
Ardhan menghabiskan waktunya untuk menemani Kenzia. Tidak ada hari dan waktu tanpa berdua. Saling menghabiskan waktu bersama, berbagi canda tawa.
Setiap pagi, siang, sore dan malam. Keduanya selalu menghabiskan waktu bersama.
Kenzia dan Ardhan keluar masuk kafe, Restaurant dan Mall. Keduanya bagaikan keluarga yang harmonis. Mereka akan membuat kenangan indah di kota Paris ini. Kenangan yang tidak akan bisa di lupakan satu sama lainnya.
"Dad..."
Kenzia memiringkan lehernya ke kanan. Dia merasa geli dengan ciuman dan hembusan nafas sang Daddy. Ardhan memeluknya dengan erat.
"Tubuh mu sangat harum, Zi."
Deg
Kenzia tertawa, Ardhan menjilat lehernya.
"Stop Dad! Ini geli,"
Kenzia menoleh, Ardhan mengambil kesempatan. Dia mencium Kenzia dan kemudian menyandarkan dagunya ke bahu Kenzia.
"Ini yang selalu Daddy harapkan. Hari-hari bersama dirimu."
__ADS_1
Kenzia mengangkat wajahnya. Dia menatap langit malam dengan bertaburan bintang. Sang rembulan pun membentuk bulan sabit. Lampu berbeda warna itu menghiasi kota
Benar, saat ini dia merasakan kebahagian. Entah sampai kapan? Atau harus berakhir. Dia khawatir akan status sang Daddy.
"Dad, apa kita akan selalu bersama?"
Ardhan memutar tubuh Kenzia. "Apa kamu meragukan hubungan kita?"
Kenzia menunduk, antara ragu dan tidak. Hatinya bimbang, takut sewaktu-waktu hubungan ini adalah kesalahan.
Ardhan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia paham wanitanya mempermasalahkan hubungannya. "Aku akan menceraikan Berlin."
"Apa itu bisa membuat mu percaya?" Tanya Ardhan.
Ardhan kembali memutar tubuh Kenzia menghadapnya. "Dengar! Apa pun yang terjadi! Ini bukan salah mu."
Kenzia menatap Ardhan. "Berlin wanita yang baik, bagaimana kamu tega menceraikannya? Dimana letak kesalahannya? Setiap orang bercerai, yang di tanyakan adalah permasalahannya."
Ardhan membenarkan perkataan Kenzia, tapi dia ingin memperjuangkan Kenzia. Selama ini Berlin membuatnya kurang kasih sayang. Dia tidak bisa menghapus bayangan Kenzia. Alasannya menikahi Berlin hanya ingin menghilangkan Kenzia dari pikirannya.
"Aku menikahinya hanya karena ingin melupakan mu waktu itu. Aku tidak tahu..." Ardhan menjeda perkataannya. Dia selangkah memundurkan kakinya.
__ADS_1
"Baiklah, kamu masih ragu? Ingat Zi, kamu wanita pertama mengikat ku. Semua permainan ini adalah salah ku, biarkan aku yang menanggungnya."
Ardhan memutar tubuhnya, dia tidak ingin menekan Kenzia. Wajar kalau Kenzia sangat bimbang dengan pernikahannya.
"Maafkan aku Dad."
Kenzia memeluk Ardhan dari belakang. Kepalanya di sandarkan ke punggung lebarnya.
"Aku mencintai mu, Dad. Aku takut kamu akan meninggalkan aku."
Ardhan tersenyum, dia melepaskan ikatan tangannya di perutnya, kemudian berbalik menatap Kenzia. Memeluknya dengan erat.
Ardhan kembali mencium Kenzia, keduanya kembali terbuai dalam kehangatan. Hingga berakhir di atas ranjang. Keduanya pun memandu kasih dan melakukan ritual panas, saling meluapkan kenyamanan dan kenikmatan.
Gelora indah memenuhi sanubari keduanya. Ardhan dan Kenzia kembali menyatu dalam cinta yang saling membuat keduanya mendesah.
Lamanya memandu kasih, membuat keduanya kelelahan. Sedangkan pria itu masih tersadar dari kelelahannya.
Pikirannya pun sama, dia tak kalah bimbang, tapi ia yakin. Hubungannya akan mendapatkan jalan. Dia berharap sesuatu akan terjadi.
Selama ini yang Ardhan ketahui, Berlin hanya senang berfoya-foya. Pernah dia menyuruh Jack mengawasi Berlin dan Jack mengatakan hasilnya. Berlin tidak bermain mata. Hanya saja, wanita itu sering menghamburkan uangnya.
__ADS_1
Dia tidak bisa mencari celah untuk menceraikan Berlin. Haruskan dia diam saja dan membuat hubungannya mengalir begitu saja? Tapi ini bukan tipenya yang menyerah.
Sekalipun dia menjadi kejam danĀ seorang iblis, dia tidak akan melepaskan Kenzia.