
"Gimana, enak?" tanya Alvaro pada Aruna.
"Enak banget," ucapnya dengan mulut penuh makanan.
"Makannya nggak usah buru-buru biar nggak belepotan!"
Tangan Alvaro terulur untuk mengusap bibir Aruna yang terdapat sisa makanan. Hal kecil itu rupanya justru menambah detak jantung Aruna memompa dengan sangat cepat. Jika saja Alvaro bisa mendengarnya, sudah pasti Aruna akan bertambah malu.
"Nah, sudah bersih. Kuy, lanjut makan!"
Suasana makan yang harusnya nyaman justru berubah tegang akibat halusinasi yang beterbangan di dalam otak Aruna. Sampai-sampai, ucapan Alvaro sama sekali tidak ia dengarkan.
“Aku ada ide sih, Run. Kita buat restoran saja dari daging monster dan hal lainnya dari monster-monster yang sudah kita taklukkan, gimana menurut kamu?"
Aruna masih menatap Alvaro tanpa berkedip, tetapi telinganya tidak bisa menangkap apa yang diucapkan oleh Alvaro. Menyadari jika Aruna melamun, maka Alvaro mengibaskan tangannya ke depan secara berulang.
__ADS_1
"Run, Aruna ... kamu melamun, ya?"
"Eh, kata siapa aku melamun?" ucapnya sambil salah tingkah.
Tidak bisa dipungkiri jika semakin lama berdekatan dengan Alvaro membuat hati dan jantungnya tidak sehat. Sayang, di dalam asosiasi hunter tidak boleh ada perasaan cinta di antara sesama hunter. Apa boleh buat, Aruna hanya bisa memendam rasa cinta yang terlanjur tumbuh itu.
"Oh, ya tadi kamu bilang apa?"
Alvaro tersenyum, ia sadar dengan apa yang sedang dirasakan oleh Aruna, tetapi rasa cinta di hati Alvaro sudah terkikis sejak lama. Kini baginya misi menyelamatkan bumi jauh lebih penting.
Aruna mengangguk setuju, "Usul yang bagus. Boleh dipertimbangkan."
"Trus, kalau daging dibuat masakan, sisanya buat apa?" tanya Aruna memperjelas apa yang akan dilakukan oleh Alvaro.
Dengan sigap Alvaro menjelaskan satu persatu rinciannya.
__ADS_1
"Jadi begini, jika daging kita masak, maka sisanya kita buat senjata. Yaitu seperti tulang, cakar, inti kristal dan gigi, kita buat senjata saja."
"Lagi pula nggak ada salahnya menumpuk kekayaan dari penderitaan para monster-monster itu,” usul Alvaro.
Aruna tersenyum pada semua usulan Alvaro yang semakin brilian.
“Itu ide yang sangat bagus. Akan tetapi untuk memproses semua daging monster itu perlu keahlian khusus, dan hanya para staff asosiasi hunter yang bisa melakukannya,” balas Aruna pesimis.
Proses pemisahan tulang, daging, inti kristal, cakar dan gigi monster biasanya dilakukan oleh para staff khusus yang memiliki skill filleting dan skinning cybord. Hal itu seringkali dipakai oleh para cheff di dalam asosiasi hunter agar mempercepat pemrosesan tulang, cakar dan yang lainnya agar lebih cepat membuat senjata dan juga makanan untuk para hunter.
Tangan Alvaro memegang tangan Aruna, "Jangan khawatir pada hal-hal yang belum terjadi. Akan tetapi yakinlah jika usulku pasti diterima oleh teman-teman yang lainnya."
"Iya, aku mengerti. Lagi pula hal ini untuk kita semua. Selain mendapatkan uang, ruang penyimpanan di dalam cincin penyimpanan kamu juga akan lebih longgar bukan?"
"Ha ha ha, tentu saja. Apalagi jika mereka bisa bekerja lebih cepat. Maka dengan cepat pula aku bisa meningkatkan skill yang aku miliki."
__ADS_1
Alvaro menatap hamparan langit di hadapannya. "Aku merindukan bumi yang aman dan damai seperti dulu. Maka dari itu marilah kita semakin banyak berlatih agar ketika mereka muncul stamina kita tetap terjaga."