Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#12 : Menggoda


__ADS_3

Emmm


Kenzia merasakan sesuatu yang menyilaukan matanya. Ardhan yang sudah terbangun sejak tadi tersenyum. Dia menghalangi sinar itu agar tak membuat gadisnya terusik.


Kenzia malah menyelusupkan kepalanya ke dada Ardhan dan membuat sang empu kembali dengan wajah memerah. Dia merasakan di bawah sana kembali menegang.


"****!!"


Ardhan mana berani mengambil keduanya di saat Kenzia tengah tertidur pulas. Dia tidak mungkin mengusik tidur indahnya wanitanya itu. "Sayang." Ardhan membelai wajah Kenzia. Dia mengecup mesra wanitanya itu.


Kemudian beranjak turun dari ranjangnya dengan hati-hati. Ia akan menumpahkan sesuatu yang meresahkan itu di kamar mandi.


"Sayang."


Kenzia terkejut, dia mengingat kejadian tadi malam, dimana dirinya telah menyerahkan mahkotanya pada Ardhan.


"Sayang, hem." Ardhan duduk di tepi ranjang dengan rambut basah dan menggunakan jubah mandinya.


Tetesan air di rambutnya mengalir di wajah Ardhan, sangat tampan dan sexy.


"Sayang." Ardhan menyapa dengan lembut. Dia melihat Kenzia menutupi tubuhya dengan selimut putih itu.


"Daddy, apa kita....?"


Kenzia menjeda, karena tidak bisa mengontrol. Dia terbuai dengan sentuhan Ardhan.

__ADS_1


Bagaimana? Apa yang ia harus lakukan? Ia bingung, ia takut? Bagaimana kalau dia hamil? Bagaimana kalau dia menyakiti perasaan orang?


Semua pertanyaan berselawaran di kepalanya. "Dad..."


Ardhan mengerti keresahan Kenzia. Dia menggenggam kedua tangan Kenzia. "Jangan khawatir, aku akan secepatnya meresmikan pernikahan kita."


"Jangan gila Dad! Bagaimana dengan tante Berlin? Apa Daddy tega menyakitinya?"


Kenzia membuang wajahnya, dadanya naik turun karena takut. Semuanya kacau, seharusnya dia menghindari saja.


Ardhan kesal, Kenzia selalu saja mementingkan perasaan orang lain. "Lalu bagaimana dengan perasaan mu? Bagaimana dengan perasaan kita? Apa kamu akan membiarkan perasaan ini mengambang."


"Zi..."


Ardhan memohon dengan menatap Kenzia. "Biarkan Daddy yang memikirkannya, kamu tidak perlu memikirkan apa pun, masalah apa pun."


Inilah kelemahan Kenzia, dia selalu percaya pada Ardhan, entah apa pun itu, dia akan berada di depan dan mempercayai Ardhan.


"Baiklah."


Ardhan mengecup kening Kenzia. "Daddy sudah menyiapkan air hangat untuk mu, mau Daddy bantu ke kamar mandi?" Tawar Ardhan.


Kening Kenzia menyatu, dia mencium bau-bau meesum sang Daddy.


"Tidak, Zia bisa jalan sendiri."

__ADS_1


Kenzia mencoba menurunkan kedua kakinya. Dia berdiri dengan selimut yang melilit di tubuhnya. Baru selangkah saja, dua merasakan nyeri di arenanya.


"Apa sakit? Sayang," Ardhan terkekeh, dia berhasil menggoda Kenzia dan membuat anak itu bagaikan anak harimau yang menggemaskan, siap memangsa, namun wajahnya tak meyakinkan.


"Jangan mengejek ku, ini salah Daddy. Kenapa juga Daddy menggempur ku habis-habisan, pakai berbagai macam segala lah."


"Tapi kan sayang juga menikmatinya."


"Daddy!" Teriak Keniza.


Ardhan tertawa lepas, dia sangat suka kemarahan gadis kecilnya. Masa-masa yang ia rindukan.


Ardhan menarik Kenzia ke pangkuannya dan kembali menyerang bibirnya dengan rakus.


"Ini hukuman atas kekesalan mu pada Daddy."


"Daddy mengambil kesempatan dalam kesempitan, ih." Kenzia mendengus.


Ardhan memeluk Kenzia, mengecup pucuk kepalanya. "Daddy sangat mencintai mu, Zi.. Love you..."


"Love you to."


Kenzia tersenyum, lalu Ardhan membopong tubuhnya ke kamar mandi.


"Mau Daddy bantu?"

__ADS_1


"Cepat keluar Dad!" Bibir Kenzia mengerucut sebal dan Ardhan berlalu dengan kekehannya. Hari ini dia akan memasak makanan kesukaan Kenzia.


__ADS_2