
"Satu bulan? kau kira aku percaya, huh!" Ardhan berdecih. Jangankan satu bulan, satu hari pun tidak mungkin baginya. "Aku tidak mau, satu hari pun tidak mungkin."
Ardhan pun meninggalkan Berlin, lama-lama ia bisa gila mendengarkan permintaan anehnya.
"Ardhan, ingat! aku tidak akan pernah melepaskan mu." Teriaknya, air mata bercucuran, ia memegang dadanya yang terasa sesak. Kenapa harus sesakit ini mencintainya?
......................
Sedangkan di tempat lain. Waktu sehari telah ia lewati, Kenzia berdiri di atas balkon dengan tatapan kosong. Sama sekali ia tidak menghubungi Ardhan. Ia hany butuh pikiran yang tenang, ia ingin memulai mengatakannya pada kedua orang tuanya, tapi ia tidak berani. Ia akan memulai dari mana?
Kenzia meremas pagar pembatas balkon itu, air matanya terus mengalir deras. Sesekali ia menepuk dadanya yang berdenyut nyeri.
"Oh, Tuhan .... Apa yang akan aku katakan pada Mommy?"
Kenzia memutar tubuhnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, duduk sambil menekuk kedua lututnya dan menyandarkan punggungnya ke pagar pembatas balkon. Tangannya memegang celah ukiran pagar di balkon itu, lehernya menoleh ke kanan. Ia bagaikan orang yang tak memiliki semangat hidup.
Sedangkan di lantai bawah, Mommy Aira dan Daddy Arga tengah berbincang hangat du ruang tamu. Mommy Aira menatap Daddy Arga yang tengah fokus pada koran di tangannya.
"Dad ... "
__ADS_1
"Hem," Daddy Arga hanya berderhem, tanpa enggan melihat wajah sang istri yang tengah serius menatapnya.
"Apa kamu merasa aneh, em," Mommy Aira menggaruk lehernya yang tak gatal. "Aku merasa Kenzia menyembunyikan sesuatu. Kamu lihat wajahnya, dia terlihat murung."
Daddy Arga menutup koran di tangannya, lalu melipatnya, kemudian menaruhnya di atas meja. Ia mencodongkan tubuhnya ke depan, lalu mengambil teh hangat itu.
"Aku merasa juga begitu Mom, coba kamu tanya pada Kenzia. Aku merasa gagal menjadi seorang ayah kalau putri ku satu-satunya bersedih."
Mommy Aira pun bangkit. "Iya, Dad. Aku akan menemui Kenzia."
Tanpa mengetuk pintu, Mommy Aira pun masuk ke dalam kamar Kenzia. Ia melihat ke arah ranjang, tidak ada siapa pun. Gorden bewarna putih itu pun melambai-lambai terbawa angin yang menyelinap masuk, pintu kaca pembatas balkon itu terbuka lebar, firasatnya mengatakan Kenzia ada di sana.
Mommy Aira pun melangkah dengan cepat, matanya menyapu seluruh arah balkon dan kedua matanya pun terbelalak melihat sang putri yang menangis tak berdaya.
"Zia ... kamu kenapa sayang?" tanya Mommy Aira, dia merangkup wajah Kenzia melihat ke arahnya. Bagaikan orang yang kehilangan jiwanya.
"Zia, kamu kenapa sayang?"
"Mommy, Kenzia salah, Kenzia salah, maafkan Kenzia." lirih Kenzia, tangannya menggenggam tangan sang Mommy yang merangkup kedua pipinya. "Maafkan Kenzia."
__ADS_1
Kenzia berhambur memeluk Mommy Aira, dan Mommy Aira pun memeluk erat sang putri.
"Iya sayang,"
Cup
Mommy Aira mencium pucuk kepala Kenzia, meskipun ia tidak tau alasan kesedihan putrinya, tapi ia tau jelas keadaan putrinya tidak baik, entah apa yang menyebabkan kesedihannya.
"Ceritakan pada Mommy sayang."
"Kenzia mengecewakan Mommy dan Daddy, Kenzia tidak pantas menjadi putri untuk Mommy dan Daddy, ini salah Kenzia, maafkan Kenzia." lirih Kenzia, dia menangis dalam kesakitan yang terus menggoroti jiwanya.
"Maafkan Zia Mom, maafkan Zia." Hanya itu yang mampu bibirnya ucapkan.
"Sayang, siapa yang membuat mu seperti ini? Mommy akan membalasnya," ucap Mommy Aira dengan tatapan membunuh. Ia tidak rela, satu-satunya putrinya menangis seperti ini.
"Zia.. Ziaa ... Hamil,"
Mommy Aira langsung membeku, ia tidak yakin dengan pendengarannya saat ini.
__ADS_1
"Maafkan Zia, Mom."