidak terkejut sama sekali, karena radar portal di seluruh wilayah Bali sudah menunjukan adanya penutupan portal oleh Yuna, Alvaro, Aruna dan Zean dalam skala besar.


Satrio keluar dari dalam ruangannya dengan tubuh gemetar. Raut wajahnya seputih kertas, dan mulutnya menganga seperti zombie yang kelaparan.


“I-iya, a-aku datang,” sahutnya dengan nada lirih.


Semua hunter pun terheran-heran dengan Yuna, Alvaro, Zean, dan Aruna yang telah kembali. Padahal mereka telah memprediksi ke-empat anggota Guild Noir tersebut akan gagal dan tidak mungkin akan kembali dalam waktu 7 hari.


Alvaro yang kesal langsung memukul perut Satrio. Hingga ia tertelungkup ke permukaan lantai lobby asosiasi hunter cabang Bali.


“Cepat berikan surat kontraknya! Bahwa senjata, potion, dan makanan harus disuplai oleh Guild Noir!” tegas Alvaro sambil menginjak kepala Satrio.


Aruna merasakan hal yang aneh dengan Alvaro yang lembut dan penyayang. Kini berubah menjadi lebih otoriter dan kejam. Namun, Aruna tidak memperdulikannya. Apalagi apa yang Alvaro perbuat demi kehormatan Guild Noir, dan mereka berempat yang selalu ditindas.


“Nin-ninki!” panggil Satrio dengan raut muka putih kertas.

__ADS_1


Ninki pun mendekat sambil membawa map berisikan surat-surat perjanjian kontrak yang mengesahkan guild Noir sebagai penyuplai utama asosiasi hunter cabang Bali. Gadis berambut hijau pendek tersebut juga membawa surat keputusan yang mengesahkan Guild Noir sebagai salah satu guild yang berada di dalam naungan asosiasi hunter cabang Bali.


Alvaro segera menandatangani kedua surat tersebut dan langsung mengumumkan, “Kami Guild Noir sebagai penyuplai utama senjata, potion dan juga makanan bagi para hunter di wilayah Bali mengambil tindakan untuk memutuskan kontrak suplai apapun ke asosiasi hunter cabang Bali.”


Pengumuman Alvaro membuat anggota guild yang lain langsung riuh dan mengecam keputusannya.


“Sampah, memangnya guild kalian bisa apa? Suplai apa yang bisa kalian berikan pada semua hunter di Bali, sedangkan kami bisa menyuplai makanan untuk mereka,” sergah Guild Leader Forgiven bernama Anthony.


“Tapi harganya mahal bukan?” Alvaro tersenyum sinis sambil mengeluarkan bongkahan mayat Venom Fang seberat 20 kg.


“Guild Noir bisa menyuplai makanan seenak yang kalian inginkan dengan harga murah. Twin gear: Highlander Assault! Slice Of Dice!”


Alvaro mengayunkan kedua pedang berbeda jenis berbilah hijau tersebut ke bongkahan daging seberat dua puluh kg yang belum dikuliti.


Semua pasang mata dibuat takjub oleh permainan pedang Alvaro dalam memotong-motong daging menjadi ukuran-ukuran dadu dan melayang di udara.


“Firestorm!”


“Body Needle!”


Zean pun ikut unjuk gigi dan menyelimuti kulitnya dengan lapisan baja. Kemudian menembakan jarum-jarum seukuran tusuk sate untuk menusuk daging-daging berukuran dadu yang masih melayang, hingga menjadikannya sate tusuk daging Venom Fang.


Air liur di sudut bibir para hunter langsung menetes deras melihat tumpukan sate daging venom Fang di hadapan mereka yang berbau sangat wangi. Mereka semua berebut untuk mencicipi sate daging Venom Fang yang dibuat oleh kombinasi Alvaro, Aruna dan Zean.


Satrio yang masih diinjak kepalanya oleh Alvaro pun ikut merangkak ke arah kerumunan para hunter yang sedang berebut makanan.


“Kita pasti meraup uang banyak di Bali, potion, senjata, pasokan makanan kita akan menjadi Taipan di Bali,” lirih Alvaro kepada Aruna, Zean, dan Yuna.


Setelah mendapatkan pengakuan dan kontrak kerja dengan asosiasi hunter cabang Bali sebagai penyuplai utama potion, senjata, serta pasokan makanan. Mereka berempat mencari apartemen untuk mereka tinggal sambil membuat potion, senjata dan juga bahan makanan.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Alvaro, tubuhnya terus menyerap radiasi energi Arkha dan membuat ingatan masa lalunya semakin hilang. Akan tetapi akibat tubuh Alvaro terus menyerap radiasi energi negatif Arkha, polusi udara di Bali semakin bersih.


Bahkan wilayah langit di Bali mulai cerah. Tidak tertutup lagi awan hitam tebal yang cukup beracun bagi manusia biasa.


Alvaro memilih salah satu apartemen di pusat kota Kuta sebagai markas utama mereka. Ia berencana untuk membeli gedung apartemen tersebut untuk dijadikan tempat tinggal bagi anggota Guild Noir.


Dengan uang yang langsung digelontorkan Alvaro sebesar 2 milyar ke salah satu tenaga pemasaran Apartemen Kuta Residence tersebut. Dia berhasil membeli satu lantai apartemen di lantai 20.


“Pilihlah sesuka hati kalian!” seru Alvaro pada Aruna, Yuna, dan Zean.


Aruna yang terbiasa tinggal satu atap dengan Alvaro tidak memilih salah satu unit, “Aku ikut denganmu saja,” ucapnya.


Alvaro pun memilih salah satu unit presidential untuk mereka berdua tinggal. Sesampainya di dalam unit tersebut. Kepala Alvaro tiba-tiba sangat sakit selama 3 detik, sampai-sampai dia terjatuh ke permukaan lantai.


Aruna yang akan beranjak membersihkan diri ke kamar mandi dan hanya memakai handuk langsung keluar dari kamar mandi setelah mendengar suara terjatuh yang cukup kencang.


“Alvaro!” teriaknya kencang sambil berlari cepat ke arah Alvaro yang sudah bangun dengan keadaan linglung.


Aruna langsung memeluknya dengan menangis sesenggukan melihat Alvaro wajahnya sangat pucat dengan tatapan mata yang kosong.


“Si-siapa aku? Aaaaakh!”


Kepala Alvaro kembali sakit setelah mendengar suara berdengung di dalam otaknya. Setelah lima detik, ingatannya kembali pulih, tetapi dia telah kehilangan ingatannya di umur 7 tahun, 8 tahun, dan 9 tahun.


“Apa yang terjadi denganku?” tanya alvaro bingung.


“Ka-kamu terjatuh ....” jawab Aruna sambil menangis sesegukan.


Ia sangat takut jika sampai terjadi sesuatu pada Alvaro.

__ADS_1


“Kenapa kamu memelukku dalam keadaan seperti ini? Apakah aku kamu ajak untuk bercocok tanam, hehehe …..”


Alvaro terkekeh sambil menaik-turunkan alisnya berkali-kali. Sontak Aruna memukulnya, "Dasar mesum!"


__ADS_2