
Kenzia tidur dengan pulas, waktu telah menunjuk jam 12 siang. Semenjak efek kehamilannya, ia mudah tidur dan lelah, apa lagi sang ibu yang terus menyuruhnya istirahat dan membuatnya bermalas-malasan.
Hoem
Kenzia terbangun dari tidur pulasnya, kedua matanya pun belum bisa melihat dengan jelas. Ia masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya, tapi karena ingin pipis, ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
"Uh lega," ucap Kenzia. Dia menutup pintu kamar mandinya dan kembali menuju kamar tidur.
Ia menyibak selimutnya dan hendak membaringkan tubuhnya, namun ada rasa penasaran pada benda pipih di atas nakas itu. Dia pun mengambil ponselnya dan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenali.
Karena rasa penasaran, ia pun mencoba membuka pesan itu. Dadanya tiba-tiba merasa sesak, beberapa foto Ardhan dan Berlin, lalu sebuah Vidio yang memperlihatkan Berlin mencium Ardhan dan keduanya sama-sama telanjang.
"Hah!"
Deg
Dadanya berdenyut nyeri, tubuhnya panas dingin. Lagi, air matanya mengalir dan tak bisa ia tahan. Rasa cemburu dan sakit hati meleburkan hatinya.
Sekalipun Berlin adalah istrinya, tapi hatinya masih sakit. Wanita mana yang tidak sakit ketika melihat laki-laki yang di cintai malah tidur dengan wanita lain.
"Dia istrinya, dia berhak."
"Kau harus kuat, Zia."
Ia mengelap air matanya kembali, lalu memblokir nomor itu, sekaligus milik Ardhan.
Dia pun beranjak dari tempat tidurnya dan akan menemui kedua orang tuanya. Kalau besok pagi ia akan berangkat.
"Mommy, Daddy!" panggil Kenzia.
"Bibi Ay, kamu melihat Mommy dan Daddy?" tanya Kenzia.
__ADS_1
"Nyonya dan tuan ada di gazebo bekang Non,"
Kenzia mempercepat langkah kakinya, di sana ia melihat Mommy dan Daddy yang bersantai. Semenjak ia pulang, Daddy nya pulang lebih awal.
"Daddy, Mommy,"
Sepasang insan itu menoleh, kedua mata Kenzia mengalir, dia sedikit membungkuk dan memeluk sang Mommy.
Daddy Argha pun memberikan kode dengan menggerakkan bibirnya, menanyakan keadaan Kenzia dan Mommy Aira menggeleng, ia tidak tau.
"Sayang, kau kenapa? hem, cerita sama Mommy, apa ini masalah Ardhan?"
Kenzia menggeleng, ia malu kalau mengatakan ia cemburu. Seorang istri berhak pada suaminya. Jadi ia malu untuk mengadukan perihal masalah hatinya.
Ia hanya bisa menggeleng dengan berlinang air mata.
"Daddy akan mendatanginya, kalau Ardhan membuat mu menangis. Daddy tidak akan pandang karena dia sahabat Daddy, kau satu-satunya putri Daddy."
Mommy Aira pun memeluk Kenzia. Dia mengecup kening putrinya.
"Daddy sudah memikirkannya, bibi Ay akan ikut dengan mu dan menjaga mu." Seru Daddy Argha.
"Besok, aku ingin besok," seru Kenzia. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Di sini, banyak kenangannya dengan Ardhan. Hatinya semakin terkikis dengan racun yang setiap harinya mengingat Ardhan. Ia lemah, sangat lemah, hingga ia ingin mati saja dari pada tersiksa, tapi sekarang sudah ada anaknya, setidaknya ia harus kuat demi anaknya.
"Baiklah, Daddy akan mengurusnya," ucap Daddy Argha. "Sebulan sekali Daddy akan menemui mu."
"Tapi berhati-hatilah, aku tidak mau Daddy Ardhan tau."
####
Di tempat lain, di sebuah Restaurant. Terlihat seorang pria yang memakai topi hitam dan jaket Jens. Dia duduk di temani jus jeruk di depannya. Ia pun mengetik sebuah pesan, di mana ia telah sampai.
__ADS_1
Dari arah pintu, terlihat seorang wanita. Dia melihat sekeliling ruangan itu dan melihat laki-laki yang postur tubuhnya sama dengan adiknya.
Wanita itu menghampirinya, tanpa basa-basi duduk di depannya. Laku-laki itu mendongak dan tersenyum, namun senyumannya itu hilang melihat luka di dahi sang kakak. Dia melihat kemerahan di kedua pipinya.
"Kak, wajah mu."
"Ardhan yang melakukannya, dia sama sekali tidak menganggap ku Rio, bahkan setelah kita melakukannya, dia masih ingat dengan Kenzia. Lebih sakitnya lagi, dia tetap tidak mau mengakui ku kalau aku hamil anaknya."
Brak
Rio tak bisa menerimanya, ia memang jahat dan memiliki pikiran licik pada kakaknya, tapi ia tidak sampai tega berbuat fisik pada sang kakak.
"Dimana dia? aku akan menghajarnya."
Berlin menggenggam tangan sang adik. "Tidak Rio, jangan menyakitinya. Aku akan bertahan sampai dia benar-benar mencintai ku. Batas waktu ku sampai 1 bulan, aku harus hamil."
"Bagaimana kalau kakak tidak hamil dan suami kakak tau semuanya? apa kakak akan tetap diam saja?"
Berlin mengangguk, biarkan Ardhan mengetahuinya, yang jelas ia telah melakukan sesuatu yang akan membuat Kenzia menghilang.
"Aku yakin, Kenzia pasti pergi. Dia tidak akan kembali lagi pada Ardhan. Sekarang yang terpenting aku harus hamil anaknya Ardhan."
Berlin menyandarkan punggungnya dan melepaskan tangan Rio. Pandangannya kosong dan menatap lurus ke depan. "Kau tau Rio, aku menyesal telah membuat Ardhan menjauh. Seharusnya dari dulu, aku mementingkan dirinya. Aku menyesal, aku sangat menyesal dan ingin mengulang waktu."
Rio mengepalkan tangannya, ia akan diam-diam menemui Ardhan dan akan memberikan pelajaran.
"Rio, jangan sampai kau melakukan sesuatu pada Ardhan. Kalau Ardhan terluka dan itu karena mu, aku tidak akan memaafkan mu, aku akan memutuskan hubungan dengan mu."
"Kakak!" seru Rio.
"Aku mohon, Rio. Ini kesempatan Kakak," lirihnya dengan nada tercekat.
__ADS_1