Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#31 : Satu Bulan


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta, bandara Soekarno Hatta. Kenzia telah di sambut oleh Mommy Aira dan Daddy Arga. Kenzia memeluk satu per satu orang tuanya. Rasa bahagia yang semakin bermekaran dan rasa kerinduan yang langsung punah seketika.


"Sayang, aku sangat merindukan mu," isak Mommy Aira. Dia mencium seluruh wajah Kenzia. Rasa rindunya yang bertahun-tahun kini seakan telah lunas.


"Zia sangat merindukan Mommy," ucapnya tersenyum.


Daddy Arga pun mengelus pucuk kepala putrinya, kedua wanita yang paling berarti di hidupnya kini bersatu. Ia menghapus air matanya dengan jempol sebelah tangannya. "Anak Daddy,"


"Ya, sudah kita lanjut di rumah saja." sanggah Daddy Arga. Ia yakin Kenzia pasti lelah dan butuh istirahat.


Keduanya pun menaiki mobil hitam itu dan membelah kota Jakarta yang tampak sepi. Iya, Kenzia sampai di Bandara tepat dini hari, karena dia berangkat tepat jam 11.15 (Author cari di Google, soalnya gak tahu)


Sepanjang perjalanan ke istananya, ia bergelenyut manja di lengan sang ibu. Menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. Kehangatan ini lah yang ia rindukan, terpaksa selama ini ia harus menjauh karena sebuah hal, yaitu menghilangkan rasa cintanya pada Ardhan. Namun usahanya sia-sia, justru ia terjebak ke lembah hitam itu.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Mommy Aira.


Kenzia mendongak, air matanya tak bisa berhenti mengingat perasaannya yang begitu rendah, merebut kebahagiaan orang lain.


Kenzia mengelus tangan sang Mommy dan kembali menyandarkan kepalanya. "Zia rindu Mommy,"


"Sama, tapi kamu gak boleh nangis, kan sudah bertemu." Mommy Aira pun mengecup pucuk kepala Kenzia.


"Maafkan Kenzia, Mom." Lirih Kenzia, meskipun kata maafnya tidak bisa menghilangkan rasa kecewa sang Mommy, tapi ia berharap setidaknya meringankannya.

__ADS_1


"O iya kamu gak menghubungi Ardhan?" tanya Daddy Arga.


Kenzia menatap sang ayah, hatinya mengeluarkan banyak kesakitan setiap mengingat wajah sang pemilik nama.


"Tidak Dad, biar Kenzia yang menghubungi besok. Hari ini Kenzia masih lelah," ucapnya. Ia tak berniat sama sekali untuk menghubungi Ardhan.


......................


Ardhan menghubungi Kenzia beberapa kali, semalaman ia tidak tidur hanya ingin mengetahui keadaan Kenzia, apakah sudah sampai atau tidak? tapi kalau menurut penerbangan seharusnya sudah sampai.


"Kemana dia?" gumam Ardhan dengan seberkas kekhawatiran.


Dia mencari nama sahabatnya, Arga. Lalu menghubunginya, namun pria itu malah tak menjawabnya.


Sedangkan Berlin, dia merasa di abaikan oleh Ardhan. Tubuh Ardhan memang ada di sini, tapi jiwanya hanya tertuju pada Kenzia. Ia merasa hanya menjadi pasien pajangan saja di depan Ardhan.


"Mas, bisakah kamu meletakkan ponsel mu dan tidak menyebut nama kenzia?" tanya Berlin. Kepalanya ingin meledak melihat Ardhan yang mondar mandir. "Dia sudah dewasa dan tau melindungi dirinya? memangnya siapa Berlin, dia tidak terikat dengan mu."


Ardhan menoleh sekilas, lalu membuang wajahnya dan memilih melangkah ke arah sofa. Duduk dengan kasar dan menyandarkan lehernya.


"Aku meminta mu sebagai hak seorang istri untuk melupakan Kenzia. Kau yang meminang ku untuk menjadi pendamping hidup mu untuk di cintai."


Ardhan diam, telinganya hanya mampu mendengarkan sedangkan matanya tak bisa ia pejamkan.

__ADS_1


"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri."


"Aku sudah mengatakan, aku akan menikahi Kenzia dan menjadikannya istri kedua ku. Dan masalah hak, aku memberikannya pada mu. Apa yang selama ini kamu inginkan, aku sudah memberikannya."


"Aku tidak merasakannya, justru aku merasa kesakitan. Nafas ku seperti sengatan listrik yang menarik seluruh urat di tubuh ku."


"Lebih baik aku mati."


Ardhan langsung berdiri, dia menatap tajam Berlin. "Stop Berlin! jangan bertindak konyol, karena kau, aku harus mengesampingkan perasaan Kenzia. Selama ini kau kemana setelah aku memohon pada mu? setelah aku menemukan kebahagiaan ku, kau malah mengacaukannya."


"Aku kebahagian mu,"


"Bukan! kau wanita egois, aku selalu memohon pada mu, tapi setelah aku menyerah dan ingin mendapatkan kebahagiaan, kau malah datang menghancurkannya." Sarkas Ardhan. Berlin menebuh gendrang pertengkaran di depannya.


"Aku tau, aku salah, tapi saat ini, aku lah sumber kebahagian mu, suka atau tidak suka. Sebagai istri pertama, aku tentu tidak merestui hubungan kalian."


"Aku sudah melepas mu dan aku tidak menghalangi apa pun keinginan mu." Ardhan menjatuhkan bokongnya secara kasar.


"Aku akan menerima dia menjadi madu ku, dan tidak menerima perceraian di antara kita. Kalau sampai aku mendengarkan kata perceraian, kau hanya akan melihat mayat ku."


"Sekarang aku tanyak? kekurangan ku di mana? aku merestui kalian, aku tersenyum saat kamu mengkhianati ku, dan sekarang aku meninggalkan karir ku demi menjadi istri seutuhnya, tidak bisakah kamu melihat pengorbanan ku." lirih Berlin.


Ardhan menatap istrinya, sejujurnya ada rasa kasihan di hatinya melihat Berlin menangis.

__ADS_1


"Begini saja, aku butuh waktu bersama dengan mu. Satu bulan, satu bulan ini berikan aku kesempatan, kalau aku tidak bisa membuat mu jatuh cinta lagi, maka kamu bebas dengan Kenzia dan kita bercerai. Aku tidak akan mengganggu mu. Katakan pada Kenzia,"


__ADS_2