Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#42 : Selamat Tinggal Daddy


__ADS_3

"Kau bajingan! brengsek! bisanya hanya mempermainkan wanita," caci Rio dengan kesal.


Ardhan tak menggubris, dia meninggalkan Rio begitu saja dengan luka babak belur di wajahnya. Sedangkan Rio, ia bangkit sendiri dan menatap mobil hitam itu dengan perasaan berkecambuk.


###


"Kita mau kemana tuan?" tanya Jack. Dia mengintip wajah sang tuan tuan di balik kaca mobilnya. "Kita ke rumah sakit lebih dulu untuk mengobati tuan,"


"Tidak perlu, kau lanjutkan saja," ucap Ardhan. Dia memang tidak memiliki arah tujuan. Kepalanya sedang pening dan tidak bisa berfikir jernih. Dia pun merogoh ponsel di dalam jasnya, menekan nomor Kenzia.


Rasa kecewa berulang kali, nomor Kenzia tidak bisa di hubungi. Pikirannya pun seakan meledak. Ia bertambah takut kehilangan Kenzia, kalau tau ia telah melanggar janjinya.


"Mungkin nona Kenzia tidak ingin mengganggu tuan, sebaiknya tuan mencarikan hadiah saja untuk nona Kenzia," ucap Jack.


Perkataan Jack yang membuat akal Ardhan berangsur jernih, besok ia akan pulang sudah sepatutnya mencari hadiah untuk Kenzia.


"Benar, kau cari Mall terdekat," titah Ardhan.


###

__ADS_1


Di tempat lain.


Mommy Aira menangis tersedu-sedu sambil menatap foto putri semata wayangnya, beberapa jam yang lalu Kenzia telah meninggalkannya, untuk kedua kalinya ia harus berpisah demi sang anak dan keadaan yang mendesaknya.


Ia memeluk erat foto Kenzia, menangis dalam kepahitan yang ia rasakan.


"Sudahlah sayang, Kenzia pasti baik-baik saja. Jangan membuatnya kepikiran," ucap Daddy Argha. Ia merasa kasihan pada sang istri yang terus menangis mulai keberangkatan Kenzia dan saat pulang pun tidak berhenti menangis.


"Air mata mu akan mengering," godanya.


Bukannya tertawa, istrinya malah menatap tajam. Dia pun duduk setelah membawakan segelas air putih dan menaruhnya di atas nakas.


Daddy Argha mengusap pundak Mommy Aira. Bukan ini pilihannya, tapi keadaan yang membuatnya harus terpaksa membuat pilihan ini. Tidak ada orang tua yang ingin berpisah dengan putrinya.


"Tapi ini salah Ardhan,"


Dadanya semakin sakit, ia ingat jelas betapa rapuhnya putrinya Kenzia, putrinya memaksakan senyumannya, padahal hatinya terluka dan tidak mampu di obati oleh siapa pun.


"Aku tahu, tapi ingat pesan Kenzia."

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, dia menghancurkan putri ku, pertama memintanya istri kedua, dia anggap apa putri ku? apa dia anggap putri ku manusia yang tidak memiliki hati dan pikiran? dia anggap putri ku patung?"


Daddy Argha pun menarik istrinya ke dalam pelukannya. Ia sangat kesal bahkan ingin menghajar Ardhan, tapi saat ini ia menunggu kedatangan Ardhan. Apa laki-laki itu akan meminta maaf atau sebaliknya?


"Sudah, jangan menangis."


Dia memeluk dan mengusap punggung istrinya dengan lembut sembari mencium keningnya. "Ada bibi Ana yang menjaga Kenzia, aku yakin dia bisa menjaga Kenzia dengan baik."


Mommy Aira semakin menangis, seharusnya dia yang menjaga putrinya, bukan orang lain. Dia ibu kandungnya bukan orang lain.


###


Sedangkan Kenzia, air matanya terus mengalir deras, menatap ke luar. Padahal pemandangan di luar jauh lebih indah jika di pandang dari atas, namun ia tidak terlalu tertarik.


Hatinya terus berkata kuat, namun rapuh. Ia terus menangis, setelah ini, ia benar-benar bertemu dengan Ardhan. Dia akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Entah kapan akan bertemu dengannya kembali?


Ia berharap waktu membuatnya hilang dalam bayang-bayang Ardhan, mengobati rasa luka yang semakin menusuk dan mendalam.


"Selamat Tinggal Daddy,"

__ADS_1


__ADS_2