Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#49 :


__ADS_3

Kenzia menggenggam tangan Ardhan, ia ingat tangan ini lah yang mengelus rambutnya, membelai pipinya. Kini tangan itu lemah tak berdaya. "Dad,"


Kenzia terus terisak, satu hari ia sampai tidak sampai dua hari, ia kembali lagi karena mendapatkan kabar dari sang Mommy dan Daddy nya kalau Ardhan mengalami kecelakaan. Bahkan Jack menceritakan semuanya apa yang terjadi pada Ardhan dan membuatnya merasa bersalah.


"Aku minta maaf, bangunlah."


Kenzia mencium tangan Ardhan, entah yang ke berapa kali, tapi ciuman itu ingin membangunkan Ardhan.


"Coba kamu rasakan Dad," dia mendekatkan tangan Ardhan ke dalam perutnya. "Ini anak kita, bukankah Daddy selalu mengatakan ingin anak?"


Kenzia semakin menangis tersedu-sedu, dia mendekat dan mencium kening Ardhan. Melihat tubuhnya yang di penuhi oleh beberapa selang, ia merasa tidak kuat.


Orang yang ia cintai terbaring lemah. Kenzia membisikkan sesuatu, kemudian tersenyum dan ia menghapus air matanya.


"Kenzia," sapa Mommy Aira. Dia mengantarkan Kenzia ke rumah sakit untuk menemui Ardhan. Dia memang kesal pada Ardhan, tapi di masa kritis seperti ini ia tidak bisa melupakan kebaikan Ardhan begitu saja dan seorang ayah untuk cucunya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Mommy Aira. Kenzia menggeleng dan Mommy Aira membantu Kenzia duduk.


"Sayang, kau harus kuat. Jangan sampai keadaan ini membuat mu stres, ingatlah kalau kau sedang mengandung. "Nasehat Daddy Argha. Dia tidak mau putri dan cucunya terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


"Benar nyonya, jagalah kesehatan anda. Saya yakin, tuan pasti tahu dan sangat merindukan nyonya," ucap Jack.

__ADS_1


"Jack di mana tante Berlin?" tanya Kenzia.


"Dia sudah gila nyonya, dan aku sudah membawanya ke rumah sakit jiwa."


"Apa adiknya tau?"


"Tidak nyonya, aku membiarkan saja, yang terpenting dia di awasi oleh beberapa pengawal ku yang berjaga ketat di sana."


"Dia memang sudah gila, tidak waras, sampai-sampai dia memikirkan hal untuk membunuh Ardhan, bahkan membeli sebuah topeng yang sama dengan wajah Kenzia. Seandainya aku di sana, aku sudah mencekiknya." geram Mommy Aira.


"Nyonya, saya sebagai asisten tuan. Benar-benar sangat meminta maaf."


"Kau tidak salah Jack,"


"Tapi ya sudahlah, semuanya telah berlalu. Aku sebagai seorang ibu menerima semua keputusan mu."


"Benar, kami sebagai orang tua mendukung mu."


Mommy Aira tersenyum, Kenzia membaringkan kepalanya di bahu sang Mommy. Tempat sandar yang sangat menenangkan perasaannya.


Berhari-hari telah berlalu, kini tepat satu minggu Ardhan belum sadar dan hal itu membuat Kenzia beserta keluarganya semakin cemas. Tiap hari, Kenzia meluangkan waktunya untuk menemui Ardhan, menemaninya bercerita dan mengatakan hal positif untuk menarik keinginannya.

__ADS_1


"Pagi Daddy," sapa Kenzia. Dia mengecup pipi Ardhan kemudian keningnya. "Jangan terlalu lama tidur Dad, hem."


Kenzia duduk di kursi samping dekat Ardhan. Dia meraih tangannya dan menciumnya beberapa kali.


"Tidak mau bangun Dad, hem. Apa tidak capek seperti ini terus?"


Kenzia mencium tangan Ardhan, bukan saat ia menangis, tapi air matanya selalu tak bisa ia tahan.


"Bangun Dad, aku tidak kuat melihat Daddy seperti ini."


Kenzia pun mengecup telapak tangan Ardhan berulang kali. Dia memejamkan kedua matanya, tanpa ia sadari kelopak mata Ardhan perlahan terbuka. Samar-samar ia mendengarkan seseorang menangis.


Dia menyapu pandangannya, lalu menoleh seorang wanita tengah menunduk dan menangis, dapat ia rasakan tangannya telah basah.


"Zi ... "


Kenzia menghentikan tangisannya, telinganya mendengarkan sebuah suara yang ia kenali. Ia langsung menoleh dan melihat Ardhan tersenyum di balik bibir pucat.


"Oh Tuhan .. "


Kenzia pun langsung mencium pipi Ardhan, lalu mencium keningnya. "Daddy sudah sadar, aku panggilkan Dokter," ucap Kenzia. Dia pun langsung keluar dan berteriak pada suster yang lewat.

__ADS_1


#maaf ya kak, aku tamatin saja. Soalnya update yang ini pasti jarang dan novel satunya masih on going, seribu kali maaf ya kakak.


#Silahkan Mampir ke Gundik Sang Mafia


__ADS_2