Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#37 : Topeng Kepalsuan Mirip Wajah Kenzia.


__ADS_3

Ardhan tersenyum, namun senyumannya langsung pudar ketika mendapati seseorang memeluknya dari belakang.


"Honey," seru Berlin. Dia mencium punggung Ardhan, lalu menyandarkan kepalanya. "Aku merindukan mu," ucap Berlin.


Ardhan membuka tangan yang melingkar itu, namun sia-sia. Berlin semakin mempererat pelukannya.


"Jangan menolak ku,"


Ting


Sebuah pesan masuk, di dalan pesan itu tertulis Kenzia menyetujuinya dan mengatakan selama sebulan jangan menghubunginya dulu. Dia juga mengatakan, dengan cara ini menguji kekuatan cinta mereka dan bisa di bilang bahwa cinta mereka akan kuat untuk di buktikan pada kedua orang tua Bella.


"Aku menyetujuinya, apa pun saran mu akan aku lakukan."


Ting


"Terimakasih honey, aku mencintai mu. Aku tutup dulu, jaga dirimu baik-baik emoticon love."


"Kenzia menyetujui, dan ingat aku tidak akan pernah mencintai mu."


Nyes


Berlin tersenyum, air matanya mengalir. Ia menghapus air matanya itu. "Aku akan. merebut mu Ardhan, akan aku lakukan apa pun caranya dan Kenzia." Tekad Berlin.


Pada malam harinya.


Berlin menyiapkan makan malam, tepat siang Dokter telah menyatakan ia sembuh dan boleh pulang. Ia pun bahagia, sekarang ia bisa memiliki Ardhan sepenuhnya. Tidak ada lagi bayang-bayang Kenzia.


"Honey, makan malam sudah siap."

__ADS_1


Ardhan menghentikan tangannya yang sedang bermain ponselnya. Dia pun melirik dan kembali melanjutkan.


Berlin duduk di samping Ardhan, menggenggam tangannya, lalu merebut ponselnya. Mematikan ponselnya, lalu menaruhnya di atas meja. "Kesehatan mu lebih penting Ardhan."


"Jangan mengganggu ku,"


Berlin tersenyum, sekali pun Ardhan emosi, ia akan sabar, menerima sikapnya. Inilah tekadnya berubah demi Ardhan.


"Berlin, lepaskan."


"Bukalah hati mu untuk ku, sedikit saja. Aku sudah pasrah kalau kamu memang milik Kenzia."


Ardhan luluh, dia melepaskan tangan Berlin dengan kasar dan berlalu ke ruang makan. Berlin tersenyum, dia kemudian melirik ponsel Ardhan. Mengotak atik ponselnya, sebuah kata sandi pun ia ketik, tanggal pernikahannya dengan Ardhan, kata sandi itu sama dan Ardhan belum merubahnya.


Zia, Aku dan Ardhan akan melakukan Dinner, jadi aku harap kamu jangan mengganggu ku


Setelah mengirimkannya, Berlin menghapus pesan itu dan kembali menaruhnya.


"Honey, maaf kalau masakannya tidak enak."


Ardhan menaruh piringnya, baru dua suap ia sudah merasa kenyang.


"Emmm, minumlah."


Ardhan melirik, tanpa rasa curiga dia meminum air itu hingga tandas. Baru beberapa menit ia merasakan tubuhnya pusing.


Berlin memakan nasinya, ia tersenyum melihat suaminya yang sedang tertidur pulas.


Minuman itu telah tercampur dengan obat perangsang. Malam ini ia akan menghabiskan malam indahnya dengan Ardhan.

__ADS_1


"Honey, kamu kenapa? aku bawa kamu ke lantai atas."


Ardhan pun menurut, ia tidak menolak permintaan Berlin.


"Honey, kamu istirahat saja. Aku akan keluar sebentar."


Tubuh Ardhan pun di baringkan dengan lembut. Berlin buru-buru mengambil sebuah lingerai berwarna merah dan sebuah kotak.


Rencananya berjalan dengan sempurna, Rio membantunya dengan sangat baik. Tidak sia-sia ia mengeluarkan uang banyak hanya demi benda itu.


Berlin membuka seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan sebuah pakaian yang seksi, memperlihatkan bentuk tubuhnya. Ia memolesi sedikit bibirnya dan mengambil sesuatu dalam kotak itu, sebuah topeng yang sama persis dengan wajah Kenzia.


"Kita akan lihat, seberapa besar kau menolak ku, kalau aku adalah Kenzia."


Berlin menggunakan topeng wajah itu dan melekat secara sempurna di wajahnya, kini wajahnya telah berubah menjadi Kenzia, ya... Kenzia milik Ardhan, dan suaminya itu tidak curiga dengan pertemuannya yang di lakukannya bersama Rio.


Berlin menutup pintu kamar mandinya dengan pelan, kemudian berjalan ke arah ranjang, melihat seorang pria yang tidak berdaya.


"Honey,"


"Lepaskan!" Ardhan menghempaskan tangan Berlin dengan kasar.


"Honey, ini aku Kenzia."


Ardhan langsung mendongak, dia menggeleng pelan. Karena pusing ia tidak ingin terjebak dalam bayangan palsu. Berulang kali ia menggeleng, di depannya memang Kenzia.


"Dad, ini Zia."


"Zia .... "

__ADS_1


"Iya," Berlin mendekat, perlahan wajahnya mendekat dan mencium bibir Ardhan.


__ADS_2