
Tepat dini hari, kedua mata itu terbuka. Kenzia bangkit, ia meregangkan otot lehernya, tengkuknya terasa pegal karena tidur di sofa dan berbantal kedua tangannya. Hingga, kedua tangannya itu merasa kesemutan.
Ia menguap sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, melihat ke dinding dan waktu telah menunjukkan jam 3.
Dia meraih gawai di atas meja itu, raut wajahnya langsung berubah kecewa. Sama tidak ada pesan dari Ardhan.
Kenzia menerka-neraka, dahinya berkerut. Ia mulai membayangkan Ardhan dan Berlin melakukan hubungan malam.
Ia menggeleng cepat, "Tidak, Daddy tidak mungkin melakukan itu, tapi kalau memang melakukannya, mereka juga berhak kan."
Kenzia beranjak dari sofa, mengambil tasnya, lalu menuju ke lantai atas. Berdiri di depan jendela sambil menikmati keindahan malam di bawah sana, ia kecewa Ardhan tidak menghubunginya sama sekali, selama ini Ardhan selalu menghubunginya meskipun hanya satu pesan.
"Apa hak mu, Zi ?" Air matanya mulai turun, dengan cepat menghapus air matanya. Ardhan bukan lagi sepenuhnya Daddy nya, sekarang dia sudah menjadi seorang suami, yang artinya milik orang lain juga.
"Daddy ... "
Kenzia mengelus perutnya yang masih rata, saat ini ia sangat menginginkan Ardhan di sampingnya, memeluknya dengan erat. Mungkin ini juga keinginan janin di dalam perutnya.
"Kau merindukan Daddy, ya sayang." Kenzia tersenyum dengan air mata yang mengalir kembali.
__ADS_1
Kedua kakinya mulai lelah berdiri. Dia beralih duduk di sisi ranjang, melihat ke arah samping, meraih tasnya dan mengambil sesuatu di dalam. Kedua alat yang menjadi buktinya, seandainya Ardhan tau, apakah dia akan bahagia?
Kenzia menggeleng, ia tidak boleh melakukannya. Ia tidak ingin merusak hubungan orang, sudah cukup baginya menjadi perusak.
"Benar, cinta ini memang salah. Seandainya aku menjadi Berlin, aku pasti ... aku pasti tidak akan memaafkan wanita itu."
Kenzia membuang kedua alat itu ke tong sampah. "Sudah tidak ada gunanya."
Walaupun hatinya hancur setelah membuat kedua alat pengecek kehamilan itu. Namun, ia harus melakukannya.
Tak terasa,sang surya telah muncul di balik langit jingga. Langit berwarna biru menghiasi gedung pencakar langit. Kini semua orang telah melakukan aktivitas paginya, sedangkan Kenzia. Selepas membuang kedua alat tes itu, ia tidur kembali. Masa kehamilannya saat ini, mudah sekali membuatnya lelah dan mengantuk.
Kedua kelopak itu kembali terbuka, ia menatap langit-langit di kamarnya. Lalu, menoleh ke atas nakas, mengambil gawainya kembali.
Kenzia mengambil jaket di Almarinya, memakaikannya ke tubuhnya. Ia melangkah dengan tergesa-gesa. Membuka pintu Apartementnya dan melangkah tepat di pintu Apartement sang Daddy.
Dengan tangan bergetar di selimuti rasa rindu dan ketakutan. Ia memberanikan diri menekan tombol itu.
"Kamu tidak tahu, kemarin ada kejadian yang mengejutkan. Seorang wanita nekat mengiris pergelangan tangannya." Ucap seorang wanita dengan rambut pendek dan menggunakan setelan pakaian kantor.
__ADS_1
Deg
Kenzia langsung menoleh, ia menatap kedua wanita yang tengah berbicara itu.
"Iya, aku rasa laki-laki yang membopngnya adalah suaminya. Mungkin mereka bertengkar, tapi aku sempat mendengarkan. Wanita di dalam gendongannya itu mengatakan Jangan meninggalkan aku."
Kedua wanita itu berhenti tepat di depan Kenzia dan menatap langsung dengan kebingungan.
"Anda mencari seseorang, kemarin malam orang yang berada di Apartement ini keluar, aku rasa mereka sepasang suami istri. Wanita itu bunuh diri, mengiris pergelangan tangannya." Ucap wanita yang berambut pendek, ia tanpa sengaja berpapasan dan ia sendirilah yang menekan tombol lift.
Deg
Bibir Kenzia seakan di lem sangat rapat, membuka suaranya saja sangat sulit.
"O-orang ini." Kenzia menunjuk ke Apartement milik Ardhan. "Pe-pemilik Apartement ini?"
Wanita berambut pendek itu mengangguk, "Sepertinya begitu. Kalau anda mencarinya, anda bisa menuju ke rumah sakit terdekat."
Wanita itu pun pergi sambil menggandeng lengan teman wanitanya, keduanya melanjutkan perbincangannya.
__ADS_1
Tuhan, apa yang aku lakukan?
Kenzia merasakan amat penyesalan yang sangat dalam. Gara-gara dirinya, Berlin terluka. Ia langsung masuk ke dalam Apartementnya, mengambil tas dan gawai, ia masukkan ke dalam tasnya. Saat ini ia ingin mengecek keadaan Berlin.