Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#9 : Merawat


__ADS_3

"Nona, tuan Ardhan terpaksa menikahi nyonya Berlin."


Wajah Kenzia tampak bingung, dia sama sekali tak percaya. Mana ada orang menikah tidak mencintai, ia merasa gumaman sang Daddy tadi untuk Berlin.


"Dia menyukai Nona, tapi dia takut Nona tidak menyukai Tuan. Mengingat persahabatan tuan, tuan juga tampak ragu."


Kenzia tertawa, entahlah, dia tertawa atau tidak, yang jelas saat ini ia tidak bisa mengepresikan, apakah senang atau tidak.


"Setelah semuanya terjadi, baru Daddy mengatakannya. Semuanya telah sia-sia Jack. Apa dia pikir Berlin merestui hubungan kami? Apa Berlin akan mau berpisah dengan Daddy?"


"Nona .."


Kenzia bangkit dari tempat duduknya, lama-lama ia merasa sakit hati. Pertama ia merasa telah di khianati, kedua di permainkan dan yang ketiga di bohongi. Lengkap sudah apa yang ia rasakan saat ini.


Kenzia melangkah lebar, namun menghentikan langkahnya. "Apapun yang terjadi saat ini. Jangan pernah mengatakan apa pun sama Daddy." Dia keluar dari Apartement Ardhan sambil meneteskan air matanya.


Dadanya terasa sesak, nafasnya terasa panas. Dia duduk di tepi ranjangnya, lalu menoleh ke arah laci. Di buka laci itu dan terlihat sebuah figura kecil.


Foto dirinya dengan Ardhan. Dia mengelus figura kecil itu dan tersenyum pahit. "Semuanya telah terjadi."


Satu pikirannya mengarah untuk bersama dengan Ardhan dan satu pikirannya jangan menerima Ardhan karena akan membuat Berlin sakit hati.


Dia menaruh figura itu dengan kasar di atas kasurnya. Lalu menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang dan mengambil sebuah bantal untuk ia peluk.


Malam ini, malam kegelisahannya. Hatinya dan pikirannya tidak tenang. Entah apa yang ia akan lakukan esok hari? Bagaimana pertemuannya dengan Ardhan?


Tak terasa jam terus berdetak, mentari menyelinap di sela-sela tirai di jendela kaca itu.


Aktifitas kendaraan mulai aktif, banyak para pejalan kaki yang juga mulai melakukan aktivitas.

__ADS_1


Drt


Kenzia menoleh pada Handphone di atas nakas itu. Sama sekali dia tidak berniat berbicara dengan Arkhan danĀ  Amel.


Untuk sekian kalinya, Kenzia mengangkat panggilan Amel.


"Maaf Mel, aku merasa gak enak badan. Kamu saja dan Arkhan yang pergi,"


"Haha?! Kamu sakit? Ya sudah, aku kesana sama Arkhan."


"Emm, jangan sekarang Mel, aku butuh istirahat," ucap Kenzia. Dia terpaksa berbohong pada kedua sahabatnya, dari pada sahabatnya tahu tentang kesedihannya.


"Oh, iya udah. Kita gak jadi jalan-jalan deh. Kita nunggu kamu sembuh."


"Iya." Kenzia mematikan handphonenya. Dia menaruh kembali benda pipih itu.


Uh


Kedua kelopak mata itu mulai bergerak, dahinya merasa ada suatu benda di atasnya. Ia gerakkan tangan kirinya dan mengambil benda itu.


Dia beranjak duduk, lalu menoleh dan melihat sebuah baskom.


"Aaa... Sakit!" Ardhan meremas kepalanya yang terasa berdenyut. "Huh, pasti karena minuman itu." Ia tidak mampu mengingat apa yang terjadi semalam, semakin ia mengingat. Otaknya seakan mau meledak.


"Siapa yang melakukannya?"


Ardhan menggelengkan kepalanya agar tidak terasa pusing. Dia menyingkap selimut tebal itu, lalu menurunkan kedua kakinya.


"Jack!" Panggil Ardhan.

__ADS_1


Ardhan terus mencari Jack dan memanggilnya.


Jack yang sedang tidur pun, seketika membuka matanya.


"Tuan!" Sapa Jack. Dia memapah Ardhan menuju ke arah sofa.


Pria itu pun memijat pelipisnya. Lalu melihat ke arah Jack.


"Apa yang terjadi semalam Jack?"


Jack, sang sekertaris yang setia. Dia tidak bisa berbohong pada Ardhan apa pun yang terjadi. Jack mengatakan semuanya, siapa yang merawat Ardhan dan juga pembicaraannya.


"Maaf tuan, saya lancang."


Ardhan tak bisa berkata apa pun, Kenzia sudah tahu, lalu ia harus bagaimana untuk menghadapinya?


"Jack, hubungi Kenzia. Aku ingin bubur buatannya," ucap Ardhan.


Jack menghubungi Kenzia, namun tidak di angkat. Dia beberapa kali menghubungi Kenzia, tapi tetap sama saja. Panggilannya di anggap angin lalu.


"Ambilkan handphone ku, Jack."


"Baik Tuan."


Jack mengambil handphone Ardhan di kamarnya, kemudian memberikannya."


"Daddy sakit Zi, Daday ingin makan bubur buatan mu. Daddy tidak akan makan kalau tidak bubur buatan mu."


Pesan Whatsapp itu terkirim, masih tanda centang. Dia berharap Kenzia luluh, karena selama ini Kenzia tidak pernah tega meninggalkannya dalam keadaan sakit.

__ADS_1


__ADS_2