Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#45 : Surat yang di tinggalkan


__ADS_3

Deg


Deg


Deg


Jantung Ardhan berdetak lebih kuat, seolah ingin meledak dari tubuhnya. Di mata itu, di mata sahabatnya, ia melihat sebuah kemarahan dan ia merasakan ada sesuatu.


"Apa? apa Kenzia mengatakan sesuatu?"


"Iya,"


"Tidak,"


Mommy Aira menjawab tidak, sedangkan Daddy Argha mengiyakan. Mommy Aira pun menatap Daddy Argha dan pria itu malah mengangguk.


"Siapa yang benar?"


"Kenzia memang mengatakan sesuatu, tentang hubungan kalian."


Ardhan melihat kanan kiri, seakan ia kebingungan. "Apa yang Kenzia katakan?"

__ADS_1


Mommy Aira bangkit, "Kau laki-laki pengecut Ardhan!" teriak Mommy Aira. "Kau pengecut! kau pengecut!" teriak Mommy Aira histeris. Ia tidak bisa menepati janjinya karena hatinya terlalu sakit.


Daddy Argha memalingkan wajahnya dan Ardhan menunduk lekat.


"Maafkan aku Ai, aku bersalah. Aku tidak bermaksud .... "


"Gila! apa kau tidak waras! Kenzia dia anak yang baik, tapi kau menyesatkannya. Seandainya kau mengatakannya dari dulu," Mommy Aira menjatuhkan bokongnya dengan kasar dan jatuh dalam isakan tangisan. "Aku akan merestui mu, tapi kau sekarang menghancurkannya dan menghancurkan hati seorang ibu sekaligus sahabat mu."


Ardhan memutari meja kaca itu, dia bersimpuh di depan Mommy Aira. "Aku mohon, maafkan aku, aku .. Aku bersalah Ai,"


Dia berpindah, bersimpuh di depan Daddy Argha, pria itu dengan setia memalingkan wajahnya. Sangat enggan menatapnya.


"Argha, aku mohon maafkan aku, aku .. Aku tidak seharusnya melakukan ini, tapi percayalah. Aku sangat menyesal."


Ardhan memegang sebelah kaki Argha sambil mengangkat wajahnya. Air matanya bagaikan air hujan yang turun sangat deras.


"Maafkan aku Ar, aku sudah menceraikan Berlin. Aku ingin membuktikannya,"


"Dengan menyakiti Berlin begitu? apa dia melakukan kesalahan? apa dia berselingkuh?" Cecar Daddy Argha tertawa sumbang. "Kau tidak sebejat ini Ardhan."


"Aku mengecewakan mu, tapi jujur aku tidak bisa bersama Berlin."

__ADS_1


Daddy Argha berdiri, dia melangkah dengan kasar hingga tangan Ardhan terlepas, dia pun menarik kerah baju Ardhan. Menatapnya tajam dan sangat dalam.


Buk


Satu pukulan membuat pipi Ardhan memar dan keunguan, membuatnya menoleh tanpa ia inginkan. Namun, tangan Daddy Argha tidak melepaskan cengkraman itu.


"Kau sangat kejam Ardhan, kau mempermainkan wanita demi wanita lainnya. Kalau istri mu salah, seharusnya kau membantunya memperbaikinya, beri dia kesempatan kedua. Inilah sosok suami, bukan berarti dia salah kau tidak memberikan dia kesempatan."


"Tapi aku mencintai Kenzia, aku ingin bersamanya. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memberikan Kenzia pada ku?"


Daddy Argha terkekeh lucu, dia mendorong tubuh Ardhan dan Daddy Argha kembali tertawa. Hingga ruangan itu di penuhi gelak suara tawanya.


"Kau bermimpi? bangunlah dari mimpi mu? mana mungkin, aku," Daddy Argha menunjuk dadanya. "Memberikan Kenzia pada laki-laki brengsek seperti mu, tidak lucu Ardhan. Sangat tidak lucu, aku tidak akan pernah memberikan Kenzia pada mu. Bagaiman kalau suatu saat Kenzia melakukan kesalahan, dan kau meninggalkannya, tidak memberikannya kesempatan?"


Ardhan mendekat, kedua matanya memerah dan berair, ia kembali memohon dengan penuh penyesalan. "Aku berjanji, aku tidak akan melakukannya."


Mommy Aira pun diam, dia menatap kedua sahabat yang sudah bertahun-tahun. terjalin itu. Dia berlari ke lantai atas dan mengambil sesuatu di lacinya, sebuah surat yang di tinggalkan oleh Kenzia.


"Ini," Mommy Aira menyodorkan sebuah kertas putih yang di lipat itu, "Surat ini di tinggalkan Kenzia dan untuk mu."


"Pergilah dan baca surat itu, kami butuh ketenangan."

__ADS_1


Ardhan mengambil surat itu, dia menatap kedua sahabatnya dan berlalu pergi, ia tidak sabar ingin membaca surat itu.


__ADS_2