Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#20 : Pertengkaran


__ADS_3

Kenzia menunduk, wajahnya tak ingin ia tegakkan. Melihatnya menampar istrinya, sudah pasti seorang suami akan membela istrinya. Siapa dirinya? ia hanyalah wanita simpanan, bukan? julukan itu sangat pantas untuknya. Setiap saat, ia harus mempersiapkan diri dengan julukan itu.


"Hu.. Hu.. Hu.. " Berlin berhambur memeluk Ardhan di iringi isak tangisan.


Sedangkan pria itu, dia hanya menatap Kenzia dengan tatapan yang sulit di artikan, seakan dia meminta jawaban apa yang telah di lakukannya.


"Kenzia menampar ku, dia..."


Ardhan membawa Berlin keluar dari Apartement Kenzia. Ia tidak yakin, Kenzia melakukannya. Ia paham betul, sifat dari Kenzia. Anak itu tidak akan mengusik orang kalau tidak di usik.


"Ardhan, lihat! anak yang selalu kamu banggakan," ucap Berlin. Ardhan tidak berkata apa-apa, tapi, ia yakin. Ardhan mulai kasihan padanya.


"Sebenarnya apa yang kamu katakan pada Kenzia?" tanya Ardhan. Dia bersendekap, ia memang diam. Tetapi, bukan berarti dia harus diam saja setelah apa yang di lakukan istrinya.


"Kamu tidak mempercayai ku?" tanya Berlin. Dia merasakan sesak di dadanya. Baru kali ini ia merasakan Ardhan sudah berpaling.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang kamu katakan pada Kenzia? aku tahu betul sifat Zia." Tegas Ardhan.


"Tidak mau ngaku, masih ada CCTV," ucap Ardhan.


Berlin menghentikan tangisannya, bukan kesedihan lagi melainkan kekesalan. "Aku hanya menggertaknya saja,"


"Menggertak? kamu tidak menjelekkannya, bukan?"


Dahi Berlin semakin mengkerut, ia memalingkan wajahnya. Percuma saja ia membela, kali ini Ardhan tidak akan membelanya.


"Berlin, aku tahu betul Kenzia. Dia tidak akan mengangkat tangannya kalau kau tidak mengusik orang terdekatnya," ucap Ardhan.


Ardhan ingin tertawa, selama bertahun-tahun menikah. Kemana dia sebagai sosok seorang istri? kemana kewajibannya sebagai seorang istri. Pernah ia meminta Berlin untuk berhenti bekerja. Tetapi, wanita itu malah menolaknya mentah-mentah.


"Kemana Berlin yang selalu menurut? kamu mendekati ku karena harta atau cinta? harta, aku memberikan segalanya untuk mu, apa lagi cinta. Aku selalu mengutamakan kamu daripada Zia, tetapi apa? kau tidak menurut. Apa harta ku kurang?"

__ADS_1


Ardhan sangat lelah, ia lelah bertengkar. Bukan hanya sekali, tapi setiap kali pernikahannya selalu ada saja perdebatan.


"Aku ingin kamu berhenti jadi model. Apa susahnya merawat suami dan anak?"


"Aku tidak mau! Model adalah impian ku semenjak kecil. Kau tau itu," Berlin menatap tajam. Ia tidak mau di hina karena dirinya tidak cantik. Sewaktu kompetisi, ia pernah di remehkan oleh lawannya. Sehingga ia meminta bantuan Ardhan, dengan bantuan Ardhan sangat mudah baginya menjadi model.


Siapa yang tidak tahu dengan Ardhan? sosok yang disegani di kalangan bisnis. Perusahannya berada di berbagai negara. Walaupun sama dengan perusahan orang tua Kenzia.


"Inilah yang tidak bisa aku mempertahankan mu. Bertahun-tahun aku mengalah, kamu selalu mengutamakan pekerjaan mu. Aku ingin anak, kamu tidak mau malah menyuruhku mengadopsi anak. Aku ingin memiliki anak dengan darah daging ku sendiri Berlin."


Ardhan muak dengan obat kontrasepsi itu, Berlin selalu meminumnya saat akan berhubungan dengannya. "Umur ku tidak lagi muda, aku butuh pewaris."


"Apa susahnya mengadopsi anak? sama saja kan?"


"Ternyata ini sifat mu, aku akan mengajukan surai perceraian."

__ADS_1


Ardhan memutuskan untuk pergi. Kali ini ia tidak akan main-main. Percuma saja dia menasehati Berlin. Dia hanya ingin memiliki keluarga yang utuh, tapi Berlin sama sekali tidak ingin memberikannya.


Salahkah laki-laki yang ingin memiliki keluarga utuh? sama halnya dengan wanita? kebanyakan wanita selalu mempertahankan rumah tangganya karena ingin keluarga yang utuh, tetapi, tidak dengan Berlin. Justru malah mendorongnya pergi menjauh.


__ADS_2