Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#11 : Emm


__ADS_3

Ardhan melangkah ke arah balkon, dia lebih memilih menjauh. Karena takut Kenzia merasa tidak nyaman.


"Aku tidak bisa menjemput mu? Jack yang akan menjemputnya."


"Aku akan ke Prancis," ucap seorang wanita di sebrang sana. Dia sangat merindukan sentuhan Ardhan. Sudah lama dia tidak bermain dengan Ardhan.


"Aku masih ada urusan di Prancis, dan mungkin aku akan sibuk."


"Oh baiklah, setelah urusan mu selesai, jemput aku."


"Iya." Jawab Ardhan. Dia mematikan panggilannya sebelah pihak. Dia melangkah lebar menghampiri Kenzia dan kemudian memeluknya dari arah belakang.


"Dad..." Kenzia menaruh fotonya dan Ardhan. Entah semenjak kapan, Fotonya sudah ada di atas nakas dekat lampu tidur itu.


"Zi, Daddy sangat rindu."


Ardhan memutar tubuh Kenzia, dia langsung mencium bibir Kenzia dengan rakus, mencicipi setiap inci bibir lembut itu.


Selama beberapa tahun kebelakangan,  pikiran dan hatinya selalu di penuhi Kenzia dan Kenzia. Sekarang ia tahu alasan Kenzia meninggalkannya.


Kenzia pun terbuai, dia terlena oleh permainan lidah Ardhan. Dia memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Ardhan.


Ardhan menahan tengkuk Kenzia, perlahan langkah keduanya mundur. Ardhan membaringkan Kenzia dengan pelan. Dia terus mencumbui bibir itu, seakan tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


Nafas Ardhan naik turun, dia memberi jeda ciumannya agar Kenzia bisa bernafas. Di belai rambut Kenzia, lalu mengecup keningnya.


"Jadi selama ini kamu menyukai Daddy? Kenapa tidak bilang Zi."


"Aku ingin bilang, tapi Daddy mengatakan akan menikah dengan tante Berlin. Mana mungkin aku mengakuinya."


Ardhan beralih, dia duduk di tepi ranjang. Kenzia bangkit dan menatap wajah cemas pria itu.


"Ada apa Dad? Apa kamu menyesal mencium Zia?"


"Tapi bagaimana? Kamu tidak malu, laki-laki ini pantas menjadi Daddy kamu."


Kenzia terkekeh, "Ya ampun, jadi itu. Kenzia suka pria matang."


"Dad, bagaimana dengan tante Berlin?"


"Sudahlah, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya."


"Tapi aku tidak ingin menjadi orang ketiga," ucap Kenzia. Selama ini ia berusaha menjauh karena tidak ingin menyakiti hatinya, tapi hatinya sekarang sudah mendapatkan jawaban. Namun, masih ada lain hati yang tak ingin ia sakiti. "Aku wanita, aku tahu bagaimana sakitnya tante Berlin kalau mengetahui semua ini, hubungan ini. Aku tidak mau di cap sebagai orang ketiga."


Ardhan segera mencium bibir Berlin. Dia tidak suka dengan perkataan Berlin yang merendahkan dirinya.


"Kamu bukan orang ketiga, kita saling mencintai. Masalah Berlin biar aku yang urus. Kita hanya perlu membahagiakan hubungan kita."

__ADS_1


Ardhan menyatukan keningnya dengan kening Kenzia. Nafasnya memburu, sesuatu di bawah sana menegang.


"Zi.."


Tatapan Ardhan mendamba, Kenzia perlahan mencium bibir Ardhan. Keduanya terbuai.


Tangan Ardhan mulai bergerilya,  tangan nakalnya dengan lihai dan sukses membuat Kenzia mendesah.


******* itu merdu di telinga Ardhan. Secepat kilat dia membuka kemejanya. Setelah sukses membuang semua kain yang menempel di tubuhnya. Dia kembali mencium dengan rakus dan dengan cepat membuang kain yang melekat di tubuh Kenzia.


Sesuatu itu semakin menegang, siap bertempur di arena lapangan. Tubuh mulus dan putih, aroma manis bagaikan magnet yang membuat tubuhnya tak bisa menahan lagi.


Lidahnya bergerak, mulai mencium setiap inci dari tubuh Kenzia. Perlahan namun pasti, Kenzia merasakan sesuatu di bawah perutnya.


Sakit dan perih, ia memejamkan matanya, mencakar bahu Ardhan.


Pria itu mendiami miliknya, dia kembali mencium kedua aset milik berharga Kenzia.


Emmmm


Kenzia merasakan geli, namun nyaman. Dia mengusap rambut Ardhan sambil memejamkan matanya.


Cukup lama Ardhan berpindah-pindah merasakan kedua aset itu. Hingga merasa Kenzia mulai tenang. Dia mulai menggerakkan di bawah sana.

__ADS_1


Keduanya saling mendesah dan suara merdu itu memenuhi keheningan ruangan itu. Keringat mulai membanjiri keduanya. Hingga lamanya, Kenzia merasakan sebuah cairan memenuhi rahimnya.


__ADS_2