
Ardhan, pria itu menatap Berlin. Lalu, memalingkan wajahnya. Yang, benar saja, sekarang ia mencintai Kenzia, telah menjalin hubungan dengannya.
"Ar..." Berlin menangis tersedu-sedu, dadanya terasa sesak. Tanpa mengucapkan apa pun Ardhan meninggalkannya. Benarkah cintanya telah hilang? ia menepis semua kebenaran bodoh ini.
Ardhan menekan tombol Apartement Kenzia. Dia masuk dan melihat sekeliling ruangan yang gelap. Melangkahkan kakinya ke lantai atas. Di jam larut seperti ini, sudah pasti Kenzia telah tidur.
Dia membuka pintu kamarnya, samar-samar ia mendengarkan seseorang menangis. Mendekat ke arah ranjang, terlihat seseorang tengah membungkus tubuhnya dengan selimutnya.
"Zi..."
Kenzia menghentikan tangisannya, ia pikir halusinasi. Ardhan tidak mungkin kesini, karena sekarang ada Berlin yang menemaninya. Ia menutup kedua telinganya.
"Zia.."
Baru ia sadar, kalau Ardhan ada di dekatnya dengan menyentuhnya.
Kenzia menyibak selimutnya dan menatap laki-laki di depannya. "Kita akhiri saja hubungan ini, Dad."
Ardhan menahan panas yang menjalar di urat tubuhnya. Ia datang kesini, tidak ingin membahas perpisahan. Justru, ingin menenangkan dirinya. "Aku datang kesini, tidak ingin membahas apa pun."
"Dad, aku tidak mau menyakiti Berlin," ucapnya. Biarlah kehamilannya menjadi rahasianya. Ia memilih pergi dan mengalah saja. Bukannya karena ia takut, tapi dasar hubungan ini salah.
"Apa sudah cukup?!"
__ADS_1
Kenzia menunduk.
"Apa Berlin yang mengancam mu?" tanya Ardhan.
Kenzia menggeleng.
"Kalau begitu, jangan pernah membicarakan ini lagi."
Ardhan memutari ranjangnya, dia menyingkap selimut putih dan tebal itu, membaringkan tubuhnya, membelakangi Kenzia.
Kenzia menghentikan tangisannya, ia juga ikut berbaring memunggungi Ardhan.
Keduanya sama-sama terdiam, Ardhan. Pria itu belum bisa memejamkan matanya, sama saja dengan Kenzia. Banyak hal yang keduanya pikirkan.
"Zi...."
Ia mendekat dan memeluk Kenzia dari belakang. Ia mengecup pucuk kepala Kenzia.
"Aku tahu, kau belum tidur. Tidurlah, jangan memikirkan apa pun."
Kenzia memejamkan matanya, rasa hangat dan nyaman itu membuat matanya terasa berat.
Bagaimana caranya agar Kenzia tak meninggalkan aku? aku berharap Kenzia secepatnya hamil, dengan kehamilannya itu dia tidak akan meninggalkan aku batin Ardhan.
__ADS_1
Pagi pun telah menyapa, sinar matahari menyelinap masuk di sela-sela gorden. Seperti biasa, Kenzia akan menyiapkan sarapan. Ia mengelus perutnya, hari ini ia berniat untuk mengecek kebenarannya. Apakah ia hamil atau tidak? tapi, ia meyakini bahwa dirinya telah hamil.
Kalau ia memang hamil, ia akan mengatakannya pada kedua orang tuanya. Serapat-rapatnya ia menyembunyikan rahasia, suatu saat nanti pasti akan terbongkar.
Ia sudah mempersiapkan dirinya, kedua orang tuanya sudah pasti kecewa. Dengan bantuan kedua orang tuanya, ia yakin. Ardhan tidak akan menemukannya.
"Maafkan aku, Dad, Mom, aku mengecewakan mu."
Kenzia menaruh celemek ke gantungan di dinding dekat pojokan itu. Ia akan membangunkan Ardhan, karena waktu menunjuk waktu sarapan.
"Dad..."
Zia menepuk pelan pipi Ardhan dengan lembut. "Dad, bangun. Sudah waktunya sarapan." Kenzia merasakan kulitnya terasa panas. Dia memegangi dahi Ardhan dan memang terasa panas.
"Astagah! aku tidak tahu, kalau Daddy demam."
Emm
Ardhan membuka matanya, ia tersenyum. Menarik tangan Kenzia, hingga membentur dadanya dan memeluknya dengan erat.
"Dad, kau demam? kenapa tidak memberitahu ku?" tanya Kenzia. Dia meronta meminta di lepaskan untuk membawakan obat penurun panas.
"Aku tidak apa-apa, Zi.. Ini hanya panas biasa," ucap Ardhan tersenyum. Hari ini, Kenzia kembali lagi menjadi Zianya.
__ADS_1
"Zi, kau dekat dengan Daddy, tapi kenapa Daddy merasakan dirimu jauh?"
Maafkan aku, Dad. Karena aku memang berniat akan menjauh dari mu.