Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#10 : Dari Berlin


__ADS_3

Kenzia membaca pesan itu, dia berdiri. Menggigit bibir bawahnya seraya mempertimbangkan pesan itu. Apa ia akan menemuinya atau tidak.


"Aku tidak mungkin menemuinya, tapi kalau...."


Pada akhirnya dia memilih untuk bertemu dengan sang Daddy.


Jack tersenyum, dia membuka pintu itu dan terlihat seorang wanita. "Masuk Nona," ucap Jack.


"Apa Daddy sudah sarapan?" Tanya Kenzia.


"Belum Nona, tuan tidak mau saya membuatkan bubur. Saya juga sudah menawarkan untuk membeli di luar."


Kenzia mengangguk. "Aku akan membuatkan bubur untuknya. Jangan katakan pada Daddy," ujar Kenzia.


"Baik Nona." Jack menurut. Dia kini bisa bernafas lega. Jadi dia tak perlu khawatir dengan keangkuhan sang majikan.


###


"Dia tidak membalas pesan ku," Ardhan tampak uring-uringan. Kadang dia memeluk bantal guling seraya melirik ke arah Handphonenya. "Apa dia benar-benar tidak peduli pada ku ya?"


Ardhan beranjak duduk dengan lesu. Dia turun dari ranjangnya, lalu beralih duduk di kursi hitam itu.


"Zia..."


Drt


Ardhan tersenyum, secepat kilat dia mengambil benda pipih itu dan wajahnya langsung berubah masam.


"Bagaimana?" Tanya seseorang di sebrang sana.


"Apanya yang bagaimana?" Tanya Ardhan dengan gamblang. Jika di tanya dengan Kenzia. Dia bingung harus menjawab apa?


"Apa sudah bertemu dengan Kenzia?"


"Iya."


"Dia senang?" Tanya papa Arga. Dia ingin memastikan sahabatnya sudah bertemu dengan putrinya.


"Hem....."

__ADS_1


Ardhan hanya berderhem, kalau ia mengatakan sejujurnya, yang akan di tanya, alasannya.


"Pasti kau terkejut melihat putri ku. Dia cantik kan?" Terdengar gelak tawa.


"Iya benar, dia cantik." Jawab Ardhan. Dia membayangkan pertemuan pertamanya dengan Kenzia. Wanita itu tumbuh sangat cantik. Kulitnya putih bersinar, kedua netranya memancarkan cahaya.


"Jangan sampai kau jatuh cinta lada putri ku, huh!" Angkuh papa Arga.


Ardhan terdiam, kenyataannya memang dia sudah jatuh cinta.


"Bagaimana kalau aku menyukai putri mu?"


"Hey, Ardhan. Sadarlah dengan umur mu? Mana pantas kau bersanding dengan putri ku." Ejek papa Arga.


Jleb


Seperti di tusuk pisau, hatinya meringis mendengarkan jawaban sahabatnya. Lantas ia mematikan dengan kesal dan melemparkan benda pipih itu ke atas kasur.


Ardhan kembali memijat pelipisnya. Dia pusing sekali, ruangan itu seperti berputar-putar di kepalanya.


Dia menyandarkan lehernya ke kepala kursi hitam itu. Kemudian memejamkan matanya, berharap setelah membuka matanya. Kenzia sudah ada di hadapannya.


###


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki itu perlahan mendekat ke arah Ardhan. Di pandangi wajah laki-laki yang memenuhi ruangan hatinya.


Ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa menawan, hidung mancung, alis tebal dan bulu mata yang lentiknya.


Kenzia mengelus dagu pria itu, kasar, dagunya telah di tumbuhi rambut-rambut halus. Baru sekarang dia menyadari, tubuhnya Daddy lebih kurus dari sebelumnya.


"Zi.."


"Daddy."

__ADS_1


Suara lembut dan bergetar itu membuat Ardhan membuka matanya perlahan. Sebelumnya dia menghirup aroma wangi Kenzia, jadi dia begitu enggan untuk membuka matanya. Dia takut, aroma manis itu akan hilang seketika.


"Zia.."


"Zia, sudah membuatkan bubur untuk Daddy. Sekarang Daddy makan setelah ini minum obat."


Ardhan memeluk Kenzia, dia mengirup dalam aroma tubuh putri angkatnya. Mengecup lehernya dan mengelus punggung Kenzia. Dia menikmati pelukan hangat itu.


"Daddy," Kenzia berusaha melepaskan pelukan Ardhan. Namun usaha mustahil.


"Daddy lepaskan! Zia gak bisa bernafas."


Ardhan melepaskan pelukannya. Dia mengelus pipi Kenzia. "Daddy kangen kamu, Zi. Maafkan Daddy yang tidak mengerti perasaan mu."


Kedua mata Ardhan berkaca-kaca, dan Kenzia tersenyum.


"Sudah! Sekarang fokus dengan kesembuhan Daddy." Kenzia memegang dahi Ardhan dan masih panas.


"Demam Daddy belum turun, tapi Daddy sudah turun dari ranjang. Bagaiman kalau pusing?"


Ardhan tersenyum, inilah yang ia rindukan. Celoteh kecil putrinya.


"Aaa,"


Kenzia menyodorkan bubur itu ke mulut Ardhan. Dia mengaduk kembali, lalu meniupnya dan kembali memasukkan sesendok bubur itu ke mulut Ardhan.


"Jangan pernah meninggalkan Daddy lagi, Zi.."


"Memangnya Zia mau kemana? Daddy akan selalu menemukan zia."


Ardhan menunduk, lalu kembali menatap kedua manik itu. "Maafkan Daddy."


Kenzia tersenyum simpul.


Drt


Kembali benda pipih itu berbunyi, dan Kenzia melihat keraguan di mata Ardhan untuk mengangkatnya.


"Angkatlah, itu pasti tante Berlin kan," ucap Kenzia tersenyum nanar.

__ADS_1


Ardhan mengangkat benda pipih itu. "Iya.."


__ADS_2