
"Hentikan! semua ini salah,"
Kenzia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia benar-benar merasa bersalah pada Berlin. Kenzia seorang wanita. Jadi ia tahu, sakitnya seorang wanita yang di khianati.
Ardhan menggenggam kedua lengan Kenzia, dia menatap tajam kedua manik Kenzia. Hatinya, Kenzia ingin memutuskan hubungan dengannya. Ia tidak setuju, karena baginya Kenzia adalah segalanya, miliknya, jiwanya, siapa pun itu, ia tidak akan pernah membiarkan termasuk Kenzia.
"Kau ingin berpisah."
Kenzia terkejut, aura di pancarkan dari wajah Ardhan begitu tajam. Seakan ingin mengulitinya. "Berpisah?!" Ardhan tersenyum miring.
Ia menarik dagu Kenzia, tatapannya semakin nyalang. "Sekalipun kau ingin berpisah, aku tidak akan pernah membiarkannya. Kau ingin aku mengatakannya pada orang tua mu?"
Kenzia menggeleng lemah, ia tidak yakin kalau seandainya kedua orang tuanya tau, bagaimana reaksinya?
"Zia, dengarkan baik-baik. Sekali pun kau mati, tubuh mu pun harus menjadi milik ku."
"Aku tidak peduli dengan hal lainnya. Aku akan secepatnya menceraikan Berlin, tidak peduli apa pun yang akan terjadi."
"Jangan!" Kenzia memohon dengan suara lirih. Ia merasa Ardhan sangat berbeda dengan Ardhan yang ia kenal.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin aku menceraikan Berlin. Maka, jangan pernah memutuskan untuk berpisah dengan ku."
Ardhan melenggang pergi, ia takut kemarahannya menguasai kewarasannya. Jangan sampai ia main tangan pada Kenzia.
Sesak dan perih, menusuk-nusuk hatinya, setiap ia bernafas rasanya sangat sakit. Hingga ia tidak ingin bernafas lagi.
"Tuan?!" Jack menyapanya. Ia berdiri di antara kedua pintu Apartement. Mendengarkan pertengkaran sang tuan dengan Berlin, ia menghindar. Begitupun dengan perdebatannya dengan Kenzia.
"Jack, aku ingin menenangkan pikiran ku."
Jack tak mampu menolak, kalau ia menolak yang ada tubuhnya menjadi sasaran empuknya. "Baik tuan."
__ADS_1
Sedangkan Kenzia, ia tidak bisa berfikir jernih. Ucapan Berlin sangat menakutinya. Ia takut, akan terjadi sesuatu pada Berlin.
Hoek
Hoek
Kenzia berlari ke kamar mandi, tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia membasuh mulutnya dengan air.
Hoek
Kenzia kembali ingin memuntahkan sesuatu. Namun, tidak ada yang ia muntahkan.
Perutnya seperti di giling yang ingin mengeluarkan semua isinya.
"Aku masuk angin, kepala ku terasa pening," ucap Kenzia.
Ia menarik tisu di sampingnya, mengelap mulutnya. Beberapa hari ini ia merasa tidak enak.
"Aku lapar,"
Selang beberapa saat, masakan tumisan itu ludes ia habiskan.
"Bagaimana dengan Daddy? apa dia sudah makan siang?" Kenzia bertanya-tanya.
Kenzia mencoba menghubungi Ardhan, namun hanya suara operator yang menjawab. Ardhan sama sekali tidak mengangkat panggilannya. "Apa Daddy benar-benar marah?"
Kenzia mondar mandir, ia terus menunggu kedatangan Ardhan. Menghubunginya, namun sama sekali tidak ada hasil. Ia juga mencoba menghubungi Jack, sama sekali pria itu juga tidak mengangkatnya.
Kepalanya selalu menoleh ke arah dinding, melihat jam kecil itu. Ia khawatir takut terjadi sesuatu, apa lagi Ardhan pergi dalam keadaan marah.
"Apa aku cari saja?"
__ADS_1
Melihat pukul 08.30 malam, Kenzia berinsiatif untuk mencari Ardhan. Entahlah, ia mencari kemana, yang penting ia berusaha mencarinya.
Kenzia mengambil jaket tebalnya, ia mengambil kunci mobilnya dan tanpa ia sadari, seorang wanita tengah berdiri di pintu Apartementnya. Iya, wanita itu ingin menangkap basah suaminya.
"Tante?!"
Kedua mata Kenzia membulat. Berlin langsung mendorong tubuh Kenzia agar membiarkannya masuk.
"Ardhan!!!" teriak Berlin.
Kenzia menyusul langkah Berlin, ia menjajarkan tubuhnya dengan Berlin yang memanggil dan melihat sekeliling Apartementnya.
"Tante, Daddy tidak ada di sini,"
Kenzia menghalangi Berlin, namun, wanita itu bersikap acuh. Dia menyingkirkan Kenzia ke samping. Berlin terus memeriksa ke dapur dan terakhirnya tempat tujuannya ke kamar Kenzia.
"Stop Tante, Daddy tidak ada di sini!" bentak Kenzia.
"Apa aku bisa percaya dengan wanita murahan seperti mu?"
"Minggir!"
Lagi-lagi Berlin mendorong tubuh Kenzia ke samping, dia membuka pintu kamar Kenzia. Masuk kamar itu sambil berteriak nama Ardhan.
Berlin melihat seisi kamar mandi, setelah menyusuri kamar tidur dan balkon.
"Sudah aku bilang, Daddy tidak ada di sini!" bentak Kenzia. Ia tidak suka, seseorang malah masuk tanpa permisi.
"Aku berhak mencari Ardhan di sini, terutama kamar perempuan seperti dirimu. Aku takut Ardhan di goda oleh mu."
Berlin menuju ke atas nakas, ia mengambil sebuah figura yang berisi foto Kenzia. Lalu melemparkannya ke lantai.
__ADS_1
prank
"Kalau kau tidak ingin aku hancurkan seperti ini, maka jauhi Ardhan!" kecam Berlin sambil menunjuk ke wajah Kenzia.