
Keesokan paginya, Unit Apartemen Aruna.
Alvaro mendapatkan kristal Arkha tipe B dari ledakan monster Breakout Dash, dan juga mendapatkan Dash Core. Dia juga berencana untuk menjual semuanya demi menutupi modal untuk membuat restoran daging monster.
Alvaro mengeluarkan Dash Core dan bersiap menyatukannya dengan pedang Ringu, “Arc Of Weapon: Enchanting!” serunya.
Bola kristal berwarna hijau tersebut dilebur ke dalam lingkaran sihir merah dan disatukan ke dalam pedang berbilah hitam.
Alvaro membayangkan kedua pedang yang berbeda bentuk dan mempunyai panjang hanya satu meter. Yang satu pedang ninjato dan yang satunya lagi pedang berbilah ganda. Untuk warnanya sendiri menyesuaikan dengan warna Dash Core yang berwarna hijau.
[Tetew-tetew! Selamat, Tuan berhasil mengevolusikan pedang Ringu menjadi pedang Highlander Assault]
Aruna tidak ada di apartemennya. Pagi-pagi buta dia sudah pergi ke asosiasi hunter untuk menerima misi khusus dari Vargas, yakni penggerebekan di portal jingga.
Setelah selesai mengotak-atik pedang Ringu, Alvaro pun keluar dari dalam apartemen Aruna dan mengunci pintunya.
Pria berambut hitam tersebut ingin menjual semua kristal Arkha tipe B yang berjumlah 50 ton ke balai pustaka senjata.
“Setelah ini aku harus mencari tempat yang strategis untuk membuka restoran daging monster. Tapi dimana? Apakah aku perlu membeli mobil atau motor untuk bisa berkeliling mencari tempat yang strategi?” gumam Alvaro sambil mengelus dagunya.
Alvaro berlari cepat ke balai pustaka senjata sekalian latihan fisik di pagi hari. Sudah lama dia tidak latihan fisik dan itu membuat ketahanan tubuhnya agak berkurang. Buktinya saja baru lari sprint selama 15 menit, dadanya sudah kembang-kempis tidak karuan.
Banyak para warga yang lalu lalang menatap jijik Alvaro yang memiliki tangan cyborg. Mereka merasa Alvaro lebih mirip manusia setengah monster, tapi dia tetap tidak memperdulikan pandangan buruk yang mengarah kepadanya.
Alvaro akhirnya tiba di depan balai pustaka senjata dan langsung masuk. Kebetulan pagi hari ini sangat sepi di balai pustaka dan itu membuat Alvaro sangat senang, sebab tidak perlu lagi mengantri untuk bertransaksi.
“Tuan Darda. Lama tak jumpa!” sapa Alvaro sok kenal dan sok dekat pada Darda.
Darda memicingkan mata mengingat siapa pria berambut hitam di depannya ini. “Maaf, Tuan siapa ya? Maklum sudah kepala lima, hehehe ….”
__ADS_1
“Itu loh yang waktu itu menjual kristal Arkha tipe S,” bisik Alvaro daan tatapan mata melirik ke kanan dan ke kiri. Takut ada pelanggan yang baru masuk dan mendengar apa yang dikatakan oleh Alvaro.
“Oh, ya!” teriak Darda mengejutkan Alvaro setengah mati karena suara teriakannya sangat keras. “Ada yang bisa dibanting Tuan?”
“Kampret, kalau seperti ini urat jantungku yang bisa copot!“ batin Alvaro kesal dan mengelus dada kiri. Kemudian melanjutkan dengan menjawab pertanyaan Darda, “Aku mau menjual 50 ton kristal Arkha tipe B. Bisa?”
“Sangat bisa. Ayo kita berbicara di dalam!” ajak Darda sambil melambaikan tangan dan Alvaro mengekor di belakang menuju ruangan kantor Darda.
Tanpa basa-basi Alvaro pun langsung mentransfer semua kristal Arkha tipe B ke akun jam tangan milik Darda. Hal itu lebih cepat terjadi karena Alvaro dan Darda sudah terkoneksi sebelumnya.
“Oke, satu kilogram kristal tipe B dihargai 100.000/kg. Maka total semuanya 5 miliar,” kata Darda dan langsilung mentransfer uang 5 miliar ke akun jam tangan milik Alvaro.
Pria berambut hitam tersebut tersenyum sumringah, ”Terima kasih Tuan Darda, senang berbisnis dengan Anda.”
Mereka berdua pun sama-sama tersenyum sumringah sambil berjabat tangan. Apalagi mereka masing-masing telah mendapatkan sesuatu yang sangat mereka inginkan.
Alvaro pun pergi melanjutkan perjalanannya menuju dealer motor. Tentu saja untuk membeli motor trail agar mudah bermanuver jika ada monster yang muncul di luar portal. Dengan cepat transaksi terjadi. Setelah selesai Alvaro tersenyum puas.
Alvaro mendapat insting jika daerah tersebut ada sebuah ruko atau suatu bangunan yang cocok untuk tempatnya berbisnis. Ternyata benar, di sana tempat tersebut sedang dipromosikan untuk disewa atau dijual.
Akan tetapi, saat masuk ke perbatasan Kedung Bule dengan Sapuangin, Alvaro diikuti oleh beberapa preman yang memang tidak suka wilayahnya dimasuki oleh para hunter. Mereka menganggap para hunter itu pembunuh berdarah dingin. Padahal mereka juga seorang Arkha yang memiliki genome DNA super seperti para hunter.
“Woy, berhenti!” teriak salah satu preman yang dibonceng motor RX King sambil mengacungkan celurit ke arahnya.
Alvaro pun menghentikan motornya dan langsung tersenyum tipis pada mereka, “Ada apa ini abang-abang tamvan?”
“Siapa yang menyuruhmu untuk memasuki wilayah kami, hah?” Preman yang lain langsung mencengkeram kerah jaket hitam yang dipakai oleh Alvaro.
“Tidak ada. Aku hanya sedang mencari sebuah tempat untuk membuka restoran daging monster di sekitar sini. Apakah ada yang salah?” Alvaro menjawabnya dengan santai sambil menaikan kedua pundaknya secara bersamaan.
__ADS_1
“Tentu saja karena kau seorang hunter, tolol!” Preman yang lain mau mendorong kepala Alvaro, tetapi ditepisnya dengan tangan kiri cyborg miliknya.
“Hahaha … dasar manusia tidak punya tangan! Cecunguk sepertimu berani mau membuka restoran disini, mimpi!”
Preman yang memiliki codet melayangkan pukulan yang keras ke arah wajah Alvaro. Akan tetapi, Alvaro menangkapnya dengan sangat mudah menggunakan tangan kanannya.
Marah, tentu saja. Kesembilan preman yang lain turun dari motor masing-masing dan mengepung Alvaro. Totalnya ada lima belas preman yang mengepungnya.
“Aku sangat senang jika ada lebih banyak lagi premana berkumpul. Aku ingin menjajal pedang baruku yang baru saja aku ciptakan.” Alvaro segera mengeluarkan pedang ringu dan membentuknya menjadi dua pedang berbeda jenis berbilah hijau, ”Arc Of Weapon: Highlander Assault!”
Sepuluh preman menarik celurit dari pinggang belakangnya merasa tertantang. Apalagi setelah Alvaro mengeluarkan dua pedang secara bersamaan. Mereka semua ingin menjajal kehebatan Alvaro dalam memainkan pedang.
Semua preman menyeringai, sambil menjilat bilah celurit seperti menjilat es krim. Menjijikan tetapi itulah yang terjadi.
"Serang!" teriak kepala preman Kedung Bule.
Kesepuluh preman menyerang serentak sambil menyabetkan celurit ke arah Alvaro. Cukup dengan Infinity Gear miliknya, setiap celurit itu dapat ditangkis dengan mudah.
TRANG! TRANG!
Percikan api keluar setiap kali bilah celurit saat bersentuhan dengan tangan kiri Alvaro. Bahkan enam dari sepuluh bilah celurit patah, saat menghantam punggung tangan Alvaro.
"Slice O Dice!" seru Alvaro.
Tubuhnya berkedip dan menebas secepat kilat hanya menyisakan siluet garis-garis di sekujur lima belas preman.
SLASH! SLASH!
Alvaro hanya memberi pelajaran mereka dengan membuat baju yang mereka pakai terpotong kecil-kecil. Sehingga tubuh mereka tidak memakai sehelai benang pun. Seketika kelima belas preman langsung malu bukan kepalang dan menutupi bagian vitalnya masing-masing.
__ADS_1
“Tolong! Aku mau diperkosa oleh para Gorila yang telah berevolusi menurut Charles Darwin! Tolong!” teriak Alvaro meminta tolong pada para warga yang sedang lalu lalang di jalan.
Kelima belas preman itu lari tunggang langgang mengendarai motor masing-masing dalam keadaan tidak memakai sehelai benang. Sementara itu Alvaro tertawa terpingkal-pingkal saat itu juga.