
Berlin memakai topengnya yang sama persisi dengan wajah Kenzia, dia pun mengulas senyum licik dan mengelus pipinya.
"Ini salah mu Ardhan, kau yang mau aku melakukannya." Berlin tersenyum dengan aura kebencian. Dia pun keluar dari kamar mandi tepat di kamar Ardhan. Tadi ia meminta ijin pada Jack untuk bertemu Ardhan yang terakhir kalinya.
Dia pun mendekat ke arah pria yang menunduk, di depan dan di sampingnya terdapat beberapa botol.
"Ardhan," sapa Berlin tersenyum.
Ardhan tak bereakasi, dia masih setia menunduk dan melamun.
"Sayang," sapa Berlin dengan mesra. Dia mengangkut daku Ardhan, dan Ardhan terlena.
"Zi ... " Sapa Ardhan.
"Iya, ini aku Kenzia,"
Ardhan tersenyum senang, dia pun memeluk Kenzia dengan erat.
Dan Berlin membalasnya, dia memeluk erat Ardhan dan mengelus punggung kekarnya. Tersenyum licik dan air mata yang tanpa ia sadari mengalir di pipinya. "Aku yakin, kita akan bahagia."
__ADS_1
Dari dalam saku jaket hitamnya, dia mengambil sebuah benda tajam. Dia sejenak mencium Ardhan.
Dengan tangan gemetar, Berlin menusuk dalam, tepat di perut Ardhan.
"Ardhan," Berlin merangkup wajah Ardhan, nafas laki-laki tersendat-sendat. Sakit di perutnya terasa membuatnya mati rasa.
"Sa-sakit,"
Ardhan menunduk dan melihat ke perutnya, darah segar dan sebuah benda menusuk perutnya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat Kenzia. "Kau bu-bukan, Zi-zia."
"Kau akan bahagia, jika aku tidak bisa memiliki mu, maka Kenzia tidak boleh memiliki mu."
"Zia .... "
Berlin tetap tertawa bagaikan orang gila, suara yang menusuk dan menangis. Dia mundur dan menghapus air matanya. "Kau lebih baik mati Ardhan, kau lebih baik mati. Dengan begitu aku tenang, Kenzia, lihatlah, aku tidak akan pernah membuat mu bahagia."
Mendengarkan Berlin yang tertawa, Jack masuk ke dalam dan melihat majikannya.
Jack terkejut, yang di lihatnya bukan Berlin melainkan Kenzia. Dia pun menoleh ke ke arah lantai dan berteriak keras. Hingga kedua pria yang berjaga dan beberapa pelayan di rumah itu langsung berlari ke lantai atas.
__ADS_1
"Tuan, ya Tuhan ... "
Jack menepuk pelan pipi Ardhan, namun sama sekali pria itu tak bereaksi dan bibirnya malah membiru. Genangan darah di lantai itu semakin deras.
"Kau lihat, kau lihat, dia mati, dia mati."
"Tangkap wanita murahan itu!" teriak Jack.
"Tuan, kau harus kuat. Jangan sampai terjadi sesuatu. Aku mohon," Jack berkata dengan lirih dan ketakutan. Air matanya keluar dan memeluk Ardhan yang tak lagi membuka matanya.
"Aku berubah menjadi Kenzia."
"Kau jaga wanita murahan ini dan kau bantu aku membawa tuan masuk ke dalam mobil." Titah Jack, seorang pengawal pum membantu Jack dan pengawal lainnya memegang kedua lengan Berlin. Wanita itu terus meronta dan tertawa.
Jack mengebut, ia terus menyembunyikan klakson mobilnya dan terus melajukan mobilnya dengan cepat. Dia menekan sebuah nomor Daddy Argha.
"Tuan, tuan Ardhan mengalami penusukan. Saya sekarang membawanya ke rumah sakit." Jack mematikan ponselnya dan kembali fokus ke perjalanannya.
Dia menoleh ke belakang dan melihat sang tuan yang sedang di pangku oleh salah satu Bodyguardnya.
__ADS_1