Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#29 : Istri Kedua Ku


__ADS_3

"Berlin, hentikan!"


"Aku ingin berbicara dengan Kenzia, berdua saja," ucap Berlin mengabaikan tatapan Ardhan.


"Kenzia ayo pulang, aku tidak ingin Berlin melukai mu."


"Dad, biarkan kita bicara berdua, setelah itu aku akan mencari Daddy, aku mohon."


Ardhan menoleh, menatap Berlin di lihat wajah dan tenaganya, Berlin belum sepenuhnya kuat, kemudian kembali menatap Kenzia. "Baiklah, kalau ada apa-apa, teriaklah, Daddy ada di luar."


Kenzia mengangguk dan Ardhan keluar dari ruangan itu, bersandar di depan pintu sambil bersendekap.


***


"Tidak perlu basa-basi, aku ingin kau meninggalkan Ardhan," ucap Berlin dengan nada tajam. Kedua matanya seakan ingin mencabut nyawa Kenzia. "Jangan jadi wanita murahan merebut suami orang,"


"Apa maksud mu? siapa yang merebut Ardhan, Daddy ku? aku tumbuh dengannya semenjak kecil dan kau hanya datang pada saat menikah."


"Tapi kau jelas tau, Ardhan sudah menikah dan sebagai seorang istri, aku tidak mengijinkan Ardhan dekat dengan siapa pun termasuk, anda Kenzia. Oh, aku tau, kau bermaksud ingin menjadi istri kedua Ardhan, aku tidak mengijinkannya."


Kenzia mengepalkan tangannya, hingga urat tangannya terlihat. Sedikit pun ia tidak berniat atau merencanakan akan menjadi istri kedua dari sang Daddy. "Aku tidak akan merebut apa yang tidak menjadi hak ku, baik, seperti keinginan Tante. Aku akan menjauhi Daddy, tapi setelah ini, kalau pun Daddy belum mencintai Tante dan tidak berubah, jangan salahkan Kenzia."

__ADS_1


Kenzia memutar tubuhnya, tepat lima langkah dia menoleh. "Aku harap dengan kepergian ku, Tante dan Daddy bahagia, tapi untuk esok, aku ingin di temani Daddy, jadi Tante jangan mengganggu kalau aku ingin menepati janji ini."


Kedua mata Berlin seakan ingin keluar, ubun-ubunnya terasa panas, ia sangat membenci kehadiran Kenzia, ingin sekali ia melenyapkannya dan membuatnya masuk neraka. "Kalau kau sampai terlihat lagi di depan ku, aku tidak akan pernah melepaskan mu."


krek


Ardhan menghampiri Kenzia yang masih memegang handle pintu itu, dia mengintip di jendela kaca kecil dan melihat Berlin tersenyum ke arahnya.


"Dia tidak melakukan apa pun pada mu kan?" tanya Ardhan. Dia merangkup kedua pipi Kenzia.


Dan tidak luput dari penglihatan Berlin, sesak dan nyeri, ia tidak kuat melihat kemesraan keduanya. Ia bersumpah, akan selalu membenci Kenzia.


"Aku tidak apa-apa Dad, jangan seperti ini."


Ardhan menarik tangan Kenzia duduk di kursi depan pintu ruangan Berlin. "Katakan, apa yang di ucapkan Berlin?"


"Tidak," Kenzia tersenyum, ia mengelus pipi Ardhan. "Dia hanya mengatakan untuk menjaga Daddy kalau misalkan dia menghilang."


Ardhan menaikan sebelah alis tebalnya. Ia tidak percaya apa yang Berlin katakan, ia kenal sifatnya Berlin, wanita itu tidak akan pernah berhenti dengan apa yang ia inginkan.


"Berlin sudah mengetahui hubungan kita."

__ADS_1


Tangan Kenzia yang mengelus pipi Ardhan langsung berhenti. Ia sudah mengetahuinya, pantas Berlin membencinya.


"Aku bermaksud menceraikan Berlin, tapi melihat keadaan Berlin .... "


Ardhan tidak meneruskan perkataannya, ia pun bingung apa yang ia akan lakukan selanjutnya. Berlin tidak mau lepas darinya dan selalu mengancamnya dengan nyawanya.


Terselip rasa kecewa di hati Kenzia, ia memaksakan bibirnya mencetak sebuah senyuman. "Aku tahu,"


"Aku ingin kamu menjadi istri kedua ku, Zi. Aku tidak bisa meninggalkan mu, Zi."


Pahit, sakit, sesak, nyeri, panas, semuanya di olah menjadi satu. Perkataan Ardhan membuatnya jatuh, hingga seakan tak bisa bangkit.


"Aku tidak bisa Daddy,"


"Aku mohon,"


Ardhan menggenggam tangan Kenzia, tatapannya sakit dan kecewa. "Aku mohon, aku tidak bisa tanpa mu Zi."


"Aku akan memikirkannya, o iya, beberapa hari lagi aku bermaksud pulang ke Jakarta, aku kangen Mommy dan Daddy,"


"Aku akan menemani mu, sekalian membicarakan ini."

__ADS_1


Kenzia menggeleng lemah, "Jangan," cegahnya. "Biar Zia yang mengatakannya," elaknya.


Maafkan aku Dad, aku tidak bermaksud menyakiti mu, tapi ini yang terbaik untuk semuanya.


__ADS_2